Love Thief

love-thief

Title                                     : Love Thief

Cast                                      : Shin Taeri, Cho Kyuhyun, Lee Hyukjae

Genre/Themes             : Romance, Police

Rating                                 : PG-13

Poster by ART FACTORY

Seorang namja berpakaian serba hitam yang nyaris tidak kelihatan dibawah sinar rembulan, berjalan perlahan—lebih tepatnya mengendap-ngendap menyusuri jalan setapak kecil di kompleks itu. Kini waktu sudah menunjukan pukul 12.30 KST, dan sudah tidak ada kehidupan yang tampak di perkomplekan rumah elit Gangnam-gu saat itu.

Dengan kewaspadaan yang sangat tinggi, namja itu masuk ke dalam sebuah rumah yang termasuk paling besar di kompleks itu. Sebuah rumah dengan krem pucat sebagai warna dinding depannya, atap berwarna merah menyala, dan sebuah kolam renang luas membentang di belakang rumah tersebut.

Hanya dengan sedikit usaha, namja itu sudah berhasil menginjakan kaki di taman rumah besar tersebut. Dadanya langsung berdegup saat menyadari bahwa tak jauh darinya terdapat sebuah bangunan kecil sebesar toilet umum dan didalamnya ada dua orang berpakaian seragam. Ia langsung menghela nafas saat mengetahui kedua orang berseragam itu sedang terlelap. Walaupun sebenarnya tidak ada yang perlu ia takutkan. Ia sudah sangat profesional mengerjakan hal ini.

Namja itu kembali ber-grilya menyusuri rerumputan di taman rumah itu. Tak jarang ia menginjak bunga atau apapun yang menghalangi jalannya. Kini ia sudah sampai di belakang pintu rumah. Pintu yang menghadap ke kolam renang.

Rumah itu benar-benar sunyi. Seolah-olah tidak berpenghuni. Namja itu berjalan menghampiri salah satu jendela disana dengan tumit, agar tidak terdengar suara sedikitpun. Ia menempelkan bagian belakang tubuhnya di dinding tepat di sebelah jendela itu. Telinganya mencari-cari bunyi yang mungkin bisa ditangkapnya.

Diam. Hening. Benar-benar tidak terdengar apa-apa.

Kini perlahan ia menggeser kepalanya ke arah jendela besar itu. Matanya menangkap bayangan sebuah ruang makan di celah-celah tirai yang menutupi jendela itu dari dalam. Ia bisa melihat sebuah meja makan besar dengan kursi-kursi banyak yang menghiasi setiap sudut mejanya. Tidak seorangpun tampak di sana. Namja itu mengangguk-ngangguk mengerti entah apa yang ia mengerti.

Kini ia berjongkok, mengeluarkan beberapa barang yang cukup tajam dari dalam backpack hitamnya. Dengan teliti ia mengutak-atik lubang pintu itu dengan dua buah alat di kedua tangannya.

Cklek. Pintu itu terbuka!

Namja itu membereskan semua peralatannya dan kembali menggendong backpack hitamnya itu. Kini ia berada di dapur rumah itu. Dengan penerangan redup tetapi masih bisa dijangkau penglihatannya. Ia berjalan menuju ruang makan tadi. Ia menengok kanan-kiri dengan waspada siapa tahu ada orang yang menyadari kedatangannya. Karena ia yakin pasti orang itu akan melakukan sesuatu kepadanya.

Namja itu—tanpa melepas sepatunya—berjalan menyusuri anak tangga rumah itu yang dilapisi karpet mahal berwarna merah. Tidak ada suara satupun yang terdengar di rumah elit itu selain suara nafasnya.

Tak lama, ia sudah berdiri di depan salah satu pintu di lantai dua. Ia menempelkan punggungnya pada dinding di sebelah pintu tersebut. Berusaha mendengarkan suara apapun yang keluar dari dalam kamar tersebut.

Berbeda dengan ruangan lainnya, kamar itu tidak sunyi. Ia bisa mendengarnya. Suara desahan dan suara-suara lainnya yang sedikit membuatnya merinding. Ia tau suara apa itu. Dan tak pernah ada dipikirannya membuat suara-suara seperti itu dalam waktu dekat ini. Namja itu menelan ludah dan beranjak pergi dari kamar yang di pintunya bertuliskan ‘KYUHYUN’.

Dia pantas mendapatkan ini, bisa-bisanya melakukan hal menjijikan seperti itu di hari kematian ibunya… gumammnya dalam hati. Kini ia sudah fokus dengan sebuah pintu kayu besar di hadapannya. Tanpa mengutak-atik hendel pintu itu dengan peralatannya, pintu itu sudah terbuka. Dan rasa pengap langsung menyerbu tubuh namja itu saat baru menginjakan kaki dalam ruangan gelap itu. Namja itu mengeluarkan sebuah senter dari dalam backpack-nya.

Dengan penerangan senternya ia bisa melihat dengan jelas sebuah meja kerja besar dan sebuah kursi kantor yang dapat berputar terbalut dengan debu. Ia mendekati meja dan kursi itu setelah menutup pintu ruangan. Ia menempelkan telunjuk kanannya di kursi itu. Ujung telunjuknya itu langsung dipenuhi dengan debu.

Kemana bajingan itu? Ruangan ini tampaknya sudah lebih dari seminggu tidak ia sentuh. Apakah berkas-berkas itu masih berada disini?

Namja itu kini mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan. Matanya menangkap sebuah lukisan besar di atas sebuah rak buku kecil. Senternya terus menelusuri setiap sudut lukisan itu. Dan tak lama ia sudah berdiri di atas rak buku kayu itu dan menggeser lukisan tersebut.

Dan seperti yang sudah dia duga dibalik lukisan itu terdapat sebuah lemari besi besar atau yang biasa disebut brangkas dengan sarang laba-laba di salah satu sudutnya. Namja itu tersenyum. Dengan cekatan ia mengutak-atik kunci putar brangkas besar itu dan hanya butuh waktu sekitar 5 menit pintu brangkas itu terbuka. Namja itu kembali menyunggingkan senyumnya saat melihat apa yang ada di dalam brangkas itu.

***

“Mwoya?! Pencurian lagi?!” Seorang yeoja menggebrak mejanya saat seorang yeoja lain memasuki ruangannya dan menyampaikan sebuah berita buruk kepadanya. Yeoja yang masuk itu mengangguk-ngangguk takut tanpa menatap wajah yeoja marah itu. “Kok bisa?! Daerah mana?! Aku yakin pasti korbannya anggota dewan kan?”

“N-ne, Taeri-ssi. Korbannya adalah rumah calon anggota dewan rakyat, Tuan Cho yang terletak di perkomplekan besar Gangnam-gu. Pencurian itu terjadi pada malam hari sekitar pukul 1-2 malam. Awalnya tidak ada yang menyadari si pencuri termasuk kedua orang satpam yang tertidur lelap di pos dan putra tunggal Tuan Cho. Tapi saat pencuri itu sudah membawa kabur sejumlah uang dan berkas-berkas penting dari ruangan kerja Tuan Cho lewat pintu belakang, seorang pelayan melihatnya dan langsung memanggil satpam. Tapi terlambat. Tampaknya pencuri itu sudah sangat profesional.”

“Apakah pelakunya sama dengan pelaku beberapa pencurian minggu lalu?” Kini yeoja yang bernama Taeri itu sudah berdiri dari kursinya dan berjalan menghampiri yeoja tinggi yang berpakaian serba hitam di depannya. Wajahnya benar-benar antusias dan matanya bergerak liar.

“Ne. Tampaknya sama. Soalnya ciri-ciri yang disebutkan setiap saksi mata sama.” Ujar yeoja itu sambil mengangguk kecil.

“Baiklah. Aku akan datang ke TKP. Gamsahamnida Sooyoung-ssi.” Kedua yeoja itu saling membungkukkan badan. “Eh tunggu sebentar!”

Yeoja yang bernama Sooyoung langsung berhenti dan menoleh. “Mwo? Ada apa lagi, Taeri-ssi?”

“Tadi kamu bilang siapa korbannya? Tuan Cho? Apa maksudmu…”

“Ne.” Sooyoung tersenyum simpul. “Tuan Cho yang anda maksud.” Tambahnya sembari berjalan keluar dari ruangan itu, meninggalkan Taeri yang masih menatapnya beku tanpa kata-kata.

***

“Kurasa ini ulahmu lagi, Lee Hyukjae.” Donghae melempar sebuah koran ke arah namja yang sedang asyik menonton sebuah TV hitam-putih kecil di hadapannya. Yang dimaksud langsung menoleh dan menangkap koran itu.

Namja bernama Hyukjae itu memandang headline utama koran itu, yang membahas tentang sebuah kasus pencurian rumah besar keluarga Cho. Hyukjae hanya membacasnya sekilas, dan langsung menutup koran itu.

“Kelihatannya kemampuan mencurimu sudah meningkat pesat ya, Hyuk. Rumah Cho Donghyun setauku banyak penjaga dan satpamnya loh.” Lanjut Donghae sambil mengaduk-aduk segelas teh di depannya. “Apa saja yang kau curi?”

“Tidak penting.” Jawab Hyuk singkat. “Hanya beberapa juta won dan beberapa surat kepemilikan rumah dan saham.”

“Kau gila.” Donghae berdiri dari duduknya dan mengambil tempat di sebelah Hyukjae. “Lalu kau apakan uang itu?”

Hyuk tersenyum simpul. “Kau tau tujuanku melakukan ini apa, Hae-ya. Lagipula si Cho Donghyun keparat itu pantas mendapatkan ini. Coba saja aku punya bukti agar koruptor itu dimasukkan ke penjara.” Hyuk meremas koran dihadapannya.

“Kau sudah tidak waras, Hyuk.” Donghae menekan-nekan tombol remot TV di tangannya. “Omong-omong, apa kau tidak ketahuan Cho Kyuhyun semalam? Dia ada di rumah kan?”

“Cho Kyuhyun?” Hyukjae menyeringai. “Cih, semalam dia malah bermesraan di dalam kamar dengan seorang yeoja.”

“Mwoya?!” Donghae terkejut. “Yeoja? Nugu? Apa yeojachingunya yang polisi itu?”

“Aku tidak menonton mereka secara terang-terangan, Hae-ya. Aku hanya mendengarnya.” Ujar Hyukjae malas.

“Ne, kau benar.” Donghae meneguk teh yang dibuatnya tadi. “Kyuhyun benar-benar berubah ya sekarang.” Ucap Donghae sambil menggosok-gosok dagunya, mengingat-ngingat kejadian beberapa tahun silam.

“Dia tidak pernah berubah, Hae-ya.” Hyuk berdiri dari sofa rongsokan yang tadi ia duduki dan langsung mengambil tas yang tersampir di samping pintu. “Dari dulu Kyuhyun memang licik dan brengsek.” Tambahnya sembari keluar dari ruangan itu.

***

“Kyuhyun!” Taeri berlari ke arah seorang namja tinggi dan tampan yang sekarang menoleh ke arahnya.

“Chagi?” Kyuhyun yang tampak bingung langsung dihujam pelukan dari gadis yang dipanggilnya chagi tadi.

“Gwenchanayo? Aku tidak menyangka semalam rumahmu kecurian.” Ujar Taeri masih tenggelam di pelukan Kyuhyun. “Kamu dirumah kan semalam? Apa kamu tidak melihat pelakunya?” Taeri melepas pelukannya pada Kyuhyun agar dapat menatap wajahnya.

Kyuhyun langsung terlihat panik. Keringatnya bercucuran. “A-ani. Aku… aku memang di rumah tapi aku sama sekali tidak menyadarinya.”

“Bagaimana bisa? Apa yang kau lakukan?” Taeri sekarang malah tampak seperti polisi yang sedang mengintrogasi pelaku. Kyuhyun masih terlihat panik.

“Aku… tampaknya aku sedang mandi saat itu.” Jawab Kyuhyun sambil menggaruk-garuk rambutnya. Taeri menatapnya intens.

“Kau yakin? Kejadiannya jam 1 malam loh.” Cibir Taeri.

“Yasudah, berarti aku sudah tidur saat itu.” Jawab Kyuhyun sambil berusaha terlihat santai. Taeri hanya manggut-manggut. “Kau kenapa sih chagiya? Kau menyangka aku yang merampok rumahku sendiri?” Selidik Kyuhyun.

Taeri tertawa renyah. “Aniyo, Kyu. Aku hanya penasaran saja.” Ujarnya sambil tersenyum. “Tenang saja, Kyu. Aku janji bakalan mengusut kasus ini secepatnya. Aku akan menyeret pelakunya di hadapanmu.” Ucap Taeri sambil berkobar-kobar. Wajahnya dibuat seserius mungkin. Kyuhyun hanya tertawa.

“Ne, gomawo chagiya.” Kyuhyun mengecup puncak kepala Taeri. Taeri membalasnya dengan senyuman tipis.

“Kyu, ayo kita makan siang bersama. Dari minggu lalu kita sama sekali tidak jalan bersama.” Taeri menarik-narik lengan Kyuhyun.

“Makan siang?” Kyuhyun kelihatan ragu. “Hm… bukannya tidak mau, tapi kamu kan masih ada kerjaan? Lagian aku juga masih banyak pemotretan, jadi—”

“Ne, aku tau. Yasudah.” Potong Taeri lesu. Kyuhyun tersenyum dan merengkuh dagunya.

“Jangan sedih, chagiya. Kita masih bisa makan lain kali.” Tutur Kyuhyun sambil mencium bibir Taeri sekilas. Taeri tersenyum tipis.

“Yasudah, aku pergi duluan ya, Kyu. Nanti aku telepon kalo sudah sampe.” Taeri beranjak pergi keluar dari rumah Kyuhyun sambil melambaikan tangan ke arah Kyuhyun.

Taeri masuk ke dalam mobil audi hitamnya. Ia memutar kunci mobil dan menurunkan rem tangannya. Sejujurnya, ia masih belum terima dengan penolakan makan siang tadi.

Aigo, apa-apaan Kyuhyun? Kenapa akhir-akhir ini setiap aku memintanya makan bersama dia selalu menolak? Ada apa sih sebenarnya dengan anak itu?

Taeri menginjak pedal gasnya. Audi hitamnya langsung melesat cepat membelah jalanan Gangnam-gu saat itu. Kini ada tempat yang harus ia tuju. Tempat dimana ada orang-orang yang membutuhkannya, dan tempat dimana ada orang-orang yang selalu memberinya solusi untuk setiap masalahnya.

***

“Gamsahamnida, Eunhyuk-ssi. Gamsahamnida. Jeongmal gamsahamnida.” Seorang yeoja tua terus-terusan berterimakasih pada Eunhyuk. Daritadi ia berlutu sambil menyatukan kedua telapaknya dan berkata ‘gamsahamnida’.

“Aish, jinjja… sudahlah, bu. Jangan seperti ini terus. Ini bukan uang yang banyak kok. Lagipula ibu tau kan saya sangat prihatin dengan keluarga-keluarga disini.” Jawab Eunhyuk sambil merengkuh tangan ibu tadi dan mengajaknya berdiri.

“Tapi kamu sudah terlalu sering membantu kami semua disini, Eunhyuk-ssi. Meskipun kami juga tahu kamu bukan dari kalangan yang berada.” Jawab yeoja paruh baya itu.

Eunhyuk tersenyum. “Saya memang suka membantu orang, bu. Saya iklas melakukannya. Dan darimana saya mendapatkan uang itu, ibu tidak perlu bertanya. Yang jelas saya iklas memberikannya pada ibu dan warga sekitar.” Ujarnya masih dengan bibir yang dihiasi senyuman.

“Baiklah, Eunhyuk-ssi.” Ibu itu memegang erat tangan Eunhyuk. “Gamsahamnida atas semuanya. Semoga kau diberkati Tuhan. Semoga tidak hanya kau dan Taeri ya yang melakukan hal-hal mulia seperti ini.”

Eunhyuk menaikkan alisnya. “Maksud ibu?”

“Ani, selain kamu ada juga seorang polisi wanita yang hobi membantu kami semua di sini. Ia sudah kuanggap seperti anakku sendiri. Namanya—”

“Annyeonghasimika!”

Eunhyuk langsung menoleh. Matanya membulat. Yeoja tua di depan Eunhyuk langsung menghampiri yeoja tadi. Eunhyuk masih tidak percaya dengan penglihatannya?

Taeri? Shin Taeri?

“Ri-ya… akhirnya kamu berkunjung juga. Sudah 2 hari lebih kamu tidak datang. Kemana saja?” Tanya ibu itu sambil memegangi tangan Taeri.

“Um… mianhae, eomma. Eomma tau kan, akhir-akhir ini banyak sekali pencurian di daerah Gangnam. Mau tidak mau aku harus menyelidiki pelakunya, mondar-mandir ke TKP, dan introgasi sana-sini.”

Dada Eunhyuk langsung berdegup kencang mendengar perkataan gadis di depannya itu. Eunhyuk langsung memasang tudung jaketnya. Ia berjalan menghampiri Sookyung—nama ibu paruh baya itu—dan langsung membungkuk.

“Hm… saya ada urusan penting, bu. Saya pulang duluan, annyeong.” Ujarnya sambil berjalan melewati Taeri yang memandangnya penasaran.

“Tunggu!” Sookyung langsung mencekal tangan Eunhyuk. Eunhyuk menoleh. “Apakah secepat itu? Ayo masuk dulu. Ibu membuat makanan yang enak. Lagipula ada Taeri disini. Kamu tidak mau berkenalan dulu?”

Taeri mengamati Eunhyuk secara baik-baik dari atas sampai bawah. Tiba-tiba sekelebat sosok namja dari masa lalunya muncul di benak Taeri. Ia langsung menutup mulut dengan tangan kanannya saat sadar siapa namja di hadapannya ini.

“Eunhyuk-ssi?!” Taeri berjalan perlahan menghampiri Eunhyuk. Eunhyuk langsung menoleh, memandang wajah Taeri yang tampak terkejut.

“Mwo? Kalian sudah saling kenal?” Sookyung yang tampaknya tidak mengerti apa-apa hanya dapat memandang mereka bingung.

“N-ne.” Jawab Eunhyuk ragu sambil memalingkan wajahnya ke arah lain. Menghindari tatapan Taeri. Taeri masih memandangnya takjub. Tak pernah ia memikirkan sama sekali bahwa ia dan Eunhyuk akan dipertemukan dalam keadaan seperti ini.

Hening.

“Mi-mian ganggu kalian, tapi daripada diluar berlama-lama mendingan kita masuk yuk?” Ajak Sookyung. Tanpa menunggu reaksi dari keduanya ibu paruh baya 2 anak itu langsung menarik mereka berdua ke dalam rumah.

***

“Jadi…” Sookyung memulai pembicaraan. Sekarang mereka sedang berada di ruang makan Sookyung dan keluarganya yang tidak lebih besar dari kamar tidur Taeri. Di depan mereka terdapat piring dan mangkok-mangkok kayu yang siap pakai. “Bagaimana kalian bisa saling kenal?” Tanyanya sambil memandang Eunhyuk dan Taeri bergantian. Yang dipandang hanya diam tanpa kata. Awkward.

“A-aku dan Eunhyuk, dulu adalah teman SMA. Um…” Jawab Taeri setelah beberapa lama. Sookyung mengangguk-ngangguk mengerti. Sedangkan Eunhyuk masih diam tanpa kata memandangi jjangmyeon dihadapannya.

“Hm… tampaknya aku harus meninggalkan kalian berdua disini.” Sookyung tersenyum simpul dan berdiri dari meja makan rumahnya. Ia berjalan keluar dari ruang makan tanpa pintu itu.

Dengan takut-takut Taeri menatap Eunhyuk sekilas. Begitu juga dengan Eunhyuk. Hingga mata mereka bertemu dan keduanya saling membuang muka. Wajah Eunhyuk terlihat tersipu sekarang.

1 menit telah berlewat. Hening

2 menit. Hening.

Sampai akhirnya 10 menit dan tidak satupun dari mereka yang berbicara. Hingga akhirnya Taeri memberanikan diri untuk memecah keheningan.

“Ha-hai.” Ujarnya sambil mendelik sedikit ke arah Eunhyuk yang sibuk mengaduk jjangmyeon-nya.

“Hai juga.” Jawa Eunhyuk ketus. Kali ini ia melahap jjangmyeon dihadapannya.

“Nggak nyangka ya bisa ketemu disini.” Tambah Taeri basa-basi. “Aku benar-benar merindukan—”

“Kau masih berpacaran dengan Cho Kyuhyun kan?” Potong Eunhyuk tajam. Taeri buru-buru menoleh. Tapi Eunhyuk sama sekali tidak menatapnya.

“Ne. Tentu saja.” Jawab Taeri seadanya. Ia meneguk teh yang ada di depannya.

“Cih,” Eunhyuk mengelap mulutnya. “Tidak kusangka kau yang dulunya sangat alim dan baik mudah terayu godaan brengsek itu ya.” Tambahnya sinis sambil berdiri dan mengambil jaketnya.

“Hah?” Taeri ikut berdiri. “Maksudmu apa? Brengsek? Kyuhyun?” Taeri benar-benar tidak mengerti.

Eunhyuk menoleh sekilas ke arahnya. “Jangan kau pikir aku tidak tau Shin Taeri.” Ucapnya sambil berjalan keluar dari rumah Sookyung, meninggalkan Taeri yang menyimpan segudang pertanyaan dibenaknya. Apa-apaan Hyukjae? Apa maksudnya?

***

“Ani.” Hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Taeri setelah Eunhyuk mengungkapkan perasaannya pada gadis itu. Eunhyuk langsung terkejut.

“Wa-waeyo?” Mata Eunhyuk langsung tampak berkaca-kaca. Untuk hal seperti ini dia memang bukan orang yang tegar.

“Waeyo?” Taeri mengulang pertanyaan Eunhyuk dengan nada sedikit naik. “Aku bilang tidak ya tidak! Apa kau perlu tau alasanku?”

“Ne!” Jawab Eunhyuk dengan mantap. Taeri memandangnya sebal.

“Aku sudah menerima Cho Kyuhyun tadi malam. Dan aku sudah resmi menjadi yeojachingunya. Lagipula, Kyuhyun adalah anak orang kaya. Eommaku mengajarkanku untuk memacari anak orang kaya! Sedangkan kau?” Taeri memandang sinis Eunhyuk dari atas sampai bawah. “Yah, kuakui dulu kau adalah anak orang kaya, tapi sekarang appa kau bangkrut! Dan sekarang untuk makanpun aku yakin kau susah. Bagaimana mau memacariku? Mianhae, Eunhyuk-ssi.”

“Ta-Taeri…” Wajah Eunhyuk sudah memanas. Setangkai bunga mawar yang ia pegang langsung terjatuh.

“Chagiya!” Suara namja itu langsung mengalihkan tatapan Taeri dari namja dekil dihadapannya. Hanya sedetik, senyum indahnya langsung merekah.

“Kyuhyun!” Serunya riang. Ia kembali menoleh ke arah Eunhyuk yang menatapnya nanar. “Mianhae, Eunhyuk. Aku pergi dulu. Goodbye!” Serunya gembira sambil melambaikan tangan ke arah Eunhyuk dengan wajah tanpa dosa.

Eunhyuk mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras. Tunggu pembalasanku Cho Kyuhyun!

***

“Yeoboseyo?”

“Oh, malam yeobo. Ini aku Taeri.” Ujar Taeri sambil tersenyum.

“Chagiya? Mian, tampaknya kontakmu hilang.” Ujar Kyuhyun dengan suara yang sedikit panik.

“Hahaha, ani, Kyu. Aku memang baru membeli nomor baru.” Ujar Taeri sambil tertawa. “Sedang apa? Sudah makan?”

“Aku sedang….” Kyuhyun menggantung kalimatnya. Taeri dengan setia menunggu kelanjutan jawabannya. “A-aku sedang… sedang bermain games! Ya! Bermain games!”

“Ooh…” Taeri manggut-manggut. “Jangan sampai lupa waktu lagi ya yeobo gara-gara bermain games.”

“Ne, chagi.” Jawab Kyuhyun lembut. “Omong-omong, aku yakin kau menelponku tak hanya untuk menanyakan hal ini kan?”

“Hahaha, kau memang pintar.” Jawab Taeri. “Aku memang mau bercerita sesuatu tentang hari ini.” Taeri membenarkan posisi duduknya yang kurang nyaman. “Hei, kau masih ingat Lee Hyukjae?”

“Hm?” Kyuhyun tampaknya tidak mengerti. “Hyukjae? Mian, tampaknya aku lupa.”

“Maksudku Eunhyuk. Eunhyuk? Masa kau tak ingat?” Taeri menyebutkan nama panggilan Hyukjae. Memang pada saat SMA dulu Lee Hyukjae lebih terkenal dengan nama Eunhyuk.

“Eunhyuk?!” Kyuhyun tampak terkejut. Taeri mengangguk.

“Hm, ne. Kau ingat?” Ucap Taeri sata menyadari Kyuhyun tak dapat melihat anggukan kepalanya.

Tidak ada balasan. Tidak terdengar suara Kyuhyun dari seberang sana.

“Yeobo? Kau masih disana?” Tanya Taeri dengan khawatir. Bisa saja tiba-tiba Kyuhyun jantungan lalu pingsan atau diculik orang.

“Ah, ne.” Tutur Kyuhyun pelan. Taeri menghembuskan nafas lega.

“Jadi gimana, Kyu? Kau ingat Eunhyuk?” Ulang Taeri.

“Ne, aku ingat.” Jawab Kyuhyun. “Memangnya ada apa kamu bertanya tentang dia?”

“Ani… hanya saja… tadi siang aku bertemu dengannya.”

“Mwo?!” Kali ini Kyuhyun benar-benar terkejut. “Bertemu dengan Eunhyuk? Dia masih hid… maksudku dia masih di Seoul?”

Taeri mengangkat alisnya. “Ne, tadi aku benar-benar bertemu dengannya. Memangnya kenapa kalo Eunhyuk masih di Seoul?”

“A-ani. Aku hanya terkejut saja. Kupikir setelah appanya meninggal ia pindah ke kota lain. Omong-omong, kau bertemu Eunhyuk dimana?”

“Aku bertemu dengannya di tempat eomma Kyung.” Ujar Taeri.

“Kyung? Sookyung maksudmu?” Nada bicara Kyuhyun tampak tidak suka. “Chagi, berapa kali aku bilang kamu nggak usah ke tempat kumuh itu lagi. Mereka, Sookyung dan anak-anaknya itu bawa pengaruh buruk tau. Jebal, jangan kesana lagi.”

“Stop! Tutup mulutmu, Kyuhyun. Kyung eomma dan anak-anaknya orang baik-baik. Mereka miskin, Kyu. Mereka butuh bantuan kita.” Bantah Taeri.

“Andwae! Aku tidak akan membantu apapun. Yasudah, Ri-ya. Aku masih banyak pekerjaan. Annyeong.” Kyuhyun langsung memutuskan sambungan telepon. Taeri menghela nafas.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Muncul satu pesan dari Kyuhyun.

Chagi, malam ini datang ya ke kantor appa. Appa tampaknya ingin bertemu denganmu lagi. Jebal. Saranghae~

“Ne, Kyuhyun-ah. Haaah!”

***

“Aku ingin sampai si iblis Cho Kyuhyun dan appanya jatuh miskin!” Eunhyuk menghamburkan isi lemarinya. Donghae hanya bisa menyilangkan tangan di dada sambil memandang yerrobunnya itu dari ambang pintu.

“Kau tidak kapok ya? Bagaimana kalau kau ketahuan dan dipenjara? Barusan kau bertemu dengan Taeri kan? Taeri itu polisi loh, dia bakalan bisa nyeret kamu ke penjara! Sudahlah, biarkan saja Donghyun dan Kyuhyun itu.” Tutur Donghae pelan masih menyandarkan setengah tubuhnya pada pintu.

“Ani! Tidak bisa! Mereka harus merasakan apa yang aku rasakan!” Seru Eunhyuk sambil berdiri dan membersihkan celananya yang dipenuhi debu. “Soal tertangkap, itu urusanku! Apa kau lupa, Hae-ya? Aku sudah profesional dalam urusan seperti ini! Dan aku tidak pernah tertangkap! Lagipula tujuanku melakukan ini baik, Hae-ya. Kau tau kan?” Eunhyuk menoleh ke arah Donghae.

“Ne, aku tau. Untuk membantu Sookyung dan keluarganya kan?” Donghae berjalan pelan ke arah Eunhyuk. “Tapi untuk yang satu ini lepaskan saja lah. Yeojanya Kyuhyun itu polisi, kemungkinan besar kamu tertangkap.”

“Justru aku sangat menginginkan yang ini, Hae! Apa kamu lupa kenapa perusahaan appaku bangkrut? Apa kamu lupa kenapa appaku meninggal? Apa kamu lupa kenapa rumahku digusur? Apa kamu lupa siapa yang membuat kita tinggal di pemukiman kumuh seperti ini?!” Nada suara Eunhyuk menaik. Donghae hanya diam kalau yerrobunnya sudah membahas hal ini. “Ini karena keluarga Cho keparat itu! Mereka yang gila harta membunuh appaku yang sudah menjalankan perusahaannya selama bertahun-tahun! Membuat keluargaku diusir dari rumah! Dan gara-gara itu pula Taeri menolakku!” Bentak Eunhyuk. Donghae hanya menunduk diam. Emosi Eunhyuk untuk hal yang satu ini tidak akan pernah bisa dikontrol.

“Aku hanya membela keadilan, Hae-ya. Aku hanya ingin Sookyung dan keluarganya bisa makan, dan aku juga ingin Donghyun dan Kyuhyun menyesal. Apalagi Kyuhyun dengan teganya mengotori Taeri.” Eunhyuk menggendong backpack hitamnya persis seperti yang dipakainya saat mendatangi rumah Kyuhyun waktu itu. “Aku pergi dulu, Hae-ya. Jaga rumah baik-baik. Kau yerrobunku yang terbaik.” Eunhyuk memukul pelan pundak Donghae dan pergi begitu saja meninggalkan Donghae yang menatapnya bisu.

***

“Saya mohon bantuanmu, Taeri-ah. Saya sudah kehilangan banyak sekali harta saya karena ini. Saya tidak mau ini terulang lagi.” Seorang bapak-bapak berumur memegangi kedua tangan Taeri sambil menatapnya intens. Taeri hanya tersenyum.

“Ne, ahjussi. Taeri akan berusaha supaya pelakunya cepat tertangkap.” Balas Taeri lembut.

“Baiklah, Ri-ah. Beruntung sekali jika saya akan memiliki menantu sepertimu. Kyuhyun memang pintar memilih yeoja.” Ujar namja yang tak lain adalah appa Kyuhyun. Cho Donghyun.

“Hahaha, gamsahamnida, Cho ahjussi. Baiklah, saya pulang dulu. Annyeonng.” Taeri membungkukkan badannya dengan sopan. Donghyun mengantarkan Taeri sampai pintu keluar ruangannya.

“Huff… lama sekali ahjussi mengajakku ngobrol.” Ujar Taeri saat dia sudah ada di lift. Ia memandang arlojinya. Sudah jam 10 lewat. Dia menghembuskan nafas. Pasti eomma marah-marah lagi…

Saat itu gedung dewan sudah cukup gelap. Suasananya sudah sangat sepi. Pantas saja sih sudah semalam ini. Semua pejabat pasti sudah pada pulang. Hanya terlihat beberapa satpam dengan senternya yang sedang mengecek keadaan gedung.

Taeri berjalan keluar dari gedung dewan itu. Di tempat parkir hanya terlihat sebuah mobil hitam audi yang tak lain dan tak bukan adalah miliknya. Entah dimana Donghyun memarkir mobilnya.

Taeri menekan tombol di kunci mobilnya. Audi hitam itu langsung berbunyi pelan dan taeri masuk ke dalamnya. Ia memutar kunci mobil dan menarik remnya. Kurang dari semenit, mobilnya sudah keluar dari lapangan parkir gedung dewan itu.

Taeri mengemudikan mobilnya dengan kecepatan standar. Jalanan di kota Seoul saat itu sudah cukup sepi. Meskipun masih ada beberapa mobil yang melintas.

Tumben sekali jam segini eomma belum hubungin aku. Kyuhyun juga. Cih, apa aku sudah dilupakan segitunya ya?

Taeri mengacak-ngacak isi tasnya yang ada di bangku penumpang dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya masih berada di atas setir dan matanya masih lurus menatap ke jalanan.

“Kemana lagi handphone-ku ini?” Gerutu Taeri membalikkan tas kecilnya. Mulai dari dompet sampai lipstick berhamburan di kursi penumpang. Taeri melirik sekilas ke arah kursi penumpang dan tidak menemukan bayangan ponselnya sama sekali. Dia mendecak kesal.

“Pasti ketinggalan!” Ucapnya gusar sambil memberhentikan mobilnya dan berbalik arah. Untung saja jalanan saat itu sedang sepi. Kalau tidak pasti dia sudah ditilang.

Akhirnya dengan kecepatan tinggi, Taeri berhasil sampai di depan gedung calon mertuanya hanya dalam waktu 15 menit. Taeri keluar dari mobilnya dan berjalan masuk ke arah gedung itu. Beruntung belum dikunci.

Kali ini suasana dalam gedung benar-benar gelap. Hanya sedikit cahaya remang-remang terlihat dari luar gedung. Taeri berjalan tanpa rasa takut ke arah tangga darurat. Ia yakin lift sudah dimatikan. Untung dia bukan yeoja penakut.

Taeri berhenti ketika sudah di lantai 12. Nafasnya tersengal-sengal. Bagaimana tidak? Ia naik tangga dari lantai 1 menuju lantai 12. Dan itu cukup melelahkan.

Taeri melanjutkan langkahnya setelah beristirahat sebentar di susuran tangga. Lorong lantai 12 tidak segelap lantai 1 tadi. Taeri menggaruk-garuk kepalanya sambil memandang setiap pintu di lorong remang-remang itu. Tampaknya dia sedikit bingung dimana ruangan calon mertuanya itu.

Hingga akhirnya Taeri memvonis sebuah ruangan sebagai ruangan Cho Donghyun.

Ia membuka pintu ruangan itu perlahan. Tidak dikunci?

Gelap. Cahaya dari lampu lorong masuk ke dalam ruangan gelap itu. Matanya menangkap sebuah meja besar dan kursi kantor yang tadi diduduki Donghyun. Tapi seketika membulat saat menyadari ada sosok yang lain di ruangan itu selain dirinya.

Ia melihat seorang berpakaian serba hitam, dengan topeng hitam sedang mengacak-ngacak lemari di ruangan itu. Taeri mundur beberapa langkah. Sosok yang dikenalinya sebagai seorang namja itu, juga menatapnya sarkastis.

“Yak! Siapa kau!? Ngapain kau disini?!” Seru Taeri berani. Meskipun tubuhnya bergetar hebat. Tentu saja, meskipun dia polisi saat ini dia tidak membawa senjata apapun. Siapa yang tau kalau orang di depannya ini adalah pencuri kelas kakap yang selalu membawa pistol kemana-mana.

Setelah menatap Taeri beberapa saat, orang itu langsung berlari ke arah Taeri. Taeri bergeming. Rahangnya mengeras. Bulu kuduknya meremang. Mau apa orang ini?

Taeri terjatuh. Ternyata orang yang diklaim Taeri sebagai pencuri itu hanya mendorongnya supaya bisa kabur dari tempat itu.

“Cih sialan! Yak! Tunggu kau!” Taeri buru-buru berdiri dan mengejar orang itu. Hak 5 sentinya langsung ia lempar membabi buta saat menyadari kecepatan orang itu luar biasa. Dengan sisa tenaga yang ada gadis itu berlari.

“Yak! Kau berhenti! Kau pencuri ya?! Kembali!!!!” Titah Taeri. Orang itu hanya menoleh sebentar dan langsung melanjutkan larinya ke arah tangga. Kini mereka sudah berada di tangga yang tadi Taeri naiki. Orang itu terus berlari naik tanpa memedulikan Taeri yang mulai linglung gara-gara kelelahan. Hingga akhirnya mereka sampai di lantai 20. Lantai puncak gedung itu.

Melihat tak ada jalan keluar, orang itu langsung berlari menuju atap. Siapatau Taeri kelelahan dan ia kehilangan jejaknya. Sayang sekali, Taeri tidak mudah menyerah. Hingga akhirnya mereka sampai di atap. Orang itu masih membelakangi Taeri.

“Hahaha kau sudah tertangkap sekarang. Lebih baik kau membuka topeng bulukmu itu dan menyerahkan diri padaku. Aku polisi, kau tau? Shin Taeri imnida. Polisi divisi 2 yang kebetulan mengasut kasusmu ini.” Ucap Taeri dengan sinis sambil menutup pintu atap agar orang ini tidak melarikan diri lagi.

Orang berpakaian serba hitam itu bergeming. Ia masih berdiri tegak di tempatnya tadi. Entah apa yang dia pandang. Taeri mulai kesal. Ia mendekati namja di hadapannya itu. Dengan kasar ia membalikkan tubuhnya dan menarik topengnya.

Betapa terkejutnya Taeri saat melihat senyuman tipis kepunyaan namja yang sangat ia kenal di balik topeng hitam tadi.

“E… EUNHYUK?!”

***

Sudah kuduga. Ini akan menjadi hal yang mudah.

Eunhyuk tersenyum simpul sambil mengotak-atik pintu di hadapannya. Ia belum puas mencuri di rumah besar Cho sekarang ia nekat masuk ke dalam gedung dewan. Eunhyuk berniat membuat keluarga yang sudah merebut kebahagiaannya itu jatuh dalam kemiskinan. Apalagi Taeri yang masih dicintainya sampai detik ini jatuh ketangan Cho Kyuhyun yang brengsek.

Pintu kayu itu terbuka. Eunhyuk kembali tersenyum sambil membereskan peralatannya dan masuk ke dalam ruangan gelap itu. Ia menutup pintu perlahan. Kini ruangan itu super gelap. Eunhyuk mengeluarkan senter dari dalam backpack hitam kesayangannya. Kini ruangan itu tidak begitu gelap.

Aku harus bisa menemukan bukti-bukti korupsinya dan data-data penting pencalonannya. Dimana ya kira-kira?

Eunhyuk menggaruk kepalanya sambil mengedarkan pandangan ke seluruh pelosok ruangan. Ia memutuskan mencari di salah satu lemari dulu.

Kreekk… terdengar suara pintu dibuka. Seberkas sinar masuk ke dalam ruangan gelap itu. Eunhyuk menoleh. Tubuhnya menegang saat ia melihat ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan tempatnya berpijak sekarang. Mendadak tubuhnya membatu.

Taeri. Dia bisa melihat dengan jelas di tengah keremangan ruangan bahwa yeoja itu Taeri. Dan Taeri juga tampaknya sudah menyadari keberadaannya. Glek.

“Yak! Siapa kau!? Ngapain kau disini?!” Seru Taeri galak. Eunhyuk menelan ludahnya sekali lagi.

Tanpa pikir panjang, Eunhyuk meninggalkan backpack dan berkas-berkas itu dan berlari ke luar pintu yang masih dijaga oleh Taeri. Eunhyuk dapat melihat Taeri bergidik saat ia akan menerjangnya. Dengan sentuhan yang sedikit kasar Eunhyuk mendorong Taeri yang menghalangi jalannya. Dia bisa mendengar suara tubuh Taeri yang bergesekan dengan lantai. Tapi kini ia tak peduli. Yang ia pedulikan kini hanya bagaimana ia bisa keluar dari gedung berlantai 20 tanpa berurusan dengan Taeri.

“Yak! Kau berhenti! Kau pencuri ya?! Kembali!!!!” Terdengar suara teriakan yeoja itu dari belakang. Eunhyuk menoleh sebentar dan langsung mengalihkan kembali pandangannya ke arah jalan di depannya.

Dengan lincah ia melompati setiap anak tangga darurat. Ia yakin tidak mungkin seorang yeoja seperti Taeri sanggup mengejarnya melewati tangga.

Tapi ternyata Taeri tidak selemah yang dipikirkan Eunhyuk. Dia masih bertahan hingga lantai 18.

Sialan. Makan apa Taeri sampai kuat begini? Gumam Eunhyuk sambil menatap Taeri sekilas.

Hingga akhirnya ia sampai di lantai 20 dan Taeri belum juga berhenti mengejarnya. Tanpa berpikir Eunhyuk malah naik ke atap gedung. Padahal ia bisa saja terdesak disana.

Sial! Kenapa aku naik ke atap?

Eunhyuk memandang pemandangan kota Seoul dari atas gedung itu dengan frustasi. Terdengar suara derapan langkah kaki dan teriakan seorang yeoja. Kini Taeri sudah berada di belakangnya. Eunhyuk tak berniat membalikkan badannya.

“Hahaha kau sudah tertangkap sekarang. Lebih baik kau membuka topeng bulukmu itu dan menyerahkan diri padaku. Aku polisi, kau tau? Shin Taeri imnida. Polisi divisi 2 yang kebetulan mengasut kasusmu ini.” Suara Taeri kembali terdengar. Tapi kali ini dengan nada sinis. Eunhyuk menelan ludahnya. Entah apa yang harus ia lakukan saat ini.

Mereka berdua mematung selama beberapa menit, hingga akhirnya Eunhyuk merasakan bahwa Taeri mendekat. Tanpa penolakan apapun, Eunhyuk berbalik badan ketika Taeri menariknya. Dan bisa terlihat jelas dari wajah Taeri saat ia melepas topeng Eunhyuk. Eunhyuk hanya tersenyum tipis.

“E… EUNHYUK?!” Serunya kaget. Matanya membesar. Eunhyuk masih tersenyum. “Ka-kau…” Taeri memandang topeng Eunhyuk dan wajahnya bergantian. “Ba-bagaimana bisa?”

Eunhyuk hanya mengangguk lemas. Taeri masih belum puas dengan jawabannya. “Apa maksudnya? Ngapain kamu disini? Kenapa—”

“Aku seorang pencuri, Ri-ya. Aku adalah musuhmu.” Potong Eunhyuk sambil tersenyum. Taeri terjengkang ke belakang.

“Wa… waeyo?”

“Hmm…” Eunhyuk melepaskan pandangannya dari mata Taeri. Ia berjalan ke tepi atap. “Aku tidak suka koruptor. Aku tidak suka melihat mereka bahagia di atas penderitaan rakyat miskin.”

“Koruptor? Apa maksudmu?!” Kini nada suara Taeri meninggi. Eunhyuk yakin Taeri sangat marah. “Jangan soktau Lee Hyukjae.”

“Aku tidak soktau.” Ketus Eunhyuk. “Aku adalah office boy di gedung ini, Taeri. Aku sangat tau apa yang keparat-keparat itu lakukan. Terutama Cho Donghyun brengsek itu.”

“Mwo!? Jadi kau yang memasuki rumahnya semalam?!” Taeri tampak terkejut. Eunhyuk tersenyum tipis. “Kau akan berurusan denganku, Lee Hyukjae. Lagipula appa Kyuhyun bukan koruptor! Ia orang baik-baik!”

“Oya?” Eunhyuk mendelik ke arah Taeri. “Kau tau apa, Shin Taeri?! Kau tidak tau apa saja yang keparat itu lakukan di gedung ini kan?! Penjualan saham ilegal, pengambilan keuntungan besar-besaran… kau tidak tahu, Taeri!” Bentak Eunhyuk keras. Kini wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Taeri yang memandangnya intens. “Selain itu aku sudah sangat kesal dengan Cho Kyuhyun. Namja brengsek—”

“Jangan pernah memanggilnya brengsek, Hyukjae.” Potong Taeri tegas.

“Namja itu sudah membuatmu meninggalkanku, eoh?” Eunhyuk mengedipkan matanya ke arah Taeri yang tampak bingung.

“Ka-kau… kau merampok rumah Kyuhyun hanya karena itu?!”

“Hanya karena itu kau bilang?” Eunhyuk mengulangi pertanyaan Taeri. “Bukankah sudah kubilang, Ri-ya? Kalau Cho Donghyun adalah seorang koruptor?” Tambah Eunhyuk ketus. “Dan sekarang, aku ingin bertanya. Taeri, apa yang membuatmu menolakku dan menerima Kyuhyun?”

Taeri terdiam. Ia menundukan kepalanya. Kenangan-kenangan masa lalu terputar lagi di otaknya. Malu. Hanya itu yang dia rasakan.

“Lupa ya? Biar kuberi tahu. Kamu menolakku karena aku miskin dan appaku sudah tiada. Padahal satu sekolah juga tau kalau dulu aku jauh lebih kaya daripada Cho Kyuhyun. Menurutmu siapa yang membuat aku jatuh miskin?” Tanya Eunhyuk sinis. Taeri langsung mengangkat kepalanya. “Ne, tepat seperti yang kau pikirkan, Cho Kyuhyun dan appanya yang brengsek itu.”

“MWO!?” Mata Taeri membulat besar. “Ma-maksudmu?!”

“Keluarga Cho yang gila harta itulah yang membuat appaku meninggal! Donghyun keparat membunuh appaku untuk mendapatkan jabatan bos di perusahaan yang sudah didirikan appaku selama bertahun-tahun! Dan apa kamu tau? Mereka membunuhnya tepat di depan mataku! Apa kamu pikir aku tidak akan trauma? Bertahun-tahun aku dihantui bayangan pembunuhan itu! Aku ingin melaporkan Donghyun tapi sayang sekali aku tidak punya bukti sama sekali. Dan sekarang kau lihat? Setelah perusahaan besar Cho yang seharusnya Lee bangkrut, dengan tanpa tanggung jawab Donghyun menjabat jadi dewan! Apa kamu pikir itu tidak keterlaluan?!”

Taeri membeku di tempatnya sekarang. Bola matanya bergetar memandang sosok Eunhyuk yang sekarang sudah berbeda dari Eunhyuk yang ia kenal dulu. Bibirnya terkatup rapat. Tidak satupun kata-kata yang berniat keluar dari bibir tipis itu.

“Ada pertanyaan, Shin Taeri?” Eunhyuk kembali berjalan ke tepian atap membelakangi Taeri. Sengaja, karena matanya mulai berkaca-kaca mengenang kejadian tragis saat itu.

“A-apakah… apakah yang kamu ceritakan itu benar?” Beberapa kata terlontar dari mulut Taeri. Eunhyuk tersenyum kecut.

“Apakah aku tampak berbohong?” Eunhyuk balik bertanya. Taeri tidak menjawab.

“Tapi… apa hubungannya dengan Kyuhyun? Apa salahnya sampai kau membencinya juga?” Taeri melontarkan pertanyaan kedua. Eunhyuk mengelap air yang sudah menggenang di matanya dan mendekati Taeri.

“Karena dia sudah memilikimu dengan cara liciknya itu. Dia sudah menghasutmu hingga ikut gila harta sepertinya. Dan yang lebih membuatku kesal, dia sudah mengotorimu. Merebut sesuatu yang seharusnya tetap kau miliki hingga menikah.” Jawab Eunhyuk singkat.

“Mwo? Maksudmu? Aku tidak mengerti.” Taeri menggeleng bingung. Eunhyuk mengamati manik mata Taeri, menerawang apakah ada kebohongan di matanya.

“Jangan berpura-pura tidak mengerti, Shin Taeri. Apa kamu tidak tau kenapa saat aku mendatangi rumah Kyuhyun dia tidak sadar sama sekali?” Tanya Eunhyuk. Taeri menggeleng. Kini Eunhyuk yang kebingungan.

Dia tidak tau? Jadi dengan siapa Kyuhyun bermesraan saat itu?

“Waeyo, Hyuk-ah? Apa yang dilakukan Kyuhyun saat itu?” Seru Taeri sambil menggoyangkan pundak Eunhyuk.

“Ani. Kurasa kau harus melihatnya sendiri.” Ujar Eunhyuk. Ia yakin sekali saat itu Kyuhyun sedang berselingkuh dengan yeoja lain. “Aku mau pergi sekarang. Aku tidak jadi mencuri berkas Donghyun. Jadi biarkan aku pergi.”

Eunhyuk berlari ke arah pintu atap. Tapi matanya membesar saat menyadari pintu itu tertutup rapat. Ia mendekati pintu itu dan menggoyangkan kenop pintu berkali-kali.

“Ri-ya!” Panggil Eunhyuk. Ia memerhatikan kenop pintu itu dengan cermat. “Apa tadi kamu menutup pintu ini?”

“Ne. Supaya kau tidak bisa kabur. Waeyo?” Taeri mendekati Eunhyuk.

“Aigo…” Eunhyuk menepuk jidatnya sambil memerosotkan tubuhnya di atas pintu. “Apa kamu tidak tau? Pintu ini hanya bisa dibuka dari dalam! Kenapa kamu menutupnya?”

“Mwo?!” Taeri langsung memutar-mutar kenop pintu itu dengan panik. “Omo! Aku tidak tau! Aish, jadi tidak bisa dibuka?”

“Ya iyalah!” Seru Eunhyuk sebal. “Tampaknya kita harus bermalam disini.”

“Mwo?!” Taeri terkejut lagi untuk yang kedua kalinya. “Kau… dan aku? Berdua?”

“Kalau kau ingin terjun dari sini ke lantai satu silakan sih.”

***

Taeri mengerjap-ngerjapkan matanya silau. Sinar matahari berhasil membuat mata indahnya itu terbuka. Taeri terbangun. Ia menggaruk-garuk kepalanya dengan bingung.

Mwo? Dimana aku? Jam berapa sekarang?

Taeri mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia masih berada di atap gedung dewan. Persis seperti tadi malam. Yang membedakan sekarang tidak ada…. Eunhyuk?

“Yak! Mana Eunhyuk?! Sial! Aku belum menangkapnya lagi!” Taeri buru-buru berdiri. Kini pintu atap sudah dibuka. Muncul seorang office boy dari pintu itu. “Hei kau! Apa kau tidak lihat seorang namja tinggi, hidung mancung, rahang tegas, dan kalau tersenyum gusinya bertebaran kemana-mana? Dia office boy juga disini. Namanya Lee Hyukjae.”

“Hyukjae?” Namja pendek itu sepertinya tau. “Oh, ne. Tadi ia menitipkan sebuah kertas untukmu, agashi. Namamu Shin Taeri, eoh?”

“Ne. Berikan kertas itu.” Titah Taeri sambil mengambil kertas kecil yang namja itu berikan kepadanya.

“Aku yakin saat kau membaca tulisan ini aku sudah tidak ada di sebelahmu. Malam yang indah, Taeri. Dan kurasa malam itu terakhir kalinya kita bertemu. Annyeong.

-Lee Hyukjae”

Mwo?! Dia meninggalkanku begitu saja?! Sialan! Kenapa dia tidak membangunkanku?!

Taeri meremas kertas itu dengan kesal. Ia membuangnya ke sembarang arah dan langsung keluar dari tempat itu.

***

2 bulan berlewat sudah. Taeri tidak pernah bertemu dengan Eunhyuk lagi. Taeri berpikir Eunhyuk pindah ke kota atau negara lain, ternyata tidak. Fakta ini dibuktikan dengan banyaknya kasus pencurian anggota dewan. Entah kenapa Taeri yakin sekali yang berada di balik kasus ini pasti Eunhyuk. Cinta lamanya dulu. Ya, sebelum ia dibutakan harta Kyuhyun.

Dan sudah 2 bulan juga, hubungannya dengan Kyuhyun tidak semakin membaik. Kyuhyun sudah jarang sekali mengajaknya pergi keluar. Jelas Taeri kesal, tapi apa yang bisa ia lakukan? Ia tidak bisa memutuskan hubungannya dengan Kyu karena tentu saja, mungkin bisa dihitung beberapa bulan lagi ia dan Kyuhyun akan melanjutkan ke jenjang yang lebih serius.

Hari ini adalah anniversary Kyuhyun dan Taeri yang ke-10 tahun. Tepat pada hari ini. 10 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Hari ini Taeri berniat membuat kejutan dan datang ke rumah Kyuhyun.

“Tidak mungkin sepagi ini dia sudah ada schedule kan? Pasti dia masih di rumah sekarang.” Ujar Taeri pada dirinya sendiri. Ia mengemudikan mobilnya menuju daerah Gangnam. Hanya 10 menit kurang, mobil Taeri sudah terparkir anggun di depan rumah besar keluarga Cho.

Taeri masuk ke dalam. Terlihat beberapa tukang kebun sewaan Cho Donghyun dan beberapa pembantu sedang merawat taman. Mereka yang melihat Taeri masuk langsung membungkuk. Taeri hanya tersenyum menanggapinya.

“Loh? Nona Taeri? Kenapa berada disini sepagi ini?” Seorang pelayan yang paling dekat dengan Taeri terkejut melihat Taeri berkunjung.

“Hari ini anniversary-ku dengan Kyuhyun, Sunny-ah. Aku ingin membuat kejutan untuknya.” Ujar Taeri dengan nada usil.

“Ta-tapi… Kyuhyun—”

“Ne, aku tau. Dia pasti belum bangun kan? Tenang saja aku yang akan membangunkannya. Duluan ya, Sunny! Doakan kami berdua langgeng!” Seru Taeri ceria tanpa tau Sunny memasang tampang panik.

Taeri naik ke lantai 2. Kamar Kyuhyun tepat berada di samping tangga. Tanpa tau malu Taeri membuka pintu kamar Kyuhyun perlahan. Di wajahnya tersungging senyuman manis. Ia sangat suka melihat wajah Kyuhyun saat bangun tidur karena baginya sangat pabo dan menggemaskan.

Ia membuka daun pintu kamar Kyuhyun sangat lebar. Sehingga separuh isi kamar Kyuhyun bisa terlihat.

JDERRRR!!!

Taeri terkejut hebat. Hatinya bagaikan disambar ribuan petir. Kini di depannya terlihat dengan jelas namjachingunya itu sedang bercumbu dengan seorang yeoja yang sangat ia kenal. Choi Sooyoung. Rekan satu divisinya.

“Ta-Taeri?!” Kyuhyun dan Sooyoung langsung berdiri melihat Taeri membeku di ambang pintu. Matanya sudah berkaca-kaca.

“A-apa… apa yang kau lakukan disini, chagi?” Kyuhyun menjaga jarak dengan Sooyoung dan tangannya berusaha meraih Taeri.

“Chagi?” Taeri mengulangi perkataan Kyuhyun tadi. “Apa pantas kau masih memanggilku chagi setelah melakukan hal ini, hah?!”

“A-aku bisa menjelaskannya Taeri-ssi.” Sela Sooyoung takut.

“Tutup mulutmu yeoja murahan!” Bentak Taeri keras. “Dan kau Cho Kyuhyun, kau tau kan apa yang bakalan aku katakan? Kurasa kita bubar di hari anniversary 10 tahun kita.” Ucap Taeri ketus sambil meninggalkan Kyuhyun dan Sooyoung yang berusaha memanggili namanya.

Namja brengsek yeoja sialan! Apa tidak ada yang lebih buruk lagi daripada ini?! Sudah kuduga pasti namja keparat itu bermain dengan yeoja lain!

Taeri meremas tangannya kesal. Dia benar-benar marah dan kecewa. Ingin rasanya ia mencekik Cho Kyuhyun. Tapi apa daya? Setiap yeoja tidak ada yang tidak rapuh. Akhirnya ia menangis. Menangisi seseorang yang sudah membuatnya berharap selama 10 tahun.

Aku pabo? Ne. Sangat.

***

Eunhyuk menelusuri lorong kosong itu dengan perlahan. Matanya mengawasi setiap gerak-gerik apapun yang bisa ia tangkap. Kini dirinya telah berada di lantai 20 gedung dewan. Buat apa ia berada disana? Tentu saja untuk mencuri.

Ini sudah pencuriannya yang ke-13. Ia tak menyangka Taeri tidak melaporkannya. Padahal jika yeoja itu memberi kesaksian ia bisa terkurung di sel tahanan saat ini. Entah kenapa yeoja itu melakukan hal ini padanya.

Setelah mengambil beberapa berkas penting dari salah satu ruangan. Entah kenapa sesuatu menariknya agar mengunjungi atap gedung. Tempat terakhirnya bertemu dengan cinta pertamanya itu.

Pintunya terbuka. Eunhyuk yakin pasti ada orang di atap sana. Perlahan Eunhyuk mengintip ke celah pintu. Ia bisa menangkap bayangan sesosok yeoja yang sedang… menangis?

Ya. Ia bisa mendengarnya. Ia bisa mendengar isakan yeoja itu dengan jelas. Shin Taeri. Yeoja yang belakangan ini Eunhyuk tau sangat kuat, menangis.

“Ta-Taeri?” Panggil Eunhyuk pelan. Taeri langsung mengelap air matanya dan menatap namja itu dengan tajam.

“Eunhyuk?” Seru Taeri kaget. Ia membersihkan bekas air mata disekitar pipinya dan langsung berdiri menyejajarkan posisinya dengan Eunhyuk. “Apa kau datang kesini untuk mencuri lagi?”

“Kau tau kebiasaanku, Ri-ya.” Eunhyuk tersenyum tipis. “Sedang apa kau disini? Sambil menangis?” Eunhyuk menatap bola mata Taeri dengan cermat.

“Ah, apa aku kelihatan sehabis menangis? Sial.” Taeri terus mengusap-ngusap matanya dengan tisu di tangannya.

“Ne. Kau kacau sekali. Waeyo?”

Taeri menatap Eunhyuk perlahan. Manik matanya kembali bergetar, menandakan air matanya akan jatuh lagi. Eunhyuk menatapnya bingung.

Seketika Taeri langsung memeluknya erat. Air matanya jatuh begitu saja membasahi seragam mencuri Eunhyuk. Eunhyuk terkejut. Dan bahagia.

“Cho Kyuhyun brengsek, Hyuk… ia menyelingkuhiku! Dengan rekan kerjaku pula! Ia sudah tidak waras, Kyu!” Isak Taeri. Eunhyuk membalas pelukan Taeri dan mengusap-ngusap rambut ikalnya.

“Aku sudah bilang bukan? Kyuhyun tidak pantas untuk yeoja sebaik kamu, Ri-ya.”

“Mianhae, Hyuk… mianhae karena tidak mendengarkan perkataanmu dan menolakmu waktu itu.” Ujar Taeri di sela isakannya.

“Gwenchana, Ri-ya. Yang penting kau sudah sadar.” Ucap Eunhyuk lembut.

“Dan Hyuk…” Taeri melepaskan pelukannya pada namja di depannya itu. “Apa tawaran itu masih berlaku?”

Eunhyuk menyerngit bingung. “Tawaran? Tawaran apa, Ri-ya?”

Taeri mengusap air matanya. Kini tersungging senyuman madu di bibirnya. Ia mengucapkannya dengan mantap, “tentu saja tawaran untuk menjadi yeojachingumu.”

***

P.S.

How about it chingudeul? Sebenarnya ini mau diikutin FFWC for BLUELF3 Cuma ternyata kepanjangan :s lalu ini perlu Sequelnya gak? Ini sebenernya diceritain juga gimana si Kyuhyun sama Appanya ketangkap, gimana kelanjutan cerita Taeri sama Eunhyuk. Tapi takut kepanjangan. Minta pendapat chingu ya^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s