Kisah Tak Berjudul | Part I

Poster by Illah_Illuth

PART I

-SHAFIRA POV-

“Kyaaaa! Gantengnya!” Terdengar keriuhan dari bangku belakang. Aku menoleh. Semua ini benar-benar menyebalkan. Cewek-cewek sekelasku termasuk kedua sahabat baikku, Icha dan Tata tampak sedang asyik menatap layar laptop dengan wajah yang antusias.

Setiap beberapa detik pasti mereka berteriak. Teriakan mereka jelas mengalahkan teriakan balita yang menonton film Arwah Goyang Kerawang. Kalau tidak berteriak ‘GANTENGNYA!’, ‘KERENNYA!’, atau ‘KIUTNYAA!’, pasti mereka akan meneriakkan… hmm… nama-nama seperti… Lesung? Pasung? Gayung? Ah, masa bodoh! Pokoknya mereka meneriakkan nama-nama orang entah dari negeri antah berantah mana yang jelas sangat sulit untuk kuhapal. Yang paling sering mereka teriakkan seingatku ada sung-sungnya gitu. Dan jujur teriakan sukses membuatku tuli.

Tanpa menghiraukan mereka, aku kembali menoleh ke arah buku Biologiku. Aku harus dapat menembus olimpiade ini.

“Fira!” Aku menoleh ke belakang. Dengan mata yang masih dipakukan ke arah layar Icha mengibaskan telapak tangannya memanggilku. “Kamu harus lihat dia!” Icha menarik tanganku dengan membabi buta tanpa tahu kalau kakiku menyenggol-nyenggol kaki kursi. “Lihat! Cowok yang ini ganteng kan?” Icha menunjuk seorang cowok dengan poni panjang sebelah mencapai mata. Orang ini sarap ya? Mana mungkin dia bisa ngeliat kalo matanya ditutup rambut begitu! Ingin rasanya aku mengunduli cowok itu.

“Nggak. Siapa dia? Dia masih bisa lihat kah kalo matanya ketutupan begitu?” Tanyaku tanpa dosa. Hampir semua teman-temanku melirik ke arahku dengan tatapan sinis seolah-olah aku menginjak kuburan kakek mereka. “Ke-kenapa?” Tanyaku.

“Fira! Kamu kampungan sekali! Itu hairstyle! Dan itu buat dia semakin ganteng tau!” Seru Tata disebelah Icha. Matanya tiba-tiba membesar. “Icha! Lihat itu! Aa!! Yesung Octopus Dance!!!!!” Serunya berteriak histeris lagi. Aku buru-buru menutup telingaku. Karena tak beberapa lama Icha meng-koor teman-teman lainnya untuk berteriak. Bisa gila aku disini.

Aku menoleh ke arah layar. Penasaran dengan apa yang sudah membuatku tuli. Apa sih yang mereka kagumkan dari seorang cowok yang menari seperti cacing kepanasan itu? Kulihat cowok itu menari-nari abstrak kombinasi dari jaipongan dan poco-poco. Tangannya tampak bergelantungan seperti tentakel gurita. Eww…

“Uaah… pacarku ini memang ganteng banget ya.” Ujar Tata masih menatap layar laptop. Icha meliriknya.

“Apa kamu bilang tadi?! Enak aja! Yesung tuh pacarku!” Protes Icha.

“Sejak kapan? Jelas-jelas Yesung cocoknya sama aku!” Bantah Tata tak mau kalah. Terjadilah perang adu mulut yang sebenarnya sama sekali tidak penting.

Shut up!” Seruku keras. Mereka berdua terdiam. “Kalian ini kenapa sih? Ribut banget tau gak! Kalian berantem sampe jelek juga si siapa namanya? Oya, Pasung itu nggak akan mau sama kalian!”

“YESUNG!!!!” Seru Icha dan Tata bersamaan. Mereka tampak jengkel denganku.

“Yah, siapalah itu.” Ujarku kembali berjalan ke mejaku.

Sejak Han Ha Na, murid cewek baru pindahan dari Korea masuk ke sekolah ini, hampir seluruh teman-teman sekelasku menjadi kpopers. Setiap hari yang mereka bicarakan hanya Super Junior, Rawon, Pasung, dan teman-temannya itu. Dan tentu saja hal itu tidak masalah selama mereka tidak menggangguku. Tapi setiap hari mereka berteriak-teriak seolah-olah mereka nonton film horror yang hantunya bakalan keluar kalo nggak teriak. Dan jelas sekali kalo itu menggangguku. Aku jadi tidak konsentrasi belajar dan mengetik cerita. Dan yang lebih menyebalkan, apapun yang kami lakukan pasti mereka hubungkan dengan cowok-cowok itu. Misalnya:

            Saat itu kami sedang menonton film di bioskop. Aku berada di tengah, Icha dan Tata duduk disebelah kanan dan kiriku.

            “Hei! Coba lihat! Cowok yang itu mirip banget ya sama Yesung!” Ujar Icha tiba-tiba.

            “Hah? Matamu rusak ya? Jelas gantengan Yesung lah!” Tata tidak setuju.

            “Beneran deh! Rambutnya sama!”

            “Nggak!”

            “Iya!”

            “Dia lebih mirip Sule.” Ucapku tanpa dosa dan mereka berdua langsung melempariku dengan popcorn.

Atau yang ini:

Kami bertiga sedang ada di toko hewan, mengerjakan tugas observasi mengenai hewan-hewan yang ada disana.

            “Icha! Coba lihat! Kura-kura ini lucu banget deh!” Pekik Tata sambil memanggil Icha. Aku, yang meskipun tidak dipanggil tetap datang menghampiri Tata.

            “Iya lucu banget! Mirip ddangkoma yah!” Komentar Icha.

            “Apa? Dadangkomeng? Apa itu?” Tanyaku dengan tampang bego.

            “Itu kura-kuranya Yesung!” Seru Tata. Kini dia menoleh ke arah Icha. “Nggak ah! Ddangkoma lebih besar lagi tau!”

            “Tapi warnanya sama!” Protes Icha tak mau kalah. Akhirnya mereka membuat toko binatang jadi ribut sekali.

            “Dek? Jadi beli kura-kura ini?” Tiba-tiba seorang pegawai menghampiri kami. Tata dan Icha langsung diam dan beranjak pergi meninggalkanku dengan wajah tanpa dosa. Sialan! Jadi aku yang harus malu.

Pokoknya nggak ada deh, sehari tanpa Super Junior!

***

            “FIRAAAAA!!!!!” Tiba-tiba terdengar suara jeritan Icha dan Tata dari belakang. Aku menoleh. Mereka berdua tampak sedang berlari menghampiriku. Aku yakin sekali pasti berita yang mereka bawa tentang Super Junior.

“Apa? Pasti tentang Super Junior lagi kan?” Tanyaku cuek. Mereka berdua tampak sedang mengatur nafas.

“Kamu tau? Minggu depan SUPER SHOW 4 di Indonesia!!!!! Kyaaaaa!!!! Aku bisa lihat Yesung sama Siwon!!!!!” Seru Icha histeris. Aku heran kenapa manusia-manusia seperti dia kalau berteriak bisa sampai menembus kulit.

“Iya loh, Fir. Lalu, aku sama Icha ikut kuis di twitter dan kita berdua dapet gratis tiket nonton SS4!!!!!” Jerit Tata tak kalah keras. Telingaku memang tidak pernah aman kalau berada bersama 2 orang ini.

“Ya terus? Kalian mau nonton kan? Selamat deh.” Jawabku melipat tangan didada.

“Ya! Kita mau nonton!” Jawab Tata. “Bersama kamu!”

“Apa!!!???” Tiba-tiba aku terkena serangan jantung. Sejak kapan aku hobi berdesak-desakan hanya untuk melihat cowok-cowok yang sampai sekarangpun namanya belum kuhapal? “Nggak! Aku nggak mau! Lagian kan aku nggak punya tiketnya dan sama sekali nggak berniat beli!” Jelaslah. Buat apa aku menghamburkan uang cuma buat beli selembar kertas yang ujung-ujungnya juga masuk tong sampah.

“Tenang aja…” Tata mengorek-ngorek tasnya. “Kita berdua udah patungan kok beliin kamu tiket! Karena aku sama Icha kebetulan udah punya tiket, jadi nggak masalah lah kalo kita beliin kamu! Nih!” Tata menunjukan sebuah kertas. Tampaknya itu bukan tiket nontonnya. Hanya voucher untuk menukarkannya. Ampun deh, kedua temenku ini nggak ada kapoknya apa maksa aku supaya suka mereka juga.

“Kalian ngapain sih buang-buang uang buat kayak gini doang? Kalian sudah tau kan aku nggak suka kpop dan Super Junior. Ngapain kalian beliin aku?”

“Kita berdua yakin kalo kamu kita suruh beli sendiri pasti nggak mau. Jadi kita beliin deh. Aku yakin banget kamu nggak akan nolak. Ini mahal loh, Fir. Susah lagi nyarinya. Kamu gak kasihan sama kita?” Tanya Tata dengan wajah yang dibuat-buat. Tapi sialnya mereka benar. Mereka berdua adalah sahabatku dari SMP. Tidak mungkin aku menolak pemberian mereka apalagi mahal.

“Plis yah, Fir… nonton sama kita… kamu cukup duduk dan liat mereka aja kok. Nggak usah ikutan teriak-teriak. Kita juga milih tempatnya di Super Fest. Nggak bakalan terlalu berdesakan deh, janji.” Icha membentuk huruf V dengan jari telunjuk dan tengahnya. Kalau mereka bukan sahabatku aja…

“Iya-iya.” Jawabku kesal. Mereka berdua bersorak kegirangan. Dua ELF aja sudah membuatku tuli stadium 2. Apalagi ribuan ELF di stadion nanti. Hh… Tuhan, dosa apa yang telah hamba perbuat…

***

            “Kamu milih Bahasa apa, Fir?” Tanya Ha Na saat Bu Ariana sudah keluar dari kelas. Aku memandang kertas pilihan dengan tampang frustasi.

Tadi, Bu Ariana memberi tahu bahwa seluruh murid di sekolah ini harus bisa berbahasa asing, tidak hanya Inggris dan Indonesia. Karena status sekolah kami sebagai Sekolah Internasional, kami harus mengikuti kursus bahasa yang disediakan sekolah. Kalau jelek dalam nilai bahasa bakalan nggak naik kelas. Dan untungnya mereka nggak memaksaku untuk bisa seluruh bahasa di dunia. Bahasa Inggris aja susah payah aku pelajari apalagi bahasa lain!

“Nggak tau nih! Nggak ada pilihan Bahasa Inggris kah?” Ujarku. “Kamu sendiri apa, Han?” Tanyaku pada cewek Korea di sebelahku ini. Dia memandang kertas pilihan.

“Ya korea dong!” Ucapnya dengan senyum mengembang. Sialan! Dia kan dari Korea mana mungkin dia nggak bisa bahasa Korea!

“Kamu curang! Kamu kan dari Korea mana boleh milih bahasa Korea juga!” Seruku sebal. Nilainya pasti bakalan bagus.

“Emang ada larangannya? Nggak ada kan? Bu Ariana juga bilang boleh kok. Yee!” Ha Na menjulurkan lidahnya ke arahku. Jujur sejak pertamakali Ha Na masuk meskipun Bahasa Indonesianya lancar, tapi aku tidak pernah suka logatnya. Pantas saja aku tidak pernah cocok dengan sesuatu yang berbau Korea.

“Kenapa kamu nggak milih bahasa Korea juga, Fir? Gampang kok. Lebih gampang lagi dari bahasa Inggris menurutku.” Tawar Ha Na. Aku mendelik.

“Ya gampang lah menurutmu! Itu kan memang bahasamu!” Ujarku kesal. “Aku milih bahasa Prancis aja kali ya?”

Ha Na mengangkat bahunya dan langsung pergi meninggalkanku. Dan sekarang giliran Icha dan Tata yang datang.

“Kamu milih kursus bahasa apa?” Tanya Icha. “Kita berdua bahasa Korea loh!”

“Iya, terus kenapa? Kalian mau nyuruh aku ikut bahasa Korea juga?”

Kedua bocah itu mengangguk. Aku menghembuskan nafas. “Hhh… kalian berdua itu nggak kapok apa ya? Udah tau aku nggak ada cocok-cocoknya sama Korea masih aja nyuruh aku belajar bahasa Korea.” Protesku.

“Tapi bahasa Korea itu gampang, Fira. Dijamin deh nilaimu bagus! Lagian kan kalo nanti kita ketemu Super Junior kita bisa bicara lancar sama mereka!” Ujar Icha.

“Nggak. Aku nggak tertarik sama sekali. Apa gunanya aku ngomong sama Super Junior?” Tolakku.

“Yesungdahlah… sembarang kamu aja.” Ujar Tata. Tadi dia bilang apa? Yesungdahlah? Oh cowok satu itu memang sudah menyebarkan virus yesungnisme.

“Aku nggak ngerti kenapa sih kalian begitu tergila-gila sama Super Junior? Mereka nggak lebih dari manusia biasa loh padahal.” Tanyaku. Dari dulu ingin sekali aku menanyakan hal ini.

“Justru itu.” Tata melanjutkan. “Justru karena mereka manusia biasa, kita ngefans sama mereka!” Ujarnya. Aku menyerngitkan alis. Nggak masuk akal banget alasannya.

“Maksudnya?”

“Jadi gini loh, Fir…” Sekarang Icha yang berbicara. “Mereka itu beda dari idola lainnya. Mereka itu punya talenta dan bakat yang bener-bener hebat. Dan yang kamu harus tau mereka bukan artis yang nemu di mall langsung debut loh. Mereka butuh perjuangan besar tau nggak supaya bisa jadi seterkenal ini. Mereka tranee bertahun-tahun tau! Bahkan, kamu tau nggak, Yesung itu sempat frustasi karena nggak debut-debut dan sudah pengen keluar dari manajemen mereka. Mereka itu hebat. Mereka lebih dari sekedar manusia biasa. Dan yang paling aku suka dari mereka adalah cara mereka memperlakukan fans. Nama fandom mereka aja ELF yang kepanjangannya Everlasting Friends. Mereka nganggep kita semua itu sahabat. Bukan fans atau penggemar. Mereka sangat mencintai kita. Mereka menangis untuk kita, mereka tersenyum untuk kita… dan banyak juga pengorbanan mereka untuk ELF. Kamu tau? Paling lama mereka tidur itu hanya 4 jam. Itupun kalau mereka tidur nyenyak. Kalau tidak? Meskipun capek tapi mereka tetap menghibur ELF yang menonton show mereka. Oh, daebak Suju…”

“Tau darimana kalian kalau mereka mencintai kalian? Tau darimana kalian kalau mereka tidur cuma 4 jam? Paling itu cuma akal-akalan fanbase aja supaya kalian jadi ELF.” Ujarku cuek.

“Fira! Meskipun kamu bukan ELF jangan bilang gitu dong! Hargain mereka! Lagian juga kamu tau darimana kalo itu cuma akal-akalan mereka?” Protes Tata.

“Pikir secara logis dong! Kalian pikir mereka tahu darimana kalau Super Junior cuma tidur 4 jam? Mereka datang ke kamarnya? Oke aku percaya kalau itu benar.” Jawabku. Aku memang tidak mudah mempercayai sesuatu.

“Sudah-sudah! Aku nggak mau kita bertiga berantem cuma gara-gara hal ini.” Icha menengahi pertengkaranku dengan Tata. “Aku nggak bermaksud membela Tata, cuma, plis hargain idola kita, Fir.” Ujarnya. Kalo Icha yang ngomong pasti aku nggak bisa menolak.

“Iya-iya. Aku minta maaf.” Tuturku sambil menjabat tangan Tata. Tata tersenyum ke arahku.

***

            Seminggu… dua minggu… akhirnya terlewati. Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh ELF Indonesia. Ya, hari dimana Super Show 4 digelar. Super Show 4 digelar di Mata Elang Internasional Stadium, Ancol.

Icha dan Tata makin heboh saja. Mereka bingung memilih baju, memilih merchandise apa yang akan dibawa, dan repot mencetak banner-banner yang bertuliskan huruf-huruf hangul. Dari tadipagi mereka berdua meneleponku untuk meminta pendapat. Aku asal-asalan saja menjawab dan tidak kusangka mereka menerima usulanku.

Tiba-tiba ponselku berdering lagi. Aku yakin sekali itu dari Tata atau Icha. Ya, benar saja.

“Halo? Ada apa lagi, Ta?” Ternyata Tata. “Di depan?! Cepat sekali kamu sampe. Iya-iya aku keluar.” Aku memutuskan pembicaraan. Ternyata Tata dan Icha sudah ada di depan rumahku.

“FIRA?!” Tata dan Icha histeris saat aku muncul dari balik pintu. Mereka memperhatikanku dari atas sampai bawah. Apaan sih dua anak ini?

“Apa? Kalian lebai banget.” Ucapku enteng.

“Coba kamu ngaca! Bajumu itu biasa banget tau nggak sih! Kita hari ini mau ketemu orang-orang ganteng. Bukan mau ketemu kuli bangunan!” Seru Icha masih belum melepaskan pandangannya dari pakaianku. Aku menengok ke arah bawah. Memang sih sedikit berlebihan, yang kupakai adalah sendal jepit swalow, celana jins biasa yang sudah robek bagian lututnya, dan t-shirt putih polos. Rambutku kuikat satu dengan karet sayur.

“Memangnya kenapa sih? Mereka cinta fans mereka nggak liat dari bajunya kan?” Cibirku.

“Yesungdahlah, whatever you want.” Ucap Tata sambil mengangkat bahunya. Cih, siapa suruh mereka mengajakku?

“Sekarang kita naik apa kesana?” Tiba-tiba Icha bersuara.

“Lah? Kalian sendiri kesini naik apa?” Tanyaku.

“Kita kesini naik angkot. Mobilmu mana, Fir? Kenapa nggak naik mobilmu aja?”

Aku menatap mereka dengan sebal, “bukannya kemaren aku udah bilang ya mobilku di bengkel? Aduh kalian ini gimana sih?”

“Oiya ya, begonya aku bisa lupa.” Icha menepok jidatnya. “Yah, terpaksa naik angkot lagi deh, Ta.”

Mendengar kata ‘angkot’ wajah Tata langsung lemas.

“Kalian memang ELF nggak modal.” Ucapku.

***

            “Depan-depan, pak! Stop! Pas didepan situ! Iya pak! Disitu! Disitu!” Icha berteriak-teriak sambil menarik-narik baju si supir angkot. Supir angkot yang malang. Setelah angkot berhenti, kami membayar dan turun dari angkot.

Naujubillah, banyak banget orang disini! Aku sampe nggak bisa lihat apa-apa saking banyaknya manusia yang mengerubungi ancol. Rata-rata dari mereka yang datang berbaju biru dan memegang banyak poster. Nggak kusangka ELF Indonesia sebanyak ini.

“Masih dua jam lagi…” Ujar Icha melirik arlojinya. Aku buru-buru menoleh ke arahnya.

“Apa tadi kamu bilang!? Dua jam lagi!? Buat apa kita datang dua jam sebelum konsernya mulai! Tau gitu aku masih bisa tidur!” Aku menarik pipi Icha dengan gemas. Sialan! Dua jam lagi!!! Bisa bengek aku nunggu disini.

“Iiih! Fira! Coba kamu lihat! Dua jam sebelum konser aja orangnya udah bejibun gini apalagi pas deket-deket konsernya! Pinter dikit nape!”

“Tapi dua jam itu lama, Icha! Mau ngapain kita disini!” Balasku tak mau kalah.

“Sudah diam! Aku pusing dimana-mana ribut! Kita liat-liat aja yuk! Siapa tau ada goodies limited edition.” Ajak Tata menarik paksa kami berdua.

Kamipun berjalan-jalan menelusuri jalanan sekitar MEIS. Memang cukup banyak yang jualan disana. Ada yang jual poster, tas, bando, kaos, dan merchandise lainnya. Tiba-tiba Tata tertarik untuk melihat sebuah kipas dengan gambar seorang cowok telanjang disana.

“Waah… Siwon! Aku beli ini ah! Pasti di dalam sana panas.” Ujar Tata sembari mengeluarkan dompetnya.

“Tata! Apa-apaan sih kamu! Ngapain kamu beli kipas gambar cowok telanjang! Pake kolor doang lagi! Iiih!!” Ketusku sambil memarahinya.

“Plis deh Fir…” Tata menepok pantat… eh jidatnya. “Konsep album Mr. Simple memang gini! Lagian kan Siwon memang absnya bagus! Udah jangan banyak komen kamu! Kalo gatau diem aja!” Ujar Tata sambil memberikan uang kepada penjualnya.

Aku nggak ngerti. Artis-artis sepopuler Rawon ini memangnya nggak sanggup apa beli baju? Memang sih jujur aja badannya bagus kotak-kotak. Tapi memangnya dia nggak kedinginan?

“Oiya, Cha. Aku belum punya lightstick loh. Beli yuk!” Ujar Tata dengan kipas porno tadi di tangannya.

“Iya, aku juga belum. Ayo, Fir!” Icha langsung menarik tanganku tanpa menunggu jawabanku.

Aku dibawa ke depan sebuah stan. Icha melihat-lihat.

“Ta, aku beli yang biasa aja ya. Aku nggak punya uang kalo disuruh beli yang original.” Ucap Icha dengan tampak miris sambil melihat isi dompetnya.

“Sembarang kamu, Cha. Aku sih beli yang ini.” Tata mengambil sebuah… apa ya? Kurang bisa dijelaskan juga, pokoknya semacam stik yang nyala-nyala biru gitu kalo dipencet.

“Fira! Kamu harus beli juga!” Paksa Icha. Lagi-lagi kedua anak ini mengintimidasiku.

“Nggak! Aku sudah punya senter dirumah!” Tolakku. Kedua anak ini menepuk jidatnya lagi.

“Ini bukan senter, Fira! Semua ELF yang mau nonton Super Show pasti bawa lightstick ini!” Ujar Tata.

“Iya! Nanti kalo lightstick ini udah dinyalakan bersamaan bakalan keren! Membentuk Sapphire Blue Ocean!” Terang Icha mengucapkan istilah-istilah aneh lagi.

“Hiih! Kalian maksa banget sih! Berapa harganya!?” Gerutuku sambil membuka dompet.

“Limapuluh ribu.”

Tiba-tiba aku kena serangan jantung. “Mahal banget!! Enggak ah!! Aku nggak mau beli!!” Aku kembali menutup dompetku.

“Nggak! Kamu harus beli!” Paksa Tata dan Icha berbarengan. Kedua bocah sialan ini memasang tampang judes. Aku yakin aku pasti dikubur hidup-hidup kalau menolak lagi.

Aku menghela nafas. “Hih! Tau gitu aku bawa senter sendiri dari rumah!”

“FIRAA!” Bentak mereka berbarengan sambil melirikku dengan sinis.

***

            Sudah kuduga. Habis ini aku akan pergi ke dokter THT. Bagaimana tidak, daritadi orang di samping kanan-kiri-depan-belakang-atas-bawah sekelilingku tidak berhenti berteriak. Aku sudah memakai headphone yang kubawa tapi langsung di lempar ke bawah oleh Icha yang melihatku tidak menikmati konser ini. Gimana mau nikmatin. Yang kudengar daritadi hanyalah teriakan cewek-cewek ini. Sekalipun Super Junior menyanyi tidak satupun kalimat mereka yang kumengerti. Hanya ‘sori’ dan ‘simpel’ saja yang kudengar. Oiya, aku juga mendengar kata-kata… sebentar… supermen atau spaidermen ya? Ah! Apapun itu yang jelas ada ‘men-mennya’.

Tapi menurutku konsep yang digunakan lumayan keren. Apalagi saat pembukaannya, mereka muncul dari bawah panggung dan lighting-nya keren banget. Selain itu saat mereka menyanyikan lagu betmen, eh… apalah itu tadi panggungnya naik ke atas dan setelah itu banyak keluar air mancur dari bawah. Untung saja Icha dan Tata tidak memilih tempat disekitar situ kalau nggak pasti aku sudah basah kuyup.

Pakaian dan tarian mereka ternyata cukup keren juga. Aku paling suka cowok yang badannya paling berisi dan rambutnya sedikit keriting. Gerakannya ketika menari sangat lincah meskipun badannya tidak kurus. Setelah kutanya ke Icha katanya nama cowok itu adalah Shindong. Aku yakin dia salah satu pengayuh odong-odong.

Sementara ELF-ELF lain pada berteriakan sambil mengayun-ngayunkan senter biru mereka, aku berdiri lemas menopangkan dagu pada lenganku tanpa sedikitpun menggerakkan senter yang kubawa. Sekarang yang sedang tampil adalah seorang cowok yang belakangan kuketahui leader dari Super Junior sedang menyanyi solo dan bermain piano. Aku kurang mengerti apa yang dia nyanyikan yang jelas bernada galau. Sekarang dia sedang berada di atas crane sambil membawa sekeranjang mawar yang ia lemparkan kepada penggemarnya di bawah. ELF-ELF dibawah sana yang mendapatkan mawar darinya tampak bahagia sekali.

Dia turun dari crane sambil menyisakan setangkai mawar di tangannya. Dia berjalan kaki ke arah deretan bangku Super Fest. Ya, bangku kami bertiga. Dia terus berjalan mendekati kami. ELF-ELF diujung sana pada mengulurkan tangannya berusaha menyentuh cowok itu sambil mengibas-ngibaskan senter biru mereka. Cowok itu semakin dekat.

Aku langsung melepaskan dagu dari lenganku saat sadar cowok itu sudah berdiri di hadapanku. Dan dia berhenti. Tepat di depanku. ELF-ELF dibelakangku langsung mendorong-dorong agar bisa meraih cowok ini. Tiba-tiba saja saat musik berhenti diputar setangkai mawar yang tadi ia pegang langsung ia berikan kepadaku. Dia tersenyum ke arahku yang masih memasang wajah bego. Aku benar-benar tidak menyangka. Dia memberikan mawar tadi kepadaku! Kepadaku!!!

Akhirnya lampu padam. Cowok itu sudah tidak tampak lagi di depanku. Aku memandang mawar yang tadi ia berikan kepadaku. Dari jutaan ELF yang berada disini, yang mencintai dan mengaguminya, kenapa dia memilihku yang bahkan namanya saja aku tidak tahu? Icha dan Tata masih menatapku sarkastik.

“Fira…” Tata mengambil mawar yang tadi cowok itu berikan kepadaku dan menatapnya lekat-lekat seolah-olah cowok itu memberikanku kadal yang diawetkan. Matanya nyaris keluar.

“Kamu beruntung banget!!!!” Icha menggoyang-goyangkan pundakku sambil meloncat-loncat.

“Icha! Biasa aja kali, kayak kamu nggak pernah liat cowok ngasih mawar aja.” Ucapku cuek padahal aku masih deg-degan.

“Tapi dia bukan cowok biasa, Fira sayang… dia Leeteuk! Leader Super Junior! Oh, andaikan aku jadi kamu…” Tutur Icha. Aku jadi merasa bersalah dengannya. Padahal aku tidak tahu apa-apa soal Super Junior tapi malah aku yang menjadi gadis beruntung hari ini.

“Cha, Lituk itu bukannya yang begini ya?” Aku menaruh tanganku di depan mulutku sambil mengeluarkan suara yang tampak seperti orang keselek.

“ITU BATUK!!!!!” Seru Icha dan Tata bersamaan, sebal. Aku nyengir.

***

            Akhirnya Super Show 4 hari pertama terlewat juga. ELF-ELF yang tadi memenuhi stadion sudah mulai berhambur keluar. Begitu juga dengan aku, Icha dan Tata, yah meskipun aku tidak bisa dianggap sebagai salah satu dari ELF.

“Aduh, hujan nih.” Icha memegang rambutnya. Aku melihat ke atas. Ya, memang mulai gerimis.

“Yah, padahal rencananya kita mau ke rumahmu loh, Fir. Tapi hujan gini… kita pulang aja kali ya Cha?” Tata menaruh salah satu poster yang tadi dia bawah di atas kepalanya.

“Iya nih, Ta. Daripada hujannya makin deres.” Jawab Icha. Dia menoleh ke arahku sekarang. “Kita berdua pulang dulu ya, Fir. Kamu bisa pulang sendiri kan? Kamu tau jalan? Kamu punya uang? Perlu dicariin angkot nggak? Atau kamu butuh payung?” Sekarang Icha persis seperti seorang ibu yang anaknya akan pergi ke medan perang.

“Ah! Lebai lu, Cha. Iye-iye, aku bisa pulang sendiri.” Ucapku. Icha tersenyum dan langsung menggandeng Tata.

“Okedeh, kita duluan ya, Fir. Bye! Take care!!” Icha dan Tata melambaikan tangan ke arahku. Aku membalasnya dan tak lama mereka berdua sudah tak kelihatan batang hidungnya. Aku memandang ke arah mawar tadi. Kelopaknya sudah mulai basah. Buru-buru aku memasukkannya ke dalam tas. Yah, meskipun mawar tadi dari orang yang tidak terlalu penting dihidupku, aku tetap harus menyimpannya. Itu sangat berharga. Maksudku siapa tau bisa dijual. Secara, itu kan dari Lituk Super Junior.

JDERRR!!! Petir menyambar. Hujan semakin deras. Aku segera berlari keluar dari daerah ancol.

Aku berjalan menyusuri jalan raya Jakarta Utara dibawah guyuran hujan yang semakin deras. Sial, seharusnya kalau aku tidak menonton konser ini pasti sekarang aku sedang bermalas-malasan ria di depan TV dengan semangkok kerupuk. Huuh. Lihat saja kau Icha dan Tata! Aku kembali berjalan hanya dengan bekal sebuah mawar dan senter biru. Aku berhenti di depan sebuah halte.

Satu menit… dua menit… tiga menit… tigapuluh menit… satu jam telah terlewat. Belum ada satupun angkot yang lewat. Bahkan mobil saja hanya sedikit. Sial. Uangku tidak akan cukup untuk naik taksi argo. Ya, gara-gara senter sialan ini.

Tiba-tiba aku melihat bayangan seorang cowok yang berdiri dengan linglung di jalan raya. Aku mengucek-ngucek mata. Berharap itu hanya ilusi. Tapi ternyata tidak. Cowok itu masih ada di sana. Dia berjalan TEPAT di TENGAH jalan raya sambil menoleh kanan-kiri. Apa cowok itu gila? Seolah-olah jalan ini milik nenek moyangnya saja.

Aku langsung membulatkan mataku dan melongo saat melihat sebuah truk kontainer besar datang dari arah yang berlawanan dengan kecepatan yang tidak ketulungan. Aku langsung menatap cowok tadi. Dia masih belum menyadari keberadaan truk itu padahal aku yakin beberapa detik lagi truk itu berhasil menghancurkan tubuhnya! Secara naluriah aku langsung berlari dari halte ke arah cowok itu dengan ngebut. Aku menoleh ke arah truk. Tinggal sebentar lagi. Aku semakin mempercepat lariku. Cowok itu tampak heran melihatku tapi aku tidak mempedulikannya. Aku mendorong cowok itu dengan sekuat tenaga hingga ia terlempar ke atas trotoar. Aku memejamkan mata.

To be continued

Advertisements

2 thoughts on “Kisah Tak Berjudul | Part I

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s