Kisah Tak Berjudul | Part II

Poster by Illah_Illuth

PART II

Sriiingg… tidak terdengar bunyi apa-apa. Truk itu lewat tanpa halangan. Pasti kalian berpikir aku akan tertabrak truk kan? Cih, sayang sekali aku bukan cewek-cewek tolol seperti di sinetron yang rela mengorbankan nyawa demi pacarnya yang akan berteriak ‘TIDAAAKKK!!!’ dengan suara cempreng. Padahal cewek tolol itu masih punya waktu menyelamatkan diri kalau dia waras tapi malah memilih ditabrak mobil. Aku tidak seperti itu ya, aku ikut melemparkan diri ke trotoar saat mendorongnya. Aku belum mau mati apalagi demi cowok tolol yang sama sekali tidak kukenal. Aku menatap cowok tadi dengan kesal. Cowok itu masih memandangku dengan tegang. Tampaknya dia masih shock dengan kejadian tadi.

“Heh! Kamu gila ya? Otakmu dimana? Kalo jalan di trotoar dong! Ngapain kamu jalan ditengah-tengah jalan kayak tadi? Kalo mau bunuh diri jangan disini!” Seruku marah sambil membantu cowok itu berdiri. Aku tidak tahu kenapa aku masih baik kepada cowok yang nyaris merenggut nyawaku ini.

Cowok itu tidak merespon. Ia malah tampak bingung. Ia menggaruk-garuk kepalanya. Cowok ini ngerti bahasa Indonesia nggak sih?

“$!@#@!^)(*&><{*^))^$%#…” Ujar cowok itu sambil membentuk tangannya seperti biksu dan membungkuk ke arahku. Sekarang aku yang bingung. Ngomong apa dia barusan?

““$!@#@!^)(*&><{*^))^$%#…” Dia mengulangi kata-kata dan gerakannya. Tetap saja aku tidak mengerti. Bahasa apa yang dia gunakan?

Naluri ke-Inggrisanku langsung muncul saat menyadari tampaknya dia bukan orang Indonesia. “Ehem. Sorry, what are you talking about? You aren’t Indonesian, huh? Where are you from?” Tanyaku dengan sopan. Ia kembali menggaruk-garuk kepalanya. Sebentar. Aku merasa pernah melihat wajahnya. Sumpah! Tapi aku lupa dimana.

“Em… I am… I am… Korean! Yeah! Seoul! Korean! Hangeul! Do you know?” Kata cowok itu gembira. Tiba-tiba serangan jantungku kambuh lagi. Aku terkejut saat mengingat siapa cowok ini. Kalau saja Icha atau Tata melihat cowok ini, aku yakin mereka bakalan mati ditempat.

Ya. Dia… dia Pasung, anggota Super Junior. Aku yakin sekali saat melihat tatapan cowok ini. Yang paling bisa kukenali dari Pasung Super Junior adalah tatapannya dan rambutnya yang menutupi sebelah matanya. Pantas saja cowok ini tidak melihat truk tadi. Cowok itu melambaikan tangannya di depan wajahku. Dan langsung membuyarkan lamunanku tadi. Aku menelan ludah.

“Are you… are you Pasung from Super Junior?” Tanyaku ragu. Siapa tau aku salah orang. Tapi orang Korea mana lagi yang bajunya rempong begini sambil celingukan di jalan raya.

Dia memiringkan kepalanya. Tampak bingung. “^&&$#$%#(@$, oohh!” Dia menepuk jidatnya. Tampaknya dia keceplosan berbahasa Korea lagi. Dia tampak berpikir. “What are you talking? Pasung? You are false. Me, me…” Dia menepuk-nepuk dadanya. Sumpah, kacau sekali bahasa Inggrisnya. “Me, Yesung. Ye… sung…” Ujarnya seperti mengeja. Oh, ternyata bukan pasung, tapi Yesung. Setidaknya dia benar adalah anggota Super Junior. Tiba-tiba matanya terbelalak saat melihat senter biru sialan tadi yang menyembul dari tasku. Dia langsung memandangku gembira.

“You! Are you an ELF?! Are you washing my concert?” Tanyanya. Washing? Oh, mungkin maksudnya watching kali. Aku mengangguk. Eh, aku langsung menggeleng saat menyadari kalau aku bukan ELF. Dia menatapku heran.

“But… you have sapphire blue ocean lighstick?” Tanyanya.

“Oh, you’re right. I watched your concert, but… honestly, I am not an ELF.” Ucapku. Yesung kembali terlihat bingung. Aku menepuk jidat. Aku tidak menyangka artis Internasional seperti dia tidak mengerti Bahasa Inggris.

Oh iya. Ada hal yang lebih penting. Kenapa dia berada di sini? Sendirian? Mana member lainnya? Apa dia tersesat? “Ehem, I am sorry. Why are you here? What are you doing here? Are you lost?” Tanyaku dengan logat yang dipelankan agar dapat dia cerna.

“I’m not lost, yeah you know. We are always win.” Ucapnya bangga. Aku langsung menggaruk-garuk rambutku frustasi. Apa sih yang dia pikirkan? Bisa-bisanya dia menganggap ‘lost’ yang kukatakan tadi adalah kalah. Butuh ekstra kesabaran untuk menghadapi cowok bego ini.

“I mean… what are you doing here? Where are the other members? Why are you alone?” Tanyaku lebih sabar. Padahal tanganku sudah mengepal tinju.

Mendengar perkataanku tadi dia langsung menunduk. Baguslah, tampaknya dia mengerti maksudku.

“I will tell you later…” Ucapnya. Sebenarnya kau tidak beri tahu juga nggak masalah. Itu bukan urusanku. Yang jelas sekarang maumu apa?! “Mianhae… eh, I mean… I’m sorry… can you help me? Can you give me a place to take a rest for a moment? A house maybe?”

Sontoloyo! Dia pikir aku siapa, minta dibelikan rumah sekarang juga? Ini aku yang bego atau dia yang tolol ya?

“Um… sorry, I think I can’t…”

“Please! Jebal!” Tiba-tiba dia langsung berlutut dihadapanku. Tadi dia bilang apa? Jebol? “I need your help. I don’t care who are you. Please… I have a problem… jebal…” Ucapnya memohon-mohon di depanku. Aku panik. Entar dikira aku seorang cewek tak berperasaan yang memutuskan hubungan dengan cowoknya di hari hujan gini lagi. Untung saja tidak ada orang. Aku langsung berjongkok, menyamakan kedudukanku dengan cowok ini. Ku angkat dagunya. Wajahnya miris sekali. Aku jadi tidak tega. Sungguh. Kenapa sih aku ditakdirkan jadi orang baik?!

“Okay… I will help you. But, just for a while huh?” Aku tersenyum ke arahnya. Dia langsung tampak bahagia. Dia langsung memelukku. Jleb. Pertamakalinya aku dipeluk seorang cowok. Yah, sama sekali tidak pernah, ayahku memang sudah tiada sejak aku masih kecil.

“Thank you-thank you! Kamsahamnida! Thank you!” Ujarnya melepaskan pelukannya. Aku masih mematung. Dadaku berdegup kencang. Apa-apaan sih cowok ini.

“Ehem!” Aku berusaha tenang. “Let’s go to my house. It’s raining. You will be sick.” Ucapku. Dia mengangguk.

***

            Kita berdua sampai di rumah sore sekali, nyaris Isya. Ya jelaslah! Saking nggak adanya angkot satupun, kita berdua berjalan kaki, you know? Jalan kaki! Aku bingung bukan kepalang bisa-bisanya di kota semacet Jakarta ga ada satupun angkot tadi. Memang sih hujan deras, TAPI MASA SIH SATUPUN ANGKOT NGGAK ADA?! (Frustasi berat). Mana Yesung ngoceh terus lagi di jalan. Lengkap sudah penderitaanku. Aku langsung tepar di atas sofa saat kami berdua sudah masuk rumah. Sementara Yesung masih melihat-lihat isi rumahku.

“Is… is this your house?” Tanyanya ragu. Mukanya tampak heran memandangi barang-barang yang ada di rumah kecilku ini. Ya, aku memang bukan cewek di kalangan berada.

Kamu pikir ini rumahnya siapa!? Ingin rasanya aku meneriakkan kata-kata tadi sayangnya aku tidak tau bahasa Inggrisnya. “Of course. Take a rest please. Ng….” Sementara aku memutar otak untuk mencari bahasa Inggrisnya ‘anggap saja rumah sendiri’, cowok itu duduk di sebelahku.

“Sorry, I think your house is very small. Don’t you think you need more house?” Tanyanya menoleh ke arahku dengan wajah tanpa dosa.

“Heh! Seenak udelmu saja! Ibuku beli rumah ini susah loh! Kamu pikir gampang apa nyari duit!” Seruku emosi. Yesung memandang heran ke arahku. Aku lupa, dia sama sekali tidak mengerti bahasaku. “Hhh… I’m sorry. Yeah, I know my house is small. But can you don’t judge my house?” Ucapku pasrah.

“A-aaah…” Yesung tampak panik. Tampaknya dia tau aku tersinggung. “That’s not my mean. I… I am… jeongmal mianhae… eh, I am sorry.” Dia membungkuk di depanku. Apa cara orang Korea meminta maaf seperti ini?

“Never mind. Just take a rest. Do you want hot chocolate or tea? Your shirt is wet. Don’t you need new shirt?” Tanyaku sambil memegang bajunya. Basah banget. Pasti dia kedinginan banget. Tunggu sebentar… hei! Apa yang kupikirin! Aku juga basah kuyup dan kedinginan! Kenapa malah mikirin dia? Ah, aku memang terlalu baik.

Yesung kembali memasang muka bodohnya. Aku menepuk jidat. Aku yakin jidatku sudah memerah saking seringnya aku memukul jidat.

“I… I don’t understand.” Ucapnya. Ya bodoh! Aku tau!

“Okay… I will make a cup of tea for you. Wait here.” Ucapku. Dia manggut-manggut. Entah ngerti atau nggak aku nggak peduli.

***

            Aku manggut-manggut mengerti menatap layar laptopku. Aku mengetikkan beberapa kata lagi di box sebelah kanan dan langsung muncul tulisan-tulisan hangeul di sebelah box tadi. Yesung membacanya. Dia mengangguk.

Ya, barusan saja Yesung menceritakan alasan kenapa dia ada disini sekarang, terpisah dengan member yang lain. Tapi tidak gampang loh cara komunikasi kita. Dia menghabiskan waktu 3 jam untuk bercerita dari jam 10 malam dan sampai jam 1 malam seperti ini. Saking sulitnya kami berkomunikasi dengan Bahasa Inggris, aku pun berinisiatif untuk menggunakan google translate. Yesungpun menyetujuinya. Dia mengetikkan huruf-huruf hangeul dalam box dan tak lama muncul Bahasa Indonesianya di sebelah box tadi meskipun sedikit berantakan. Begitu juga sebaliknya, aku mengetikkan saran-saran dan pertanyaanku dalam box, setelah itu munculah terjemahan dalam Bahasa Koreanya di sebelah kanan. Jadi, bisa dibilang selama 3 jam ini kami sama sekali tidak ada berbicara.

Dan jujur, ternyata problemanya cukup berat. Dia ada masalah dengan Kyuhyun, salah satu member Super Junior yang menjadi adik atau bahasa koreanya dongsaeng kesayangannya.

FLASHBACK MODE:ON

-YESUNG POV-

“Hufft…” Aku melempar tubuhku di atas sofa saat kami sudah sampai di hotel. Benar-benar hari yang melelahkan. Tapi semuanya terbayar saat ELF Indonesia keluar stadion dengan wajah puas. Oh… tidak ada yang bisa mengalahkan cintaku pada ELF pokoknya!

Yang baru sampai hotel saat ini adalah aku dan Kyuhyun. Maknae ter-evil kami. Aku memandangnya yang sedang bermain PSP masih dengan blazer hitam yang tadi ia pakai konser.

“Ya! Ya! Kau, Kyuhyun. Belum apa-apa sudah main games. Lepas bajumu! Cuci tangan! Makan, mandi dan istirahat! Tidak ada bermain games!” Aku merebut PSP-nya dengan mudah. Kyuhyun langsung berdiri saat menyadari PSP itu sudah tidak ada di tangannya.

“Yesung hyung! Apa-apaan kau?! Aku ini capek, perlu relaksasi supaya pikiranku segar lagi! Enak saja kau menyuruh-nyuruhku! Emang kau siapa? Eommaku?” Nada suara Kyuhyun tampak sinis. Ne, dongsaengku yang satu ini memang tidak pernah bisa menahan emosinya, apalagi saat diganggu bermain games. “Dan yang paling aku tidak suka, tidak ada yang boleh menyentuh PSP ku! Sungmin hyung saja tidak kuperbolehkan, apalagi kau, Yesung!” Serunya. Aku terkejut.

“Kau panggil aku apa tadi? Yesung saja? Dimana kesopananmu Cho Kyuhyun!? Aku ini hyungmu!” Bentakku. Aku paling tidak suka kalau sudah ada dongsaeng yang tidak sopan kepadaku.

“Tapi kau bukan eommaku kan?! Teuk hyung saja tidak pernah menyentuh PSP ku, apalagi kamu, YESUNG? Berikan kepadaku sekarang! Jebal!” Bentak Kyuhyun lebih keras daripada aku.

“Cho Kyuhyun! Berani-beraninya kau bersikap kurangajar kepadaku! Andwae! Aku tidak akan memberikan PSP ini sebelum kamu meminta maaf dan patuh kepadaku!” Seruku.

“Yesung! Kembalikan!” Pinta Kyuhyun.

“Anio! Ani sampai kau kembali memanggilku hyung.” Ujarku.

“KEMBALIKAN!” Tiba-tiba saja amarah Kyuhyun meledak. Aku langsung mundur dan tau-tau saja ia mendorongku. Aku tersungkur ke bawah dan tanpa sadar PSP hitam milik Kyu terlempar dan terbanting keras. Kami berdua memandang PSP yang casing-nya sudah terbelah dua. Kyuhyun menatapku dengan tatapan pembunuh. Aku langsung panik.

“Ahh… mianhae, Kyu…”

“YESUNG!” Bentaknya. Kali ini aku tidak berani menatapnya. “Kau sadar apa yang kau lakukan!? Kau membunuh istriku, Yesung!!! Sekarang dengan apa aku hidup!? Kau tahukan hobiku memang bermain games dan tidak ada satupun orang yang boleh mengusiknya! Kalau kau mengerti aku seharusnya kau tidak menyuruhku untuk berhenti bermain games, Yesung. Kau memang hyung-ku yang terburuk! Kau sebenarnya tidak ada gunanya di Super Junior! Tarianmu buruk, wajahmu pas-pasan dan kepalamu besar sekali! Kalau saja kau tidak memiliki suara emas aku yakin sekarang kau pasti sudah menjadi gembel jalanan di Seoul!”

“Cukup Kyuhyun!” Aku berdiri. Kali ini aku sudah tidak bisa menahan emosiku. Dia benar-benar keterlaluan. Untuk apa dia menghubungkan kekurangan-kekuranganku dengan kejadian ini? “Aku tau kau memang segalanya di Super Junior. Fansmu banyak, wajahmu tampan, suaramu bagus, tarianmu keren… tapi apakah kamu tidak bisa menghargai hyungmu ini? Tanpa aku kau tidak dapat tempat tidur di dorm, Kyuhyun! Aku yang merawatmu saat kau kecelakaan! Aku yang menjadi bulan-bulananmu saat kau merasa bosan! Lagipula itu hanya PSP, Kyuhyun. Aku mampu membelikan 1000 PSP untukmu kalau kau mau. Bahkan sebenarnya yang tidak ada gunanya di Super Junior adalah kau, Cho Kyuhyun! Kau tidak bisa masak, tidak mau disuruh-suruh… bisanya kau hanya bermain games-games-games dan games. Tidak ada gunanya!!!” Bentakku keras. Aku yakin sekarang wajahku sudah memerah. Kyuhyun menatapku kaget.

“Aku tidak menyangka, hyung. Kau berani membentakku seperti tadi. Kalau saja tadi kau berusaha minta maaf kepadaku mungkin aku akan memaafkanmu. Tapi… aku sudah kecewa, hyung. Aku tidak mau melihatmu lagi! Pergi kau! Jangan pernah kembali di hadapanku lagi! Super Junior sama sekali tidak membutuhkanmu!!!!” Seru Kyuhyun menodong pintu. Aku tersenyum pahit.

“Ne. Aku akan pergi. Banyak ELF yang akan menampungku. Jangan merindukanku ya, mungkin tidak akan ada lagi yang membantumu di KRY. Titip salam untuk Leeteuk hyung dan Ryeowook. Annyeonghi gyeseyo, Cho Kyuhyun…” Tanpa pikir panjang aku membuka pintu dan membantingnya keras. Aku sudah tidak peduli dengan kebutuhanku. Yang kupedulikan sekarang adalah gengsi dan harga diriku. Kulihat Sungmin di koridor hotel menatapku bingung.

“Yesung-ssi? Mau pergi kemana kau, hyung?” Sungmin memegang pundakku yang langsung kutangkis dengan kasar.

“Pergi ke tempat yang tidak bisa dijangkau mata dongsaeng kesayanganmu itu, Ming.” Ucapku ketus, masuk ke dalam lift dan langsung menutup pintunya.

Untung saja di tengah jalan aku tidak bertemu dengan member lainnya. Pasti mereka memaksaku untuk kembali. Aku berjalan keluar hotel. Hujan turun dengan lebatnya. Aku memandang sekeliling. Anio! Aku lupa sekarang aku berada di Indonesia! Bukan di Seoul! Sial. Bagaimana ini?

Hingga akhirnya aku melihat seorang yeoja berlari ke arahku. Yeoja itu tampaknya seorang Indonesian. Dia melemparkanku ke trotoar. Dan tahu-tahu saja sebuah truk besar lewat di hadapan kami.

FLASHBACK MODE:OFF

-SHAFIRA POV-

Yah, setidaknya begitulah apa yang dia bilang. Kalau aku jadi dia juga mungkin aku bakalan kabur dari rumah demi harga diriku. Aku tidak akan kembali sebelum orang yang berbuat salah kepadaku memohon-mohon ampun di hadapanku. Aku mengerti perasaan Yesung sekarang. Dan menyebalkannya, aku tidak bisa memberikan saran langsung kepadanya.

Aku dan dia tidak bisa terus-terusan seperti ini. Kita harus bisa berkomunikasi langsung apalagi kalau dia akan lama menginap di rumahku. Akhirnya aku menemukan ide brillian dan langsung kuketikkan di box google translate.

Hei, kita tidak bisa seperti ini terus. Kita harus mengerti bahasa satu sama lain. Bagaimana kalau kau belajar Bahasa Indonesia dan aku belajar Bahasa Korea? Siapa diantara kita paling cepat bisa bahasa itulah yang akan kita gunakan. Bagaimana?

Tak lama muncul tulisan-tulisan hangeul di sebelah box tadi. Yesung membacanya perlahan. Dia tampak berpikir dan mengangguk-ngangguk. Iya langsung mengetikkan hangeul di box translate dan jawaban yang kutungu langsung muncul.

Iya! Aku setuju!

***

            “Tolongin aku yah… pliss…” Rengekku kepada Icha dan Tata. Mereka berdua saling bertatapan.

“Ih, pasti seonsaenim bakalan marah kalo kita yang minta. Kamu sih, udah di bilangin dari kemaren pilih bahasa Korea aja malah pilih francais yang sulitnya nggak ketulungan itu.” Ujar Icha. Mereka benar, kenapa tidak dari kemarin saja aku pilih bahasa Korea?

Ya, sejak mengalami awkward moment bersama Yesung tadi malam karena tidak saling mengerti bahasa satu sama lain, aku jadi menyesal memilih bahasa Prancis dan langsung berpaling ke bahasa Korea. Tapi Bu Ariana bilang, kalau mau ganti jurusan bahasa nggak mudah. Apalagi kata Icha dan Tata seonsaenim yang mengajar bahasa Korea sangat galak.

“Memangnya kenapa kamu ganti jurusan bahasa, Fir?” Tanya Tata, dan tidak bisa langsung kujawab. “Kamu jadi kpopers yah sejak nonton konser kemaren?” Tanya Tata tersenyum evil.

“Nggaklah! A-aku cuma tertarik aja belajar bahasa Korea dan hangeul. Pliss.. bilang ke seonsaenim kalian yaa?” Rengekku lagi.

“Ah kamu bohong, kamu jadi kpopers kan?” Goda Tata lagi tak menghiraukan permintaanku.

“Anio!” Ups, aku keceplosan bicara bahasa Korea. Tata dan Icha menatapku heran. Aku langusng menutup mulutku.

“Kamu kok tau bahasa Koreanya nggak? Belajar darimana kamu?” Tanya Icha.

“Yaah… kan tadi aku udah bilang kalo aku tertarik berbahasa Korea, jadi aku liat-liat sedikit di internet.” Dustaku. Padahal semalaman Yesung susah payah mengajariku.

“Oya?” Icha tampak ragu.

“Beneran deh… sekarang kalian bilang ya ke seonsaenim kalian? Pliss…” Pintaku.

“Yowes lah. Kamu ikut kita tapi.” Ujar Icha. Aku mengangguk gembira.

Kami bertiga keluar dari kelas dan berjalan menuju kelas bahasa Korea. Cukup melelahkan karena ruangannya ada di lantai 4 sedangkan kelas kami ada di lantai 1. Hingga akhirnya, kami sampai disana. Kulihat ke dalam ruangan pertama, ada beberapa murid kelas 10, dan Han Ha Na di sana.

“Loh? Itu si Ha Na ngapain disana? Kok dia belagak jadi guru gitu?” Tanyaku mengintip ke dalam ruangan itu.

“Bukan belagak!” Jawab Tata. “Memang seonsaenim yang nyuruh dia. Dia kan pinter bahasa Korea! Jadi dia yang disuruh ngajarin kelas 10.” Terangnya. “Kata seonsaenim dia dapet tambahan nilai karena ini…”

Sudah kuduga, cewek korea itu memang licik. Andaikan ada murid yang kursus bahasa Indonesia aku bersedia mengajarinya untuk mendapatkan nilai tambahan.

“Hei,” Icha menutup pintu ruang guru. “Seonsaenim lagi nggak ada kayaknya. Nanti aja ya, Fir.” Icha menghampiri kami berdua.

Tiba-tiba pintu di sebelahku terbuka. Aku menoleh. Ha Na keluar dari ruangan tadi.

“Hhh… akhirnya selese juga.” Ucapnya. Dia memandang kami bertiga. “Eh, halo Fir, Cha, Ta…” Sapanya dengan wajah sok imutnya. “Pada ngapain disini?”

“Ini, si Fira mau ketemu sama In Ha seonsaenim. Mau masuk kurus Korea.” Jawab Icha sambil menunjukku.

“Loh? Kemaren kamu bilang Prancis? Nggak jadi? Kupikir kamu nggak suka sesuatu yang berbau Korea.” Respon Ha Na tampak terkejut.

“Ya memang.” Ujarku cuek. “Tapi aku tertarik berbahasa Korea… memangnya salah?” Cibirku. Ha Na menggeleng.

“ICHA! FIRA!!!!!” Tiba-tiba terdengar suara Tata yang cempreng dari jendela. Anak itu tampak histeris memandang sesuatu di luar jendela. Dia mengibarkan tangannya memanggil kami.

“Apa?” Aku, Icha dan Ha Na menghampirinya. Ngapain cewek ini? Emang dia dipanggil?

“Itu! Aku liat Yesung disitu!!!!” Serunya histeris. Jantungku langsung berhenti berdetak.

“Hah?! Mana mungkin Ta! Pasti kamu salah orang!” Icha ikut menempelkan wajah di kaca jendela.

“Nggak! Beneran! Tadi aku liat dia!” Tata bersikeras.

“Ha-ha-ha…” Aku tertawa canggung. “Nggak-nggak mungkin lah Ta. Pasti kan sekarang Yesung ada di panggung SS4 day 2…”

“Kelihatannya enggak.” Ha Na bersuara. Kami bertiga menoleh ke arahnya. Ia menatap layar ponsel blackberry-nya.

“Maksudmu?” Tanyaku takut.

“Ya… ya enggak. Aku baru baca di twitter katanya Yesung sama sekali nggak kelihatan di SS4 hari ini. Dia nggak ada sejak press conference.” Ujar Ha Na masih sibuk menggeser trackpad-nya.

“Tuh kan, berarti bener dong itu Yesung!” Seru Tata kembali menatap keluar jendela.

“Tapi… kalopun Yesung nggak ada, ngapain dia ada di depan sekolah kita, Ta?” Icha masih belum yakin. Aku menelan ludah berkali-kali. Takut si bodoh itu melakukan hal yang enggak-enggak.

“Eh, aku kebelet. Aku ke toilet dulu ya.” Ucapku berlari tanpa menunggu respon dari mereka bertiga.

Aku terus berlari sampai ke lapangan sekolah. Walaupun istirahat, tapi tidak ada satupun anak di sana. Sehingga aku tidak harus bertabrakan dengan siapa-siapa saat itu. Akhirnya aku sampai di pintu gerbang. Sial. Satpam botak sialan sekolah langsung menghadangku.

“Eits-eits.” Dia membuka kedua tangannya seolah-olah aku ayam yang mau keluar kandang. “Mau kemana, non? Udah izin guru piket?”

“Minggir, pak!” Seruku. “Penting! Aku… aku mau ngambil buku yang ketinggalan! Kakakku ada di luar!” Ujarku berdiplomasi sedikit.

“Mana?” Dia menoleh ke belakang. Ini kesempatanku. “Tidak a… hei?! Jangan kabur kamu!” Aku berlari sekuat tenaga saat satpam tolol itu menyadari bahwa aku sudah keluar. Aku menoleh ke kanan-kiri? Benarkah tadi Yesung? Aku berlari membabi buta tanpa melihat sekelilingku.

Bruk! Aku terjatuh. Sial. Siapa sih yang menabrakku? Badannya keras banget kayak batu. Aku menengadah ke atas.

“Ya? Shafira-ah?” Si bodoh yang daritadi kucari-cari tiba-tiba saja ada dihadapanku. Memandangku dengan tampang tololnya. “Mianhae…” Dia mengulurkan tangannya kepadaku dan aku langsung menariknya agar ia ikut jatuh sejajar denganku. “Aah!”

Hei, bodoh! Apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau ada di depan sekolahku? Bukannya aku sudah menyuruhmu supaya tinggal dirumah?” Ujarku dengan bahasa Inggris sambil menjewer telinganya. [catatan: tulisan tebal berarti percakapan dalam bahasa Inggris]

“Mianhae…” Ujarnya sambil memegangi telinganya. “Aku sangat bosan di rumah dan ingin mencari udara segar. Tapi tersesat. Untung saja kau ada disini…” Ujarnya dengan wajah innoncent sambil nyengir.

Dasar bodoh! Kalau ada yang mengenalimu gimana? Kalau kamu tidak bertemu aku gimana? Kalau ada ELF yang melihatmu gimana?” Ujarku menempeleng kepalanya. Aku sudah tidak peduli seberapa jauhnya umurku dengannya.

Tapi aku kan…”

“Hei! Kamu!” Terdengar suara cempreng bapak-bapak dari belakang. Aku dan Yesung menoleh. Satpam tolol sekolahku ternyata masih mencariku. “Kenapa kamu kabur? Mana kakakmu? Kembali ke sekolah sekarang!” Serunya. Aku menoleh ke arah Yesung yang kebingungan. Aku menariknya berdiri.

“Ini Pak! Ini kakak saya. Saya nggak bohong kan?” Ujarku sambil mengait lengannya dengan lenganku. Oh, kalau ada ELF yang melihat hal ini aku yakin aku bakalan dibunuh.

Si satpam mencermati Yesung dari bawah sampai atas. Mungkin dia sedikit bingung kenapa Yesung memakai celana botol perempuan. Jelaslah! Itu kan celanaku! “Kok tidak mirip kamu? Hei, kamu benar kakaknya?”

Aku langsung panik. Kulihat wajah Yesung. Demi apa tampangnya bego banget. Dia tampak kebingungan sambil celingak-celinguk.

“Mwo? Kakak?” Yesung tampak bingung dan mengucapkan kata ‘kakak’ dengan logat yang aneh. Aku menginjak kakinya. “Aw!! Ne-ne. Yes.” Ucapnya sambil memegangi kakinya.

“Yah terserah kalian lah! Yang jelas, kamu,” satpam itu menunjukku. “Kembali ke sekolah sebelum Bu Ariana melihatmu. Sekarang!” Bentak satpam sialan itu. Aku mengikutinya dan memberi kode-kode kepada Yesung supaya menunggu di belakang sekolah. Seenggaknya aku bakalan mudah menemukannya dan disana jarang ada orang. Yesung manggut-manggut. Semoga saja untuk kali ini dia mengerti maksudku.

***

            “Hei, aku sudah bisa bahasa Korea loh.” Ucapku bangga dengan bahasa Korea yang sedikit amburadul saat aku dan Yesung sedang dalam perjalanan pulang.

“Mwo?” Yesung menatapku kaget. “Secepat itu?” Tanyanya dalam bahasa Korea.

“Hm, tidak juga sih. Aku baru mengerti sedikit dan belum menghapal huruf-huruf hangeul. Tadi aku memaksa seonsaenimku supaya langsung mengajarkanku percakapan dan melewatkan bagian hangeulnya.” Ucapku masih dengan bahasa Korea. Yeah, sehabis bertemu Yesung, aku diizinkan seonsaenim untuk masuk kelas Korea. Karena aku terlambat, aku terpaksa diajar secara private, sehingga, aku bisa menentukan berapa jam aku mau belajar dan materi apa dulu yang aku inginkan. Akupun langsung memilih materi percakapan agar mudah berbicara dengan Yesung. Akhirnya, aku menghabiskan waktu 4 jam pelajaran untuk menyelesaikan materiku hari ini. Dan, see! Aku sudah bisa meskipun logatku masih logat Jawa.

“Tapi…” Yesung masih terkejut. “Bahas Korea tidak mudah! Bagaimana kau menghapal artinya secepat ini? Paling tidak seminggu untuk lancar berbahasa Korea.” Lanjutnya.

“Hohoho.” Aku tersenyum evil. “Aku adalah yeoja yang hebat, Yesung-ah. Kalau aku bertekad, dengan mudah aku akan bisa. Tapi awas saja kau menanya-nanyaiku dengan bahasa Korea yang aneh. Aku hanya bisa sedikit.”

“Oooh…” Yesung manggut-manggut. Tapi tampaknya dia masih heran. Hahaha! Aku memang hebat! “Daebak… omong-omong… berapa umurmu?”

“17 tahun.” Ujarku enteng. Yesung tampak kaget.

“Kau tahu berapa jauhnya umur kita?! Kenapa kamu memanggilku Yesung-ah? Gunakan oppa!” Serunya marah-marah.

“Anioo!” Jawabku. “Oppa terdengar menjijikan. Lagipula kita berdua kan sebenarnya tidak saling kenal. Hanya kebetulan bertemu.”

Yesung menatapku dengan heran. “Aku tidak mengerti. Seharusnya seorang ELF sepertimu bahagia dong bertemu denganku? Apalagi satu rumah denganku! Kenapa kau malah jutek dan cuek seperti ini?”

Aku mencubit hidungnya. “Hei, bukankah aku sudah pernah bilang, aku bukan ELF? Aku hanya yeoja yang kebetulan menyelamatkan nyawamu saat itu. Aku bukan ELF! Bahkan…” Aku sedikit berat mengucapkan kata kata yang terakhir. “Aku benci Super Junior…”

Yesung menatapku. Kami berdua sudah sampai di depan rumah sekarang. Aku memasukkan kunci ke dalam lubang kunci dan membuka pintunya.

“Silakan masuk.” Ujarku masih dengan bahasa Korea. Entah kenapa aku jadi senang menggunakan bahasa ini.

Yesung masuk tanpa berbicara apapun. Mungkin dia sedikit shock mendengar pernyataanku yang terakhir. Tapi mau diapakan? Aku memang bukan seorang ELF.

Aku dan dia duduk di sofa ruang tamu. Kami berdua masih berhadapan canggung.

“Waeyo?” Tiba-tiba Yesung bersuara. Aku menatapnya. “Waeyo? Kenapa kamu tidak menyukai kami? Apa salah kami?”

Pertanyaan itu langsung menusuk ulu hatiku. Iyaya? Kenapa aku membenci mereka? Aku harus menemukan alasan yang tepat. “Hmm… soal itu… entahlah. Belum bisa kujelaskan.”

“Gwaenchana.” Ujarnya. “Jujur saja, aku tidak akan merasa tersinggung.” Lanjut Yesung sambil tersenyum. Icha dan Tata benar, senyuman Yesung memang tidak ada duanya… hei?! Apa yang kubicarakan?!!!

“Hmm…” Aku langsung memutar otak. “Mungkin… mungkin karena memang darisananya aku tidak tertarik dengan kalian. Aku memang tidak cocok dengan musik korea, style Korea, makanan Korea, dan hal-hal lain yang berbau Korea.”

“Lalu, kenapa kamu menonton Super Show kemarin? Kamu menontonnya kan? Kamu mempunyai lightstick-nya.” Ucapnya. Oh, aku baru ingat senter biru sialan itu namanya lighstick.

“Ne. Memang benar. Itu bukan kemauanku. Aku dibelikan tiket oleh kedua temanku yang seorang ELF dan mereka memaksaku menonton kalian. Dan yang membuatku terkejut, salah satu hyungmu, memberikan mawar kepadaku saat dia solo.”

“Mwo?! Jadi kamu yang diberi Teuk hyung mawar?! Kenapa harus kamu?! Banyak ELF lain yang lebih menginginkan mawar itu daripada kamu. Aku yakin.” Ujar Yesung. Aku merasakan adanya nada sindiran dalam ucapannya.

“Apa kamu menyindirku? Aku memang bukan ELF tapi aku senang diberi namja setangkai mawar. Apalagi orang seperti hyungmu itu. Dia tampak baik dan menyenangkan.” Jawabku asal. Padahal pertama kali kukira Leeteuk adalah ahjussi yang nyasar kedalam Super Junior saking tuanya dia.

“Tau apa kamu tentang Teuk hyung? Kamu kan bukan ELF.” Ketusnya. Kenapa dia jadi galak gini sih?

“Kok kamu marah sih? Bukan salahku kan kalau aku memang nggak ditakdirkan untuk menjadi ELF?” Seruku.

“Ne. Aku tau.” Jawabnya dengan muka yang tidak menyenangkan. Dasar pembohong, dia bilang tadi dia nggak akan tersinggung.

“Omong-omong…” Aku memulai topik baru. “Sampai kapan kau akan ada disini? Besok member lain akan pulang ke Seoul. Kamu masih akan tetap disini? Sampai kapan? Baju-bajuku tidak mungkin kau pakai semuanya.”

Yesung diam. Aku tau pasti dia masih dilema memikirkan ini. “Seharusnya kalau mereka menyayangiku mereka tidak akan pulang besok. Lihat saja. Lagipula aku masih belum mau bertemu muka dengan Kyuhyun keparat itu.” Ujarnya. “Dan soal baju… bagaimana kalau kau temani aku beli baju baru saja di mall di sini?”

Aku menggaruk kepala. Bukannya tidak mau, tapi uangku nggak banyak! “Hmm… bukannya aku tidak mau, tapi… aku tidak punya banyak uang untuk membelikanmu baju baru.”

“Gwaenchana. Aku punya uang kok. Tidak mungkin aku kabur tanpa membawa dompetku. Aku juga punya beberapa uang rupiah.” Ucapnya. Aku terkejut.

“Kamu punya uang!? Kenapa kemaren kita nggak naik taksi aja pulangnya!? Kenapa kamu nggak bilang!?” Aku berteriak histeris. Jelas saja, kemaren kakiku hampir putus gara-gara jalan kaki.

“Mwo?” Dia tampak heran. “Kamu tidak bertanya. Aku kan tidak tau kalau kamu butuh uang.” Cibirnya sambil membuka dompetnya. Aku mengintip sedikit. Sial! Itu pasti lebih dari satu juta!

“Pabo! Kau benar-benar pabo!” Umpatku.

“Ya! Atas dasar apa kamu menyebutku pabo?!” Protesnya.

“Kamu memang pabo! Kamu namja pabo!”

“Ya! Enak saja kau menyebutku pabo. Kau yang pabo karena tidak menyukai kami!”

“Anioo! Kau yang pabo! Kepalamu besar sekali tapi otakmu kecil! Dasar pabo!”

“Kau yang pabo!” Pertengkaran pabo-paboan ini akhirnya berlanjut sampai Yesung menyeretku keluar untuk menemaninya membeli baju.

***

            “Hei, ini makan malammu.” Aku menaruh nampan berisi semangkuk mie kuah di sampingnya. Dia mengangguk tanpa melepaskan pandangannya dari laptopku. Aku duduk di sampingnya.

Setelah selesai belanja, dia langsung memaksaku untuk meminjamkan laptopnya. Aku tau dia tidak tau diri tapi kuberikan saja laptopku. Entah untuk apa.

“Sedang apa kau?” Aku memandang layar laptopku. Twitter. Sialan, dia meminjam laptopku hanya untuk twitteran?

“Aku cuma ingin memberitahukan ELF lewat twitter kalau aku baik-baik saja. Aku yakin pasti banyak ELF yang menyadari kalau aku tidak ada di show hari ini.” Ucapnya sambil mengetikkan sesuatu di box tweet.

“Bu-buat apa? Bukankah tempatmu berada bisa di­-search kalau kamu mengetweet?” Tanyaku. Aku memang gaptek soal ini.

“Aku hanya tidak mau ELF mengkhawatirkanku. Sudah banyak mention masuk dari ELF Indonesia kenapa aku tidak ada hari ini.” Jawabnya.

“Segitukah? Segitukah rasa pedulimu pada ELF?” Tanyaku ragu.

“Yaiyalah!” Ujarnya enteng. “Aku sudah menganggap ELF seperti dongsaengku sendiri. Aku sangat menyayangi mereka. Tanpa mereka, aku tidak akan ada di sini sekarang.”

Kata-katanya begitu menyentuh. Aku tidak tahu ada idola yang segini banget sama fansnya. Yang kutahu idola-idola jaman sekarang mana ada yang peduli sama fansnya. Mereka hanya peduli dengan ketenaran dan popularitas mereka. Mereka ngebaikin fans saat ada haters aja. Yah, hal ini kupelajari saat aku masih ngefans dengan salah satu boyband Indonesia dulu. Aku malas menyebutkan namanya. Tapi tenang saja, sekarang aku bukan fans mereka lagi.

“Saat aku lupa arah pulang ke dorm, ELF lah yang membantuku. Saat aku kecapek-an sehabis konser, capekku hilang begitu saja melihat senyuman para ELF. Saat aku membutuhkan tempat untuk curhat, salah satu dari ELF Thailand datang padaku. Saat SJ di bash oleh fandom lain, ELF pula yang berjuang melindungi kami. Banyak sekali kenangan yang sudah terbentuk antara kami, Super Junior dan ELF. Entah sampai kapan Super Junior bisa bertahan, karena sebentar lagi aku dan Teuk hyung akan pergi wamil dan meninggalkan Super Junior, kami dan ELF tetap dalam satu ikatan. ELF dari negara lain bersusah payah belajar bahasa Korea hanya demi kami. Mereka juga merelakan uang mereka hanya untuk membeli tiket konser dan album-album kami. Aku saja menganggap aku masih belum bisa membayar pengorbanan mereka hanya dengan menyanyi dan menari. Susah payah aku menyenangkan hati mereka dengan berencana membuat lagu untuk ELF di dunia. Tapi sayangnya belum berhasil. Ingin sekali rasanya aku memeluki ELF di dunia satu per satu…”

Aku mematung. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Se… segitukah? Sebesar itukah ikatan antara mereka? Aku tidak pernah berpikir mengenai hal itu. Aku tidak percaya ada idola yang menganggap fansnya segitu eklusifnya. Tapi kali ini aku harus percaya karena kata-kata itu keluar dari mulut sang idola sendiri.

“Kenapa diam? Ingin berpaling jadi ELF?” Godanya sambil mencuil daguku. Saat-saat dramatis tadi terpaksa buyar gara-gara si pabo ini.

“Anioo! Ani selama orang sepabo kau masih ada di Super Junior.” Balasku ketus.

“Jadi kau akan jadi ELF kalo aku keluar dari SJ?” Tanyanya. Dia memasang tampang aegyo yang minta ditendang.

“Jangan bercanda! Cepat makan mie-mu sebelum kutumpahkan ke kepalamu!” Seruku sambil memukulnya dengan guling. Dia tertawa. Malam itu entah kenapa aku merasa sangat bahagia. Dirumah, hanya berdua dengan seorang namja asing yang bahkan nama panjangnya belum kuketahui sampai sekarang.

***

            Aku mengempaskan pantat di atas bangkuku. Aku memandang sekeliling. Cewek-cewek di kelasku tampak sedang berkumpul. Ngapain mereka sepagi ini udah bergossip? Aku menghampiri mereka.

“Eh, ada apa nih pada ngumpul-ngumpul?” Tanyaku langsung mengambil tempat di sebelah Tata dan Ha Na.

“Kamu udah tau soal tweet Yesung semalem, Fir?” Tanya Ha Na. Aku mengangguk.

“Memangnya kenapa? Itu artinya dia baik-baik saja kan? Sudahlah, kayak gitu aja diributin.” Jawabku.

“Bukan itu maksudku.” Seru Ha Na. “Abis Yesung ngetwit kayak gitu, Kyuhyun nge-RT, em… istilahnya ngebaleslah, dia ngebales ‘mianhae’, yang maksudnya maaf.” Jelas Ha Na, yang langsung menyadari kalo aku bukan anak twitter.

“Oiya?” Aku memang sedikit kaget mendengarnya. “Bisa aja Yesung sakit, lalu itu gara-gara Kyuhyun. Jadinya Kyuhyun minta maaf. Bisa aja kan? Kyuhyun kan jahat banget sama hyung-hyungnya itu.” Ujarku sok nyambung. Sekarang anak-anak sekelas pada ngeliatin aku bingung. “Ke-kenapa?”

“Kamu kan bukan ELF. Tau darimana kalo Kyuhyun itu evil?” Ha Na membuka mulut. Aku menyadari kebodohanku. “Tau darimana kalo dia jahat sama hyung-hyungnya? Kalo kamu tau dia jahat sama hyungnya berarti kamu tau dia paling muda. Kamu tau darimana?” Ha Na tampak curiga. Glek. Tewak.

“Lalu…” Sekarang Icha dan Tata yang bersuara. “Daritadi aku penasaran, Fir. Kamu kan nggak ngerti dan nggak punya twitter. Tau darimana soal tweet-nya Yesung?”

Aku terkena struk mendadak. Pabo pabo pabo! Kenapa sih aku dilahirkan sebagai manusia yang selalu keceplosan! Aku ketularan pabonya Yesung nih kayaknya.

“Ng… itu…” Aku menjungkirbalikan otakku mencari alasan yang tepat.

“Eh! Yesung ngetwit lagi nih!” Tiba-tiba salah satu temanku berteriak. Otomatis teman-teman cewekku yang lain langsung pada mengerubunginya. Thanks God

Tunggu sebentar. Kalo Yesung ngetwit berarti dia make laptopku lagi dong! Sialan. Si bodoh itu seenaknya saja gunain laptopku.

Teman-temanku membisu untuk beberapa saat. Tampaknya ada yang nggak beres.

“A-ada apa? Yesung ngetwit apa?” Tanyaku menerobos masuk.

“Siapa cewek ini?” Icha tampak histeris sambil memandangi layar ponsel temanku tadi.

“Cewek apa?” Tanyaku. Icha memberikan ponsel tadi kepadaku. Aku melongo melihat apa yang ada disitu. Sebuah foto. Foto seorang cewek yang dipotret dari belakang sambil tidur. Dan aku tau siapa cewek itu. ITU AKU! Masih dengan piamaku semalam. Yesung Pabo!! Buat apa dia ngupload ini?!

Di atas foto tersebut, ada tulisan-tulisan hangeul dan emotikon ala Korea. “Ha Na! Tulisan apa ini? Apa arti hangeul ini?” Ujarku panik sambil menyodorkan ponsel itu kepada Ha Na. Ha Na mengambilnya dan menatapnya sebentar.

“Hmm… artinya,” Ha Na masih menatap layar ponsel itu. “Kuberitahu yah, perempuan ini adalah perempuan ini adalah perempuan yang bodoh… itu artinya.” Tanganku langsung mengepal tinju. Cowok sialan itu sudah keterlaluan. Liat saja, habis dia di rumah nanti.

“Apa maksudnya? Jangan-jangan itu pacarnya Yesung?” Terka Tata.

“BUKAN!! CEWEK ITU BUKAN PACARNYA!!!” Aku langsung berteriak memprotes ucapan Tata tadi. Kini semua mata mengarah kepadaku. Oh sial. “Maksudku, aku yakin itu bukan pacarnya Yesung. Nggak mungkin kan dia menyebut pacarnya sendiri pabo, eh bodoh?” Ucapku lebih tenang. Mereka sudah nggak ngeliatin aku lagi mendengar penjelasanku. Tapi aku merasa masih ada yang mengawasiku.

“Bener juga sih.” Komentar Tata. “Jadi ini siapanya dong? Kenapa dia ngupload foto cewek ini?” Teman-temanku mulai ribut menerka-nerka. Aku bersumpah akan menggorok leher si bodoh itu sampai rumah. Aku memegangi rambutku takut sampai ada yang menyadarinya. Untung saja dia memotretnya dari belakang.

Panggilan untuk Shafira Firdaus, kelas XII IPA 2, harap menemui Bu Ariana di ruang multimedia. Sekali lagi…” Tiba-tiba speaker kelas berbunyi. Aku langsung menyadari bahwa akulah yang dipanggil.

“Eh, aku dipanggil tuh. Duluan ya!” Ucapku kepada teman-temanku sambil melambaikan tangan.

***

            “Hah?! Dua hari lagi!?” Mataku nyaris keluar saat mendengar apa yang Bu Ariana katakan.

“Loh? Kamu lupa? Bukankah ibu sudah pernah bilang?” Bu Ariana tampak terkejut dengan reaksiku. “Waduh, kamu masih muda pikun. Untung saja ibu ingatkan lagi. Jangan-jangan kamu belum belajar?” Tanyanya curiga. Aku buru-buru menggeleng.

“Ti-tidak bu! Saya sudah belajar. Cuma, saya sedikit shock saja. Soalnya masih ada beberapa materi yang belum saya mengerti.” Ujarku ngeles. Padahal memang aku belum belajar.

“Yasudah, kembali ke kelas.” Pinta Bu Ariana. Aku mengangguk.

Buset! Olimpiade Biologinya 2 hari lagi! Bisa-bisanya aku lupa akan hal sepenting ini! Mana aku belum belajar. Kok aku bisa lupa ya? Pasti gara-gara ngurusin urusannya si pabo itu. Sial, bagaimana ini? Dua hari nggak akan cukup buatku mempelajari semuanya. Cowok itu harus bertanggung jawab.

“Dasar, cowok itu…”

“Cowok siapa, Fir?” Aku menoleh. Icha dan Tata berdiri di sampingku dengan wajah penasaran. Sial. Sejak kapan mereka disini?

“Ah, bukan. Bukan siapa-siapa.” Jawabku gugup. Memangnya kalau aku bilang Yesung, mereka bakalan percaya?

“Iiih! Fira udah main rahasia-rahasiaan ya… jujur aja, kita janji kok nggak bakal kasih tau siapa-siapa. Andi? Seno? Andre?” Paksa Icha. Sialan. Kenapa menyebutkan nama cowok-cowok yang paling jelek di sekolahku?

“Beneran deh bukan siapa-siapa…” Aku mengibarkan 2 jariku untuk meyakinkan mereka.

“Aaah masaaa?” Tata tampak ragu. Kedua sahabatku ini memang tidak pernah mudah percaya dengan omonganku.

“Seriuss!” Aku bersikeras. Mereka hanya manggut-manggut sok ngerti. “Se-sehabis kursus bahasa Korea kalian mau kemana? Aku yakin banget kalian nggak bakalan langsung pulang.” Ucapku membuka pembicaraan baru.

“Oh iya, ya Ta? Kita kemana nih? Aku dimarahin nyokap kalo ke mall terus.” Ujar Icha sambil menoleh ke arah Tata. Tata tampak berpikir.

“Eh, kita kerumah Fira aja, Cha!” Seru Tata. Aku terkejut. “Gimana, Fir? Kita kerumahmu aja ya! Sekalian ngerjain PR metik yang kemaren! Ayolaaahhh…”

“NGGAK! NGGAK BISA!” Seruku keras. Tata dan Icha memandangku heran. “Maksudku… ya iya, gak bisa.”

“Kenapa?” Tanya Tata heran.

“Ya karena…” Aku memikirkan alasan yang pas. “Karena 2 hari lagi aku mau olimp. Dan aku mau belajar dirumah. Hehe…” Aku terkekeh dengan perkataanku yang sebenarnya sama sekali tidak lucu. Tampaknya aku sudah mulai gila.

“Oohh…” Icha dan Tata tampak kecewa. Maaf ya, temen-temen, sebenarnya ini bukan kemauanku. Oh, aku merasa bersalah banget sama mereka berdua.

***

            “Huaaahhh…” Aku menguap lebar sekali. Air mataku sedikit menggenang saking ngantuknya. Tapi aku masih menatap buku biologi yang setebal kasur di depanku.

“Shafira? Gwaenchana?” Yesung menatapku. Aku mengangguk.

“Ne. Gwaenchana.” Jawabku singkat dan kembali menelusuri fungsi-fungsi mikroorganisme.

Sejak tadi sore, aku sama sekali tidak berniat untuk melakukan apapun selain belajar. Mengingat bahwa 2 hari lagi aku akan dihadapkan dengan soal-soal olimpiade yang pasti susahnya nggak ketulungan itu. Bahkan, saking paniknya aku tidak sempat memarahi Yesung dan menendangnya lantaran hal yang diperbuatnya semalam. Dia memang beruntungs saat ini.

“Kamu nggak lapar?” Aku menoleh. Yesung menatapku dengan tatapan yang sulit kuterjemahkan. Dia masih memegang sebuah piring lengkap dengan sponsnya di tangan yang lain.

“Ani. Lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku tidak apa-apa. Oya, mian karena sudah menyuruhmu mencuci. Aku benar-benar tidak sempat.” Ujarku, masih dengan bahasa Korea yang amburadul. Aku menoleh ke arahnya lagi. Yesung sudah tidak ada di tempat tadi. Sudah kuduga namja itu hanya pura-pura saja mengkhawatirkanku.

“Fira…” Aku terkejut dan buru-buru menoleh. Aku langsung menjauh saat menyadari kalau tadi wajah Yesung hanya berjarak sepuluh senti dari wajahku.

“Ya! Pabo! Ngapain kau disini! Bikin kaget aja.” Ujarku memukulnya. Dia tertawa.

“Ya terserah aku mau berada dimana.” Jawabnya. Tiba-tiba aku menguap lagi. Pasti tampangku kucel banget sekarang. Ya Tuhan… aku benar-benar ngantuk.

“Kamu ngantuk.” Tuturnya. Hei! Anak bayi juga tau kalau menguap berarti ngantuk! Bisa-bisanya SM Entertainment menerima orang sepabo dia.

“Kamu nggak laper kah? Daritadi sore nggak ada makan. Ngapain sih kamu? Baca buku terus. Aku sampe bosan gara-gara kamu nggak mengajakku ngobrol seharian ini.” Ucapnya lagi.

“Oh, kamu kangen ya ngomong sama aku?” Godaku.

“Aish! Kamu memang selalu kepedean.” Protes Yesung. “Kamu sebenarnya ngapain sih? Belajar? Buat apa?” Tanya Yesung lagi sambil membuka-buka buku biologiku.

“Dua hari lagi aku akan mengikuti olimpiade Biologi.” Ujarku sambil mengucek-ngucek mata. “Aku bener-bener harus belajar tekun buat yang ini. Aku sudah 2 kali gagal tahun lalu. Aku nggak mau gagal lagi buat yang kali ini.”

“Waeyo?” Tanyanya. “Kenapa kamu pengen berhasil?”

“Kamu benar-benar pabo ya…” Ucapku pasrah atas kepaboannya. “Nggak ada orang yang nggak mau berhasil, Yesung… termasuk aku.”

“Bukan itu maksudku.” Yesung tampak berdecak. “Maksudku, kenapa harus setekun ini? Sampe nggak makan, nggak tidur, dan nggak ngobrol denganku seharian… memangnya sepenting apa perlombaan itu?”

Aku menunduk. Menemukan kata-kata yang pas. “Hm… aku benar-benar ingin menang dalam olimpiade ini. Hadiahnya sangat besar. Aku ingin sekali membantu eommaku mengurus sawah dan peternakannya di desa. Aku benar-benar ingin membanggakannya. Aku harus bisa meneruskan jejak appaku…” Ucapku dengan sendu. Kata-kata tadi tulus. Tulus dari dalam hatiku.

Yesung memandangku. “Appamu? Me-memangnya appamu kemana?” Tanyanya. Aku masih menunduk. Aku selalu sedih jika ada yang menyanyakan hal ini.

“Appaku sudah tiada.” Ucapku datar. Yesung tampak terkejut. “Beliau meninggal sebelum aku lahir. Yang aku tau tentangnya, dia sangat mencintai eommaku dan aku yang masih dalam kandungan saat itu. Dia tertabrak mobil waktu hendak menuju rumah sakit dimana aku dilahirkan. Eommaku hanya bercerita bahwa ia tampan, bijak dan selalu melindungi eommaku. Aku benar-benar ingin membalas jasanya. Aku ingin membahagiakan eommaku dengan tanganku sendiri. Makanya aku mengikuti olimpiade ini. Hadiahnya aku yakin bisa membantunya.” Lanjutku masih menunduk. Yesung masih mematung. “Sejak appaku meninggal, keadaan perekonomian kami menurun drastis. Eommaku sampai harus menjual rumahnya. Yang tersisa hanya rumahnya di desa, dan rumah ini. Akupun tidak rela kalau harus membebani eommaku terus. Maka aku mencari beasiswa dan akhirnya bisa sekolah di Jakarta. Aku menjalani hidupku disini dalam kesendirian. Aku masak, nyuci dengan tanganku sendiri. Dan… jujur. Aku bersyukur kau datang.” Ucapku mengangkat wajahku dan mengembangkan senyum. Yesung masih menatapku dengan tatapan kosong.

Tak lama dia mendekatiku. Dan untuk kali ini aku tidak menghindar. Dia terus mempersempit jarak antara aku dan dia. Tapi dia berhenti saat sudah cukup dekat denganku. Dia memegang pundakku. Menatapku.

“A… aku… aku minta maaf karena mengingatkanmu dengan kejadian pahit ini. Aku tidak menyangka aku termasuk ke dalam orang yang beruntung karena masih memiliki appa dan eomma lengkap. Sabar ya, Fira-ah. Aku yakin pasti kamu akan memenangkan lomba ini. Aku yakin. Aku yakin kamu pasti bisa membahagiakan eommamu.” Tuturnya sambil tersenyum menatapku. Omo… dia ganteng sekali. Dengan senyum yang masih terukir di bibirnya itu. Aku menjilat kembali kata-kataku yang mengatakan kalau dia tidak ganteng.

“Hei…” Dia melepaskan pegangannya dan beranjak dari kasurku. “Kamu makan ya? Tadi aku buatin ramen enak deh!” Serunya.

“Mwo? Ramen? Kamu dapat darimana bahannya?” Tanyaku terkejut.

“Loh? Bukannya semalam kamu juga membuatkanku ramen? Aku memakainya!” Jawabnya sambil berjalan menuju dapur. Aku menepuk jidat. Pasti yang dia maksud mie instan kemaren. Sudah berapa lama sih dia tinggal di Korea? Kok ramen disamakan dengan mie instan? Pabo.

“Ini…” Dia datang dengan semangkuk ramen-nya dan segelas air putih. Pintar juga namja ini mempelakukan yeoja.

Aku menelan sesendok ramen-instannya itu. Oh ternyata ada cumi-cuminya juga. Aku tidak heran karena memang di kulkasku ada beberapa lauk. Tapi ada yang aneh dengan rasanya. Terlalu amis dan lembek.

“Ya! Yesung! Cumi ini kamu masak dengan cara apa? Kok aneh gini rasanya?” Tanyaku sambil mengunyah-ngunyah cumi-cumi itu.

“Tidak kumasak.” Jawabnya datar. Jantungku berhenti. “Hanya eommaku yang mengerti cara memasaknya, jadi, daripada salah, kucemplungkan saja langsung cumi itu.”

HOEK!!!! Aku langsung memuntahkan cumi mentah yang ada di mulutku saat ini. Yesung terkejut melihatku. Tapi tak lama dia tertawa.

“Waeyo? Apa tidak enak?” Tanyanya di sela tawa. Aku memandangnya sambil memasang tampang pembunuhku.

“KAMU NYARIS SAJA MEMBUNUHKU!!!!” Seruku sambil menaruh mangkok ramen-instan itu dan menghujaninya dengan pukulan. Dia menghindar tapi tetap saja kupukuli. Aku ingin memukulinya sampai babak belur. Aku benar-benar sudah tidak tahan dengan kepaboannya. Dia terlalu pabo tinggal dirumahku.

“Fira! Fira! Ya! Sudah! Sakit tau! Jebal!!” Serunya. Aku berhenti memukulnya.

“Makanya! Jadi namja jangan pabo-pabo!” Ucapku. “Pantas saja sampai sekarang tidak ada yeoja yang mau denganmu.” Lanjutku.

“Mwo? Tidak ada yeoja yang mau denganku?” Dia menyeringai. “Ribuan ELF dan CLOUDS diluar sana pasti sudah kebelet menikahiku, Fira-ah.” Ucapnya sambil tertawa. “Dan begitu juga kau kan?”

Mendengar kata-katanya yang ngelantur itu aku kembali memukulinya. Dia terus tertawa.

“Aish!” Aku melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukan pukul 11 malam. “Gara-gara kau aku jadi nggak belajar! Minggir!” Aku menggulingkannya dari kasurku.

“Fira, tidur saja. Ini sudah malam. Besok lagi belajarnya.” Ucapnya.

“Anio!” Bantahku. “Kau saja yang tidur!”

Yesung tampak bingung. “Aku? Sekarang?”

Aku memandangnya gemas. “Ne! Siapa lagi!” Dia masih memasang wajah heran. “Waeyo?”

“Ani…” Dia menjawab. “Hanya saja, sudah lama sekali aku tidak tidur jam segini. Biasanya aku akan tidur sekitar jam 1 dan bangun jam 5. Kemarin saja aku masih sempat memotretmu karena tidur jam 2 malam. Yah… mungkin saatnya aku break.”

Aku memandangnya yang sudah membalikkan badan ke arah ruang tamu. Benarkah kata Icha? Yesung dan member lain hanya tidur 4 jam? Oh, aku bakalan tidur sepanjang hari di sekolah kalau seperti itu.

***

            Kulirik arloji merah di tanganku. Sudah pukul 5 sore, seharusnya kursus bahasa Korea hari ini sudah selesai. Kulihat seonsaenim. Dia masih mangap-mangap nggak jelas dengan tongkat kayu di tangannya. Hari ini topik yang dibahasnya adalah bahasa Korea dalam ilmu fisika dan kimia. Dan tentu saja aku sama sekali nggak minat. Aku mengikuti kursus ini hanya untuk berbicara dengan Yesung. Dan tampaknya aku terjebak semakin dalam dengan hal ini.

“Omo!” Seonsaenimku ini tampak terkejut saat melihat jam dinding. Ia buru-buru menyelesaikan pelajaran. “Baiklah, pelajaran kali ini cukup sampai sini. To mannayo!”

Aku memasukkan buku-bukuku ke dalam tas dengan lemas. Entah kenapa hari ini aku sama sekali tidak bergairah. Mungkin karena kamus biologi setebal kasurku itu selalu kugendong kemana-mana. Oh, olimpiade ini ternyata nggak semudah yang kupikirkan.

“Fira.” Aku menoleh. Ha Na menatapku tajam. Ada apa lagi?

“Apa?” Responku cuek.

“Ada yang perlu kutanyakan. Jangan pulang dulu, temui aku di depan gerbang sekolah.” Ucapnya sembari menutup kotak pensilnya. Aku hanya mengangguk malas. Aku yakin yang ia tanyakan tak jauh-jauh dari Super Junior. Tapi… buat apa dia bertanya padaku? Bulu kudukku langsung bergetar.

***

            Aku berjalan terseok-seok ke gerbang. Kulihat Ha Na sudah menunggu disana dengan tangan dilipat didada. Cih, sok sekali gaya anak itu. Aku mendekatinya.

“Apa yang mau kamu omongin? Ini sudah sore banget, jadi cepetan yah.” Ucapku sambil melirik arlojiku.

Ha Na menoleh kanan-kiri. Tampaknya ini bukan pembicaraan umum. “To the point, atau basa-basi?” Tanyanya.

To the point.” Jawabku mantap. Ha Na menarik nafas dalam-dalam.

“Kamu tau dimana Yesung?”

Penyakit jantungku kambuh lagi. Dadaku berdegup tak keruan. Demi apa aku kaget banget dengan pertanyaan Ha Na. Mustahil dia sudah tau.

“Y-ya enggak lah! Kamu gila ya? Nggak mungkin aku tau Yesung dimana dan nggak ngasih tau kalian semua.” Ujarku berusaha tenang. Kalau saja Yesung nggak minta keberadaannya dirahasiain pasti sudah dari kemaren aku sebarin seantero sekolah. Kulihat Ha Na menyeringai.

“Tapi kamu tau darimana soal tweet-nya Yesung? Soal Kyuhyun?”

Skak mat. Aku sudah menyerah membalas apa. Aku menunduk. Mati-matian aku memikirkan alasan yang pas. Ha Na masih menyeringai. Ya Tuhan, berikanlah hamba penerangan…

“Non?” Aku dan Ha Na langsung menoleh ke sumber suara. Di ujung sana berdiri satpam botak tolol kepercayaan sekolah. “Gerbangnya sudah mau ditutup loh, kok belum pulang?” Tanyanya dengan tampang lugu. “Oiya, itu mobilnya non Ha Na juga udah ada di depan.”

“Eh, iya-ya? Jam berapa ini? Aah! Sudah sore banget. Pasti kalo ibuku tau aku bakalan dimarahin.” Ucapku dengan gugup. “Han, besok aja ya dilanjutinnya. Kamu juga udah dijemput tuh. Bye!” Aku langsung mengambil langkah seribu dan meninggalkannya.

Thanks satpam botak… aku berhutang budi kepadamu.

***

              “Annyeong.” Aku membuka pintu kamarku. Yesung ada disana. “Sedang apa kau?” Aku melempar tas ke arah kasur dan langsung duduk di samping Yesung. Dia sedang menatap layar TV.

“Kau buta? Aku sedang menonton TV.” Ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari TV-ku. “Suara Siwon dan Donghae aneh sekali di drama skipbeat. Padahal suara mereka berdua nggak seperti itu.”

Aku mendelik. “Jadi maksudmu Indonesia kurang pintar menentukan dubbing? Suara mereka berdua saja yang aslinya aneh.” Ucapku cuek. Padahal aku tidak tau siapa Siwon dan Donghae.

“Tidak adakah acara Indonesia yang bagus? Semuanya tidak kumengerti.” Gerutunya sambil mengganti-ganti channel secara random. Ya iyalah pabo! Semuanya pake bahasa Indonesia. Aku yakin dia akan ketagihan menonton Tutur Tinular.

“Rabu, 3 Mei 2012. Baru saja boyband papan atas terbaik di Asia, Super Junior, menyelesaikan konser mereka yang diadakan di Mata Elang International Stadium Ancol, Jakarta Utara selama 3 hari berturut-turut. Boyband yang beranggotakan Leeteuk, Shindong, Sungmin, Eunhyuk, Donghae, Siwon, Ryeowook, Kyuhyun, dan Yesung baru saja menerangkan, kenapa selama Super Show 4 hari kedua dan ketiga Super Junior Yesung tidak hadir dalam konser itu.”

Aku langsung antusias mendengar berita di channel Arirang World tersebut. Kupadang Yesung pelan. Wajahnya juga sama antusiasnya denganku. Oh, itu artinya Yesung mengerti apa yang diucapkan presenter itu dengan bahasa Inggris.

“Hei. Kenapa namaku disebutkan terakhir?” Ucapnya tiba-tiba. Sudah kuduga namja satu ini gak bakalan mengerti. Kutempeleng kepalanya.

Leeteuk, leader dari Super Junior menjelaskan bahwa telah terjadi pertengkaran antara Yesung dan salah satu member Super Junior lainnya. Dia juga menerangkan bahwa Yesung pergi dari hotel setelah pertengkaran itu terjadi. Entah karena marah dan tidak bisa mengendalikan emosinya atau lawan bertengkarnya yang mengusirnya dari hotel. Tim Arirang langsung datang ke Jakarta setelah mendengar berita ini. Berikut secuplik wawancara kami dengan mereka…”

              “Apa yang sebenarnya terjadi dengan Super Junior Yesung?”

              “Ehm… terjadi pertengkaran kecil antara… antara Yesung dengan member lainnya. Pertengkaran ini terjadi tepat setelah hari pertama konser. Padahal sebenarnya ini hanyalah pertengkaran kecil, tapi entah kenapa Yesung menjadi marah sekali dan keluar dari hotel. Staff management kami telah mencari ke beberapa tempat di Jakarta tapi hasilnya nihil. Yesung tak ditemukan dimanapun. Kami juga sudah berusaha mencari tempatnya lewat tweet yang dikiriminya hari Sabtu lalu tapi tetap tidak ada hasil. Dan masih ada misteri yang belum kami pecahkan, Yesung mengupload foto seorang yeoja dari belakang di twitternya dan mengatakan bahwa dia adalah yeoja pabo. Tapi apa daya, tidak sedikit yeoja seperti itu di Indonesia. Sehingga mencarinya tidak mudah…” Kulihat member yang memberiku bunga waktu itu berbicara dengan wajah cemas.

              “Apakah itu berarti Yesung sedang bersama seorang perempuan? Dia tinggal bersama perempuan sekarang? Apakah itu tidak akan menimbulkan skandal untuk SJ?”

              Kali ini member yang di sebelahnya yang berbicara. “Untuk hal itu, kami pikir belum akan terjadi. Informasi ini masih belum jelas. Nitizen atau siapapun tidak mungkin memberitakan hal ini hanya berpegang pada foto yang diupload Yesung itu. Sekalipun itu terjadi, kami yakin ELF akan melindungi kami.” Ucapnya. Donghae. Itulah nama yang tertera di bawah. Cih, pede sekali bakalan dilindungin ELF.

Kemudian, jika boleh kami bertanya, siapakah lawan bertengkar Yesung saat itu?”

Kali ini kulihat semua member diam dan menunduk. Donghae menyenggol-nyenggol lengan member yang berada di sebelahnya. Begitu juga dengan Shindong dan member disebelahnya. Leeteuk terlihat sangat canggung. Jika aku berada di sana, aku akan langsung berteriak…

Aku.” Member yang awalnya berada di belakang Shindong langsung maju sambil mengangkat tangannya. Wajahnya datar tanpa ekspresi.

Oh, kau Cho Kyuhyun. The maknae of Super Junior. Bagaimana bisa semuanya terjadi? Apa kau tidak merasa bersalah?”

              “Untuk kronologisnya, itu adalah privasi kami. Sebenarnya ini hanya masalah kesalahpahaman kecil. Yesung hanya… maksudku Yesung hyung hanya emosi saat itu…

              “Huh… kau yang emosi. Jerk.” Yesung mendesis. Kulihat wajahnya yang menunjukan kemarahan.

Tapi sebagian besar ini adalah kesalahan Yesung hyung sendiri. Dia tidak mengerti perasaan dongsaengnya sendiri. Dia merasa hebat karena paling tua diantara kami terkecuali Leeteuk hyung. Dia hanya…” Shindong menyenggol Kyuhyun. Cowok gemuk itu memberi kode kepada Kyuhyun agar tidak banyak bicara. Jujur, memang Kyuhyun sudah keterlaluan. Masih saja dia menjelek-jelekan Yesung. Seharusnya Shindong menindisnya, tidak hanya menyenggolnya.

Kami pikir hanya itu informasi yang kami bisa berikan saat ini.” Tutup Leeteuk. “Yesung, dimanapun kau berada sekarang. Kami semua membutuhkanmu. Kembalilah. Kyuhyun sudah memaafkanmu.”

              Reporterpun kembali basa-basi dengan bahasa Inggris.

Aku menatap Yesung yang langsung mematikan TV. Wajahnya dipenuhi dengan luapan emosi.

“Siapa yang butuh maafnya Kyuhyun? Dia yang salah! Pabo Leeteuk hyung! Dia tidak mengerti apa-apa!” Serunya marah-marah.

“Jadi…” Aku berkata pelan, takut salah omong. Yesung tampak sangat marah saat ini. “Kau nggak berniat kembali?”

“Anio!!!!” Bentaknya. Ludahnya muncrat kemana-mana. Sialan. “Sudah. Lupakan hal itu. Sekarang kamu mandi, makan, dan setelah itu belajar. Kamu nggak mau ngecewain eommamu kan?” Tiba-tiba saja wajahnya berubah menjadi hangat. Namja satu ini memang hebat menempatkan diri.

“Ne.” Ucapku pelan dan mengambil langkah seribu ke kamar mandi.

***

-KYUHYUN POV-

“Kyuhyun! Kamu sudah sangat keterlaluan! Kamu tidak sadar apa yang tadi kamu ucapkan di depan arirang?” Bentak Leeteuk hyung kepadaku. Dia sedang mondar-mandir dihadapanku seolah-olah aku adalah terpidana yang sedang disidang.

“Ne, Kyu. Hyung benar. Kamu sudah kelewatan.” Kali ini Sungmin hyung yang berbicara. Nadanya terdengar lebih lembut. Kenapa mereka ini? Mereka tidak mengerti perasaanku sama sekali. Semuanya hanya membela Yesung hyung. Oh, aku tidak akan mau menyebutnya dengan hyung lagi. Apakah kalau aku yang pergi aku yang dibela? Kurasa tidak. Mereka tidak pernah memikirkanku.

“Tapi aku tidak terima, hyung!” Aku bangkit dari sofa hotel sambil memandangi hyung-hyungku satu per satu. “Kalian semua tidak ada yang mengerti aku! Semuanya hanya memikirkan Yesung! Tadi aku hanya berbicara sesuai dengan fakta! Memang Yesunglah yang salah! Dia yang seenaknya menyuruh-nyuruhku! Kalian tau? Dia membanting PSP-ku! Pe-Es-Pi-ku!!!!” Pekikku dengan sekuat tenaga. Aku benar-benar kehilangan kendali saat ini.

“Bukan seperti itu, Kyuhyun. Kami bukannya tidak memikirkanmu. Hanya saja sekarang Yesung hyung hilang. Jika kau marah-marah dan memakinya di depan layar kaca seperti itu hyung tidak akan kembali. Coba tadi kau meminta maaf, mungkin saja Yesung berpikir 2 kali untuk meninggalkan kita…” Sekarang Ryeowook hyung yang berbicara.

“Tapi memang bukan aku yang salah! Kalian semua tidak tau apa yang terjadi sebenarnya! Jadi jangan terus-terusan menyalahiku!” Seruku lagi.

“Kyuhyunnie!” Bentak Leeteuk hyung. “Berhenti berbicara tidak sopan seperti itu kepada kami! Kami lebih tau apa yang harus dilakukan sekarang, jadi kamu turuti saja kata-kata kami!” Lanjutnya dengan suara yang lebih tinggi. “Kami akan pergi mencari Yesung. Dinginkan kepalamu dulu!” Aku langsung terduduk kembali di sofa. Hyung-hyungku yang tadi duduk disampingku langsung berdirian mengikuti Leeteuk hyung yang beranjak meninggalkan kamar. Mereka semua memang tidak ada yang mengerti aku.

“Satu lagi.” Leeteuk hyung menolehkan kepalanya ke arahku. “Jangan berani-beraninya memanggil Yesung tanpa hyung.” Pintu ditutup. Aku mengacak-ngacak rambutku frustasi.

“Siapa sih maknaenya disini? Yesung atau aku? Kenapa Yesung lebih didahulukan?” Aku melempar bantal ke arah pintu. “Siapa yang biasanya menemaniku saat dimarahi hyung seperti ini?” Sepenggal ingatanku langsung muncul. Tiba-tiba aku tersadar. Yesung yang biasanya menemaniku disaat semua hyung memarahiku. Dialah yang biasanya mendengarkan ceritaku meskipun tidak penting. Dialah yang selalu memberiku saran jika aku ada masalah. Tapi kenyataannya dia tidak ada sekarang. Siapa yang akan menemaniku lagi kalau dia tidak ditemukan?

Sial. Kenapa aku merindukannya?

***

 To Be Continued

Advertisements

2 thoughts on “Kisah Tak Berjudul | Part II

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s