Kisah Tak Berjudul | Part 3 | END

cover-ff-kisah-tak-berjudul

KEMBALI DENGAN FF LAMA! INI SEBENERNYA FF YANG UDAH LAMA BANGET, CUMA BELUM SELESAI AKU PUBLISH DI WP INI GARA-GARA HARDISK SIALANKU ITU RUSAK-_- MAKANYA, DISINI MASIH BANYAK EJAAN DAN EYD YANG PERLU DIPERBAIKIN. BUT, JUST HAVE FUN WITH THIS STORY^^

Title            :             Kisah Tak Berjudul

Author       :            pearlshafirablue

Cast             :             Shafira Firdaus [OC] – Kim Jongwoon [SJ] – Cho Kyuhyun [SJ]

Genre         :             Romance – Friendship – Fluff – Humour

Rating        :             General

Length       :             Chaptered [3 of 3] – Last Chapter

Poster by ILLUTH

PART III
-YESUNG POV-
“Yesung-ah… sudahlah. Ini sudah malam. Aku bisa belajar sendiri, kamu tidak perlu menemaniku… hoaaahhmmm…” Yeoja disebelahku ini menguap lebar sekali. Ingin rasanya kujejali beberapa cumi mentah yang kemaren kumasak ke dalam mulut besarnya ini.

“Ani. Pasti nanti kamu akan tidur malam. Pokoknya aku menunggumu sampai jam 11, dan setelah itu kita berdua tidur.” Ucapku masih tetap menatap kamus biologi di depanku. Bahasa Indonesia aneh sekali. Tidak ada satupun yang kumengerti.

“Tapi…”

“Tidak ada tapi-tapian. Belajarlah, aku tidak papa. Gwaenchana.” Selaku membuka lembar selanjutnya. Kulihat dari sudut mataku dia tampak sebal. Wajah sebalnya itu selalu membuatku ingin mencubitnya.

“Terserah kau sajalah.” Dia menatap bukunya kembali. Ada 4 buku yang harus ia pelajari dan semuanya tebal-tebal. Dua di antaranya berbahasa Inggris. Ada 28 bab yang harus dia pahamin, beberapa diantaranya mengenai mikroorganisme yang nama-namanya lebih sulit dihapal dibanding bahasa mandarin. Lalu ada juga bab tentang Narkotika dan Psikotropika. Kalau aku yang disuruh menghafalnya pasti 2 hari sebelum kiamat baru selesai. Aku salut sekali dengan Fira. Dia yeoja yang tangguh. Dia punya tekad dan keinginan yang besar. Yang lebih mengejutkanku adalah saat dia belajar bahasa Korea. Dia begitu cepat memahaminya. Waktu masih di elementary school saja mungkin aku 1 tahun baru bisa berbicara lancar. Yah, meskipun logat dan cara bicaranya masih berantakan, tapi itu sudah termasuk hebat.

Kupandang wajah yeoja itu. Matanya sudah setengah menutup menahan kantuk sementara matanya masih menelusuri halaman itu. Sesekali jarinya menunjuk kata-kata yang ada di halaman itu.

Dia melakukan semua ini demi eommanya, dan appanya yang telah tiada. Aku tidak tahu harus bagaimana jika aku kehilangan appaku. Ne, aku tidak akan bisa sekuat dia dan Donghae yang appanya juga telah tiada. Yeoja ini masih punya semangat untuk bersekolah, belajar, dan berjalan-jalan. Bahkan dia punya semangat untuk membanggakan eommanya. Aku sangat kagum dengan yeoja ini.

“Ya! Kenapa kamu ngeliatin aku seperti itu!?” Tiba-tiba sebuah pensil mengenai kepalaku. Kulihat yeoja galak itu sedang menatapku sambil berkacak pinggang.

“Aish! Sakit! Dasar pabo!” Balasku sambil menggosok-gosok tempat mendaratnya pensil itu di kepalaku.
“Siapa suruh kau memandangku seperti itu!” Serunya. “Untung kau tidak kulempar buku.”

“Mwo? Aku akan menjejalimu cumi mentah jika kau melakukan itu.” Ucapku sambil terkekeh. Bibir yeoja itu maju beberapa senti. Dia menguap lagi untuk yang kesekian kalinya. Sudah jam 10.55 malam. Aku tidak heran dia sudah ngantuk. “Fira-ah. Tutup bukumu. Sudah malam. Sini kau kemari. Duduk di sebelahku.”

“Aish! Masih ada beberapa bab yang belum kumengerti. Tunggu…”

“Fira!” Aku membentaknya. Dia terdiam. “Andwae. Tutup bukumu dan kemari.” Ulangku lagi. Yeoja itu menutup bukunya sambil merangkak malas ke arahku yang duduk di sisi tempat tidurnya. Aku langsung merangkulnya. Dia tampak terkejut.

“Ya! A-apa-apaan kau?” Ucapnya memberontak tapi aku tetap bergeming. Aku tersenyum.

“Kau tau kau sangat pabo?” Ucapku. Dia hendak memprotes tapi langsung kututup mulutnya. “Kau sangat pabo karena hal ini. Kau berusaha membahagiakan orang lain tapi dirimu sendiri kau telantarkan. Sejak tadi sore kau sama sekali tidak ada makan dan istirahat. Kau belajar terus. Ingin kubakar rasanya buku-bukumu itu. Jujur yah… aku sangat kagum padamu. Kamu seperti ini bukan untuk chingu, atau namjachingu. Tapi untuk eomma dan appamu. Jarang sekali ada remaja jaman sekarang yang berjuang demi keinginan orang tuanya. Aku benar-benar kagum padamu, semoga kau me…”
Tiaba-tiba aku merasakan basah dipundakku. Aku langsung menoleh. Fira sudah tertidur lelap di atas pundakku. Dari mulutnya keluar air. AIR LIUR!!!!!

“Pabo! Sial!” Aku langsung menyingkirkan kepalanya dari pundakku. Dia masih tetap terlelap. Tuhan, jorok sekali yeoja satu ini. Kupandang wajah tidurnya yang tanpa dosa itu. Aku tersenyum.

Kunaikkan kakinya dan membetulkan posisi tidurnya di atas kasur. Kubuka selimutnya dan langsung kutarik sampai menutupi ¾ tubuhnya. Kuelus pipinya. Entah mendapat keinginan dari mana, kukecup keningnya. Selamat tidur Fira-ah… aku akan mendoakanmu agar sukses besok. Mimpi indah.

***

-SHAFIRA POV-

“Bagaimana? Lancar?” Aku menoleh. Begitu juga dengan Icha dan Tata yang berada di sebelahku. Jantungku nyaris copot melihat seorang cowok yang memakai mantel tebal, kacamata hitam, topi dan tudung mantel tersenyum ke arahku. PABO!

“Si-siapa ini, Fir?” Tanya Icha. Untung saja dia belum menyadarinya. Buru-buru kutarik cowok pabo ini menjauhi mereka.

“Ng, ini kakakku. Aku duluan ya?” Tanpa menunggu respon dari mereka langsung kubawa lari cowok pabo ini.
“Fira-ah! Sakit! Pelan-pelan!” Pekiknya. Aku tidak peduli jika tangannya patah sekalipun. Cowok ini pabonya sudah keterlaluan.

Akhirnya setelah sampai keluar gedung sekolah, aku melepaskan tangannya yang dibalut mantel hitam tebal. Mantel peninggalan ayahku. Cowok ini memang tidak tahu diri.

“Ya! Pabo sekali kamu! Ngapain kamu dateng ke sekolahku? Banyak banget ELF di sekolahku yang bakal bunuh aku kalo tau kamu kenal denganku tau!” Bentakku.

“Mianhae. Aku cuma pengen tau keadaanmu ngadepin olimpiade ini.” Ucapnya dengan suara pelan.

“Seharusnya nggak usah! Aku baik-baik aja. Gwaenchana.” Ucapku nggak merasa iba dengannya sedikitpun.

“Kamu kenapa sih? Aku ini peduli sama kamu. Aku cuma pengen tau keadaanmu, Fira-ah! Kamu kok jadi marah-marah begini? Oke aku tau aku salah, mianhae.” Ucapnya membuka kacamata hitamnya. Entah kacamata siapa itu.

“Tapi itu nggak perlu! Aku nggak butuh perhatianmu! Kamu bukan siapa-siapaku!” Bentakku lebih marah daripada tadi. Wajah Yesung langsung menekuk. Dia mengalihkan pandangannya dariku dan menunduk. Apa aku keterlaluan? Enggak kan? Hei, enggak kan?

“Mianhae.” Ucapnya dan langsung membalikkan badan dan meninggalkanku. Aku nggak mau mengejarnya. Aish! Kenapa tubuhku nggak sejalan dengan pikiranku?

“Tunggu, Yesung-ah!” Aku berlari menghampirinya. Dia berhenti berjalan. Tapi masih belum membalikkan badan. “Mi…” Aish kenapa rasanya sulit banget. “Mi-mianhae. Aku nggak bermaksud marah padamu. Hanya saja… aku melakukan ini demi kamu. Nanti kalau ada yang menyadarimu gimana? Kamu bakalan dipaksa pulang dan…” Untuk yang satu ini sumpah aku berbohong. “Aku tidak bisa bersamamu lagi…” Ucapku sambil menunduk. Dari sudut mataku aku bisa melihat dia menoleh ke arahku. Sial. Kok aku jadi gugup begini sih?

Yesung mendekatiku. Kulihat sepatunya berderap semakin dekat ke arahku. Dia menarik daguku hingga mata kami bertemu. Aku sangat menyukai tatapannya. Dalam dan tajam, tetapi tetap terlihat lembut. Entah ada berapa orang Korea yang punya tatapan seperti ini tapi kurasa dialah yang terbaik.

Tubuhku sudah tidak bisa kukendalikan lagi. Semakin lama wajahku dan wajahnya semakin dekat. Aku langsung merasa sekarang di dunia ini hanya ada aku dan dia. Semakin dekat… dekat… dan…

“FIRA!!!” Aku terkejut. Aku langsung menjauh dari Yesung beberapa langkah dan Yesung buru-buru membetulkan kacamatanya. Aku menoleh. Kulihat Icha, Tata dan… siapa itu? Oh, Ha Na berlari ke arahku. Aku langsung mengkode-kode Yesung agar pulang. Dia mengangguk. Kuharap kepaboannya tidak kambuh saat ini.

“N-ne. Waeyo?” Aku menepuk jidat. “Maksudku kenapa?”

“Kamu lama banget. Kita penasaran sama kakakmu tadi. Dia mau kemana? Kok kamu nggak kenalin ke kita dulu sih?” Ucap Tata.

“Sebenarnya pertanyaan yang bener, sejak kapan kamu punya kakak?” Desis Ha Na dengan sinis. Oke, aku tau pasti dia masih mencurigaiku.

“Itu… itu kakak sepupuku dari desa sana. Ibu yang suruh dia jengukin aku.” Ujapku setenang mungkin. Padahal dadaku masih dag dig dug dengan mengingat kejadian tadi.

“Oya?” Ha Na tampak pura-pura kaget. “Kok dia pake mantel segala macem itu sih?”

“Dia lagi sakit.” Jawabku asal. Icha dan Tata manggut-manggut sementara Ha Na menatapku datar.

“Eh, barusan Kyuhyun update twitter loh. Dia ngupload video di tweetnya. Kamu mau liat?” Icha memberikan Tab-nya kepadaku. Aku langsung mengambilnya.

“Annyeonghaeseyo, Cho Kyuhyun imnida. Aku membuat video ini spesial untuk Yesung hyungku tersayang, yang sekarang keberadaannya tidak ada satupun yang tau…” Ya, kecuali aku. “Yesung hyung, mianhae. Aku benar-benar minta maaf atas kejadian hari Jumat silam. Aku baru sadar betapa pabonya aku karena membentakmu hyung. Mianhae atas semuanya. Aku berjanji akan membuang semua kaset gamesku jika engkau mau kembali. Aku akan berjanji akan menghormati kau dan hyung yang lain. Aku berjanji akan rajin membantu Ryeowook hyung Sungmin hyung di dapur. Aku akan selalu patuh dengan omonganmu dan Leeteuk hyung. Aku berjanji akan menjadi Cho Kyuhyun yang lebih baik untuk kedepannya. Kumohon hyung, kembalilah… Super Junior membutuhkanmu. ELF membutuhkanmu. Kim ahjumma dan Kim ahjussi juga sangat membutuhkanmu. Begitu juga dengan Jongjin. Siapa yang akan merawat ddangkoma dan kura-kuramu yang lain kalau kau tak ada? Jebal… kembalilah. Kami semua disini sangat merindukanmu. Gamsahamnida. Cho Kyuhyun…” Video itu berhenti. Tepat saat Kyuhyun menunduk. Dan… oh? Kuliat air-air bening di pipinya. Dia menangis? Setelah kemarin menjelek-jelekan Yesung sekarang dia menangis? Bisa juga maknae evil sepertinya menangis. Menurut cerita Yesung Kyuhyun adalah orang terjahat dan terautis yang pernah ia temuin. Wajahnya tampan, perawakannya cool, suaranya bagus, tapi itu hanya saat di panggung. Kalau sudah sampai di dorm, dia akan diam di sofa dan bermain games sampai larut. Katanya Donghae pernah terbangun malam-malam gara-gara mendengar teriakan Kyuhyun yang kalah main games. Tetapi, dia juga seorang namja yang pintar. Selain games, dia juga hobi ngerjain soal-soal metik ditengah kesibukannya. Dasar autis.

Oke, kembali ke topik awal.

Aku mengembalikan tab itu kepada Icha.

“Kamu ngerti dia ngomong apa? Aku masih ada beberapa bagian yang kurang ngeh. Bahasa Koreanya cepet banget! Ha Na nih pelit nggak mau ngasih tau!” Icha menyenggol lengan Ha Na. Hah? Kenapa Ha Na nggak mau ngasih tau? Kurasa ada udang dibalik batunya.

“Intinya si Kyuhyun ini minta maaf sama Yesung atas pertengkarannya. Dia nyesel udah buat hyungnya itu kabur dari hotel. Di video ini dia berharap Yesung kembali…”

“Hah?” Icha dan Tata langsung berpandangan. “Maksudmu apa? Kenapa Kyuhyun minta maaf? Jadi dia yang buat Yesung pergi?” Loh? Mereka baru tau?

“Iya. Kemaren kan beritanya ada di Arirang World. Masa kalian yang ELF nggak nonton sih?” Aku memandang wajah Icha dan Tata yang tampak cemas.

“Yang lebih aneh lagi kamu yang bukan ELF kok nonton sih?” Ha Na tersenyum sinis ke arahku. Aku terkejut. Sialan, pasti dia memancingku.

“Memangnya kenapa? Nonton berita kan bukan cuma kerjaannya ELF aja kan?” Balasku tak kalah sinis.

“Whatever you say, dude.” Jawabnya sok nginggris. Cih, pabo. “Yang jelas aku udah mulai bisa membaca semua ini, Fir. Lihat saja.” Ancamnya sebelum berbalik badan dan meninggalkanku. Glek. Apakah dia udah tau?

“Ha Na kenapa sih? Tumben banget sikapnya begitu.” Tutur Tata sambil mengambil tempat di sebelahku.

“Molla.” Ucapku pelan.

***

Aku berjalan mengikuti Yesung yang sedang mendorong trolley sambil sesekali melihat-lihat makanan kaleng yang berada di rak. Sudah hampir sejam dia mencari. Entah apa yang dicarinya, tapi kurasa belum ketemu.

“Kau seperti yeoja saja! Lama banget belanjanya!” Desahku sambil melirik jam.

“Diam. Aku kan mau membuat jjangmyeon yang enak.” Jawabnya datar. Hhh… padahal makan ceplok telor aja apa susahnya sih?

“Ya! Yesung-ah, kau sudah liat video permintaan maaf Kyuhyun?” Tanyaku sambil melipat tangan di dada. Yesung berhenti. Dia menaruh kaleng sarden yang tadi dipegangnya. Dia menoleh ke arahku. Kurasa dia udah tau.

“Ne. Aku sudah melihatnya.” Ujarnya kembali memilih-milih. “Video itu juga disiarkan di Arirang World tadi sore, sebelum kau pulang.” Tambahnya.

“Terus? Apa responmu?” Tanyaku lagi. Seorang ibu paruh baya lewat di samping kami dan memandang kami heran. Mungkin karena bahasa Korea yang kami berdua gunakan.

“Molla.” Jawabnya singkat.

“Maksudku…” Aku menyandarkan tubuh di salah satu rak. “Apa… apa kamu nggak berniat pulang?” Tanyaku dengan nada sendu. “Kamu tahu sendiri kan? Kyuhyun membutuhkanmu. Super Junior membutuhkanmu. Eomma dan appamu membutuhkanmu. Semuanya membutuhkanmu. Apa kamu nggak merasa bersalah membuat mereka khawatir?” Lanjutku. Yesung terdiam. Wajah tampannya itu kini membeku. Dia terdiam untuk beberapa lama.

“Tapi apakah kamu nggak membutuhkanku?” Akhirnya suaranya memecah keheningan. Aku langsung menatapnya, terkejut. “Menurutmu apa alasanku masih berada di sini? Bersamamu, bukan bersama Super Junior. Menurutmu apa alasanku yang membuatku bertahan? Sebenarnya aku sudah punya keinginan untuk pulang sejak beberapa hari yang lalu. Bahkan sebelum berita kehilanganku disebarkan. Tapi, keinginanku itu langsung menghilang. Keinginanku untuk pulang langsung sirna setiap aku melihatmu.” Kini dadaku benar-benar terasa sesak. “Sejak Teuk hyung bercerita padaku soal kamu, yang diberi mawar olehnya di panggung kemarin, membuatku penasaran. Ia bercerita bahwa ia merasa ada aura yang berbeda dari dalam dirimu. Kamu satu-satunya yeoja yang tidak bersorak-sorak dan mengangkat lightstick-mu. Aku jadi semakin ingin bertemu denganmu. Hingga akhirnya, kamu menyelamatkanku. Kamu menyelamatkan nyawaku di hari hujan saat itu. Jujur, aku cukup kecewa saat mengetahui kamu bukan seorang ELF, bahkan pembenci Super Junior. Tapi aku langsung terkesan saat mendengar ceritamu. Cerita tentang kamu dan keluargamu. Aku tidak pernah bertemu yeoja sepertimu sebelumnya. Yang tetap tersenyum, meskipun kenyataannya kamu tidak punya apa-apa lagi. Aku jadi semakin kagum padamu… dan tampaknya langsung berubah menjadi suka… sayang… dan akhirnya, kusimpulkan bahwa aku sudah mencintaimu. Saranghaeyo.”

JDERRR!!!! Petir langsung menyambar tubuhku yang masih membatu. Mataku tidak berkedip sama sekali. Bibirku terkatu rapat. Dan hatiku ingin meloncat keluar. Kupandang namja yang berdiri kurang dari satu meter dihadapanku. Tatapannya begitu lembut. Senyumannya mampu membuat yeoja manapun pingsan dibuatnya. Begitu juga dengan aku. Kurasa aku akan pingsan sebentar lagi.

“Ah…” Yesung kembali memandang rak di sebelahnya. “Lupakan. Aku tau jawabanmu. Kita berbeda kebangsaan, berbeda agama, berbeda bahasa, berbeda budaya. Tampaknya perasaanku ini nggak bisa melawan takdir.” Tambahnya kembali sibuk dengan makanan-makanan di tangannya. Aku masih mematung.

“Fira?” Tubuhku yang tadi melemas langsung menegang. Suara yeoja yang sangat kukenal tadi langsung membuyarkan lamunanku. Dengan ragu aku menoleh.

-YESUNG POV-

Aku merasa pabo sekali. Kurasa benar kata Kyuhyun, aku memang pabo. Tapi setidaknya hatiku lega. Hatiku tidak perlu menahan perasaan ini lebih lama lagi.

“Fira?” Aku menoleh. Seorang yeoja yang kulihat tadi siang bersama Fira berdiri tepat di sampingnya. Aku berhenti memandangi makanan kaleng ditanganku. Aku langsung menyadari Fira tampak panik. Aku langsung merapatkan topiku.

“I-Icha?” Fira tampak sangat terkejut. Siapa sih yeoja itu? Chingu-nya Fira? Namanya siapa tadi? I-Icha? Aneh sekali. Seperti judul lagu Super Junior.

Yeoja itu langsung berbicara dengan Fira menggunakan bahasa Indonesia. Sesekali dia menunjukku. Aku langsung pura-pura tidak tahu.

Sial. Yeoja itu mendekatiku, padahal Fira tampak sudah melarangnya. Aku semakin merapatkan mantel dan topiku. Dan yang lebih sialnya aku lupa mengenakan kacamata. Aku berdoa semoga dia bukan ELF atau Clouds.
“Ye-Yesung?!” Matanya langsung membulat. Wajahnya tampak terkejut sekali. Glek. Aku menatap Fira. Dia tampak sangat kuatir. “Ka-kau Yesung kan?” Lanjutnya, dan kini dengan bahasa Korea. Sudah kuduga dia ELF. Kini dia menoleh ke arah Fira. Fira tampak ketakutan sekarang.

-SHAFIRA POV-

Icha mendekatiku. Di wajahnya terbesit rasa heran dan marah. Aku sudah menyerah. “Fi-Fira? Dia Yesung kan? Dia Yesung Super Junior kan? Kok dia bisa ada disini? Bersamamu? Kenapa kamu bilang dia kakakmu? Apa maksudnya, Fira?” Tanyanya kepadaku. Nadanya semakin lama semakin tinggi. Aku sudah tidak sanggup mencari alasan lagi.
“Maafkan aku, Cha. Dia… dia memang Yesung. Dia Yesung Super Junior yang sangat kamu idolakan itu. Dia… dia selama ini ada bersamaku. Dia menginap dirumahku selama ini. Dia bersembunyi dari member lainnya. Maafkan aku, Cha… maafkan aku karena sudah bohong dan nggak bilang sama kamu… maaf….” Tubuhku langsung melemas. Kini aku sudah berlutut di hadapan Icha.

“Tunggu sebentar. Aku masih belum percaya semua ini.” Sekarang Icha berlari ke arah Yesung. Melepas topi dan mantelnya secara paksa, dan menatap wajahnya jelas-jelas. Aku sudah tidak sanggup melihat ekspresi Yesung saat itu. Mataku sudah dipenuhi dengan air mata.

“Kau benar-benar Yesung?” Icha bersuara lagi. Kini dia menangis, dan langsung memeluk Yesung. “Dari dulu aku sangat ingin bertemu denganmu, Yesung. Dan terimakasih. Aku sangat mencintaimu. Kini mimpiku menjadi nyata.” Ucapnya ditengah isakannya. Aku mendekati mereka berdua.

“Kamu nggak marah kan sama aku, Cha?” Tanyaku. Icha langsung melepaskan pelukannya dengan Yesung. Dia menatapku tajam.

“Jelaslah aku marah! Kamu sudah buat aku dan semua ELF yang ada di seluruh dunia khawatir! Kenapa kamu nggak langsung bilang pada polisi? Kyuhyun oppa dan oppadeul lainnya nggak akan khawatir kalo kamu ngaku! Kamu munafik, Fira. Kamu bilang kamu nggak suka Yesung dan Super Junior sama sekali. Tapi apa kenyataannya? Kamu malah satu rumah sama Yesung! Satu rumah! Kalo ibumu tau aku yakin dia bakalan marah besar sama kamu.” Kini dia menoleh ke arah Yesung. “Ayo pergi, Yesung. Kamu tidak pantas berada di dekat antis seperti dia. Dia tidak mengerti pengorbananmu. Ayo pergi.” Ucapnya dalam bahasa Korea. Aku benar-benar tidak sanggup berkata apa-apa. Appa… Icha… dan kini Yesung… aku akan kehilangan Yesung.

“Anio!” Kudengar teriakan Yesung. Ia melepaskan pegangan tangan Icha. Icha tampak terkejut. Kini namja itu mendekatiku. “Aku mencintai Fira. Aku tidak akan mau pergi.” Ucapnya dengan bahasa Korea. Dan kalimat itu langsung membuat air muka Icha berubah 360 derajat.

“Mwo?! Kamu mencintai Fira?!” Icha tampak sangat terkejut. Begitu juga dengan aku. “Kamu gila ya? Fira itu bukan ELF! Dia tidak menyukaimu dan member lainnya! Dia sama sekali tidak mencintaimu! Kenapa kamu mencintainya? Apa karena dia menampungmu? Kalau begitu aku juga sanggup menampungmu! Aku yang lebih mencintaimu karena aku seorang ELF. Aku sangat mengerti kamu, Yesung oppa.” Jerit Icha kembali menangis. Aku sudah pusing dengan apa yang terjadi. Kurasa aku sudah tidak sanggup merespon kata-katanya.

“Aku tidak peduli. Yang penting aku mencintainya. Titik.” Kini nada suaranya terdengar ketus. Apa yang dia lakukan? Icha pasti akan tambah marah.

“Hmp…” Icha mengelap air matanya. “Kau puas, Fira? Kau puas? Kau sudah membuat ribuan Clouds kecewa karenamu. Yesung memilih kamu, yang bahkan tidak hapal nama member Super Junior, dibanding aku yang sudah mencintai Yesung dan Super Junior selama setahun lebih. Kau puas? Kau sangat mengecewakanku, Fira. Jangan harap aku mau ngomong lagi denganmu.” Icha berjalan meninggalkanku. Aku berusaha mengejarnya tapi Yesung menahanku. Apa-apaan namja ini? Dia pikir aku berterimakasih karena udah membelaku? Gak bakalan! Gara-gara tingkah kekanak-kanakannya aku jadi harus kehilangan sahabatku. Sudah kuduga kehadirannya disisiku malah semakin membuat kehidupanku memburuk. Aku jadi menyesal karena menyelamatkannya waktu itu.

“Ya! Kau mau apa lagi kali ini? Kau sudah puas membuatku kehilangan yerrobunku? Kau puas? Kalau kau benar-benar mencintaiku, lebih baik sekarang kau pergi. Pulanglah ke Super Juniormu. Kau membuat banyak masalah di kehidupanku.” Aku melepaskan pegangannya dengan kasar dan langsung pergi meninggalkannya. Aku sudah tidak peduli dengannya. Aku berlari sekencang mungkin. Sampai aku yakin dia tidak akan bisa mengejarku. Ah… tidak ada lagi beban dihidupku. Tidak akan ada lagi yang memaksaku tidur. Tidak akan ada lagi yang menggunakan laptopku seenaknya. Tidak akan ada lagi pasangan adu mulutku. Tidak akan ada lagi… yang peduli denganku. Yang membuatkanku sarapan. Yang mengajakku bercanda. Yang menyayangiku. Lebih tepatnya mencintaiku. Aish, kenapa hatiku sakit?

***

-YESUNG POV-

Kejadiannya berlalu begitu cepat. Saat yeoja itu bertengkar dengan chingunya. Saat chingunya mengajakku pergi. Saat aku menyatakan cinta kepada yeoja itu untuk yang kedua kalinya. Saat yeoja itu menangis dan memaksaku untuk pulang. Saat aku memandangnya pergi tanpa bisa mengejarnya sama sekali.

Aku berjalan terseok-seok keluar dari gedung Mall. Aku tidak tau jalan bahkan tidak tau harus kemana. Aku hanya berharap aku bertemu dengan yeoja seperti dia, yang menyelamatkanku dari tabrakan truk, yang membuatkanku teh hangat, yang mengajariku bahasa Indonesia, yang menyuruhku mencuci piring, yang belajar hingga tengah malam untuk eomma dan appanya, yang memberiku pelajaran tentang kehidupan. Yang kusayangi, oh, ani. Yang kucintai.

Aku berjalan tanpa arah sambil menunduk kebawah. Memandangi sepatu milik appa yeoja itu. Aku tersenyum entah kenapa. Aku sudah mulai tidak waras.

BRUK!! Aku mundur beberapa langkah. Kuangkat kepalaku. Seorang namja dengan mantel tebal plus topi dan kacamata hitam tampak sedang menggosok-gosok kepalanya.

“Mi-mianhae…” Aku baru sadar dimana aku. “I mean, I’m sorry.” Ujarku lagi sambil membungkuk. Dari sudut mataku aku bisa melihat namja itu tampak terkejut.

“G-gwaenchana.” Ucapnya. Dia berbicara bahasa Korea? “Apakah kamu seorang Korea?” Tanyanya lagi dengan bahasa Korea. Aku mengangkat badan dan mengangguk. Namja itu langsung terkejut. Dia membuka kacamatanya.

“Yesung hyung!?” Kali ini aku yang terkejut. Omo! Namja ini Ryeowook!

“Ryeowook? A-apa yang kamu lakukan disini?” Tanyaku lagi sambil mengamatinya baik-baik. Dia benar-benar Ryeowook. Tuhan… aku benar-benar merindukannya.

“A-aku…” Dia menoleh kanan-kiri. “Aku dan Leeteuk hyung tadi membantu staff SM mencarimu disini. Dan… finally… aku menemukanmu, hyung. Aku sangat merindukanmu.” Ia memelukku. Aku membalas pelukannya.

“Nado…” Ujarku. “Aku juga sangat merindukanmu.” Aku mendekapnya semakin erat. Setelah beberapa detik, dia melepaskan dirinya.

“Kemana saja kau selama ini, hyung? Kami semua sangat mencemaskanmu. Eommamu tidak berhenti-berhentinya menelpon Leeteuk hyung. Kyuhyun sudah bercerita kepada kami dan dia sangat menyesal. Kembalilah, hyung. Dan aku sudah tidak sabar mendengar ceritamu.” Ryeowook langsung menunjukan wajah aegyonya. Aku sangat merindukan wajah itu. Tapi seketika wajahku langsung mendung.

“Wa-waeyo hyung? Gwaenchana?” Wajah Wook tampak cemas. Aku hanya tersenyum pahit.

“Gwaenchana. Masalahnya, aku tidak bisa kembali. Mianhae.”

“Waeyo? Apa kau masih belum bisa memaafkan Kyuhyun?” Wook tampak kecewa.

“Ani. Hanya saja aku harus mengejar cintaku.” Ucapku singkat sambil tersenyum datar. Wook tampak terkejut.
“Maksudmu, hyung? Istirahatlah dulu di hotel. Kami akan membantumu.” Ryeowook menuntunku. Aku hanya bisa menurut.

“Ne. Gamsahamnida, Wook.”

***

-SHAFIRA POV-

“Bisakah kau ceritakan apa yang kau lewati beberapa hari ini?”

“Ohh… ceritanya sangat panjang. Mungkin saat sampai Seoul baru akan kubuka.”

“Lalu? Bagaimana perasaanmu sekarang? Kenapa kau memutuskan untuk pulang?”

“Sebenarnya aku tidak memutuskan apa-apa. Kebetulan saja aku bertemu Ryeowook-ah di jalan dan dia mengajakku kembali. Aku bahagia sekali bisa melihat semua member kembali. Aku sangat merindukan mereka.”

“Kemudian? Kapan Super Junior akan kembali ke Seoul?”

“Molla. Secepatnya.”

Aku mematikan TV. Kulempar remot TV hingga membentur layarnya. Aku memeluk guling di sampingku. Yang terlintas di kepalaku sekarang hanyalah… kesepian.

Sejak tadi sore aku terus menelpon Icha dan berharap ia mengangkatnya. Tapi tampaknya dia sangat marah denganku. Ya, aku tau aku memang salah. Aku salah karena mencintai orang yang seharusnya tidak kucintai.

Ya Tuhan, kenapa aku harus menjadi cewek yang ditakdirkan untuk menyelamatkan nyawanya saat itu? Jika hal itu tidak terjadi sekarang aku hanya gadis baik-baik yang tidak mengenal Super Junior sama sekali. Yang tidak mencintai salah satu membernya.

Tampaknya ini saatku untuk membuat akun twitter. Jika Yesung sudah bercerita kepada dunia tentangku pasti namaku sudah bertebaran di tweet-tweet para ELF. Dan pasti beberapa menit lagi sudah banyak ELF Indo yang mendemo di depan rumahku.

Apa? Kalian bertanya bagaimana perasaanku sekarang? Sepertinya perasaanku saat ini bisa dikatakan dengan istilah galau. Atau dilema. Ah, apapun itu.

Jujur, dalam lubuk hatiku yang terdalam ada hati kecilku yang mengatakan bahwa aku sangat mencintai Yesung. Tapi menurut otak dan logikaku, perasaan cintaku ini hanya bullshit. Mana ada seorang anak SMA biasa sepertiku yang bisa memacari salah satu anggota dari boyband terbaik se-Asia, Yesung. Very impossible. Tapi, kalau mengutip kalimat Mario Teguh, nggak ada nggak yang mungkin kan selama ada usaha? Tapi apa usahaku? Sial.

Sudah kuperkirakan Yesung dan Super Junior bakalan balik ke Korea mala mini atau besok. Pasti mereka bakalan secepatnya balik. Penyanyi internasional seperti mereka pasti punya banyak banget panggilan. Maksudnya bukan panggilan Yang Maha Kuasa ya.

Dan… sekarang? Apa yang bakalan kulakuin? Mohon-mohon sama Yesung supaya nggak pergi? Ah, nggak mungkin. Yesung pasti sudah sangat sakit hati denganku. Lagian dia juga belum tau perasaanku yang sesungguhnya ke dia. Sial! Kenapa tadi aku nggak mengatakan nado saranghae? Yah, penyesalan memang selalu datang terakhir. Tiba-tiba mataku langsung terasa berat. Oh, aku butuh tidur. Sejak kemarin aku selalu tidur larut. Sebelum aku benar-benar menutup mata terbesit bayangan seorang cowok yang sangat kucintai sekarang. Goodbye, Yesung. Maybe we will meet again in another time…

***

-YESUNG POV-

“Tidak bisa! Tidak bisa!” Aku menunduk. Tak sanggup menatap mata Prince Manager yang sedang memarahiku. “Kau sudah terlalu banyak membuat masalah! Apa kau tahu berapa banyak panggilan yang kita cancel karenamu? Dan sekarang kamu masih bilang ingin tetap di Indonesia? Apa kau gila? Dimana otakmu?”

Akupun terdiam. Apa yang dikatakan Prince Manager memang benar. Aku memang sudah kelewatan.
“Mianhae, tapi mungkin maksud Yesung…”

“Diam, kau Leeteuk! Kau juga, sebagai hyung tertua malah membela dongsaengnya yang salah!” Kali ini Prince Manager memaki-maki Leeteuk hyung. Dia berusaha membelaku tapi malah kena imbasnya. Oh, betapa pabonya aku.

“Sudah, hyung. Aku memang salah.” Aku menarik tangan Leeteuk hyung yang tadinya berdiri.

“Baguslah kalau kamu mengerti.” Namja umur 30an ini tersenyum kecut kepadaku. “Permisi. Saya ada urusan lain. Kemasi barang-barang kalian.” Prince Manager akhirnya meninggalkan kamar kami. Kami semua langsung menghembuskan nafas lega.

“Hhh… tidak pernah Prince manager marah besar seperti itu.” Tutur Sungmin.

“Ne. Jarang sekali dia sampai semarah itu.” Eunhyuk tampak setuju. Aku kembali menunduk.

“Hyung?” Ryeowook mendekatiku. Wajahnya tampak khawatir. “Gwaenchana? Mianhae hyung karena kami tidak bisa memaksa Prince manager untuk tetap tinggal. Mianhae…”

“Gwaenchana, Wook.” Aku tersenyum pahit ke arahnya. “Kalian sudah kurepotkan tapi masih sebaik ini kepadaku. Gomawo.” Semua member menatapku. Aku membalas tatapan mereka satu per satu.

“Mianhae, Yesung-ah…” Kali ini Leeteuk hyung yang bersuara. Wajahnya tampak kecewa. “Mianhae karena tidak bisa membantumu menemukan cintamu.” Lanjutnya.

Setelah melepas rindu dengan ke-8 member, aku langsung bercerita apa yang kurasakan selama tidak bersama mereka. Apa yang kurasakan saat aku tinggal di rumah kecil milik keluarga Fira. Apa yang kurasakan saat memasak dan mencuci di dapur Fira. Apa yang kurasakan saat menemani yeoja itu belajar sampai larut malam. Apa yang kurasakan saat aku dan dia mulai adu mulut. Tanpa sadar saat itu aku menitikkan air mata. Padahal seumur hidup aku jarang sekali menangis. Selama di SJ bisa dihitung jari saja.

Dan kupikir mereka semua menganggapku tidak waras karena menyukai yeoja yang sudah jelas asal usulnya berbeda jauh denganku. Tapi mereka semua malah mendukungku. Terutama Ryeowook dan Teuk hyung. Teuk hyung malah gembira sekali seperti mendapat undian satu juta won. Sudah kuduga merekalah satu-satunya tempat untuk menceritakan keluh kesahku. Apapun yang kulakukan aku yakin mereka akan selalu mendukungku.

Oya, sejak kembali ke hotel Kyuhyun sama sekali tidak berbicara sepatah katapun. Dia juga tidak menyentuh PSP-nya sama sekali. Semoga saja hal ini membuat dia menyesal atas apa yang telah dia lakukan.

“Terus sekarang bagaimana dong, hyung? Bagaimana dengan yeoja itu? Masa kau akan meninggalkannya begitu saja? Andwae!” Sungmin tampak sebal.

“Mau bagaimana lagi? Lagipula, tampaknya yeoja itu tidak mencintaiku…” Tuturku nanar. Semua member menatapku dengan sedih.

***

-SHAFIRA POV-

Ne show ne show opera norae haneun opera chumchuneu ne opera Neomu chu-eunikka cheongdam-eun igeonikka…

Aish! Siapa yang menelpon malam-malam begini? Aku mengambil ponselku yang tadi kuletakkan di meja belajar. Sial, jarak dari kasur ke meja belajarku jauh lagi.

Apa? Kenapa aku menggunakan ringtone Opera-nya Suju? Aku hanya berpikir aransemennya bagus. Jangan berpikiran yang tidak-tidak.

Kupandang layar ponselku. Nomornya tidak kuketahui. Tapi… sebentar. Ada yang aneh. Kenapa kode nomor depannya +82? Daerah mana itu? Kuangkat panggilan itu dengan ragu.

“Yeoboseyo?” Terdengar suara bass berat seorang cowok dari seberang sana. Sudah kuduga, Korea. Tapi siapa cowok ini? Suara Yesung tidak seperti ini. Oh, kenapa aku jadi memikirkan Yesung? Kujitak kepalaku berkali-kali.

“Ne? Shafira imnida. Nugu?” Tanyaku dengan ragu.

“Kyuhyun imnida. Shafira-ssi? Oh! Untung saja aku tidak salah menelpon!” Hah? Kyuhyun? Cho Kyuhyun si maknae evil itu? “Shafira-ssi, dengarkan aku baik-baik. Malam ini tepat pukul 11 malam waktu Indonesia, tepatnya 30 menit lagi, kami, Super Junior akan mengambil penerbangan malam. Kami akan kembali ke Seoul malam ini…”

Tiba-tiba hatiku jadi sakit sekali. Seolah-olah ada golok besar yang membaginya menjadi beberapa bagian. Aku memegangi dadaku yang mulai terasa sesak.

“Tolong datang ke restoran yang alamatnya akan ku-sms. Yesung hyung sangat mencintaimu, Shafira-ssi. Dia bercerita betapa besarnya rasa cintamu kepadanya kepada kami semua. Tolong, Shafira-ssi. Aku tau pasti kau mencintainya juga.” Cih, tau darimana dia kalau aku mencintai Yesung juga? “Tolong datang sebelum kau menyesal…”
Aku langsung membatu. Tidak tau harus menjawab apa. Aku memang sangat mencintai Yesung, tapi… apa gunanya semua ini? Aku dan Yesung tidak akan bersatu. Kami jelas sangat berbeda mulai dari bahasa sampai kebiasaan.

“Shafira-ssi?” Kudengar orang yang mengaku Kyuhyun ini memanggil-manggil namaku. Aku langsung tersadar dari lamunanku.

“Oh, ne? Omong-omong, darimana kau mendapatkan nomor teleponku?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Jangan mengalihkan, Fira-ssi. Aku tidak mau tau pokoknya 10 menit lagi kamu harus sampai di restoran itu. Annyeong.” Tut-tut-tut. Sial. Dia mematikan telpon begitu saja. Aku masih penasaran dari siapa dia mendapatkan nomor telponku.

Tapi, ada pertanyaan yang lebih penting untuk dijawab daripada itu. Apakah aku akan datang? Aku menggigit bibir. Bingung dengan apa yang harus kulakukan. Jika aku tidak datang… aku yakin sekali Yesung dan Kyuhyun bakalan sangat kecewa. Tapi jika aku datang? Apa tidak lebih buruk? Apalagi aku ngantuk banget sekarang.

Tok… tok… tok… aku menoleh. Pintu rumahku diketuk. Siapa? Semalam ini? Jangan-jangan pencuri. Aku langsung bergegas mengambil panci di dapur dan berjalan mengendap-ngendap ke arah pintu. Aku menyesal karena tidak menyuruh ibuku tidak membuat lubang mengintip di pintu.

“Annyeonghaeseyo…” Hah? Siapa? Orang Korea lagi? Hhh… kenapa orang Korea ini tidak kepok-kepoknya menggangguku? Tapi… suara cewek. Dan terasa sangat familiar!

“Icha!?” Aku terkejut saat mengetahui siapa yang ada di balik pintu. Kubuka mulutku lebar-lebar. Icha berdiri di depan pintu rumahku dengan sebuah kresek besar di tangannya sambil tersenyum ke arahku. “Nga-ngapain kamu semalam ini ada di rumahku? Kamu sudah nggak marah lagi?”

Icha menggeleng masih tersenyum. “Anio, Fira. Ngapain aku marah sama sahabatku yang udah ngerawat idolaku?” Ucapnya masih tersenyum. Ia memandang panci yang ada di tanganku. “Hahaha, ngapain kamu bawa-bawa panci? Kamu pikir aku maling?” Tambahnya masih terkekeh. Aku buru-buru menyembunyikan panci itu di balik tubuhku.

“Ngapain kamu disini, Cha? Ini sudah malem banget!” Seruku mengulang pertanyaan tadi.

“Ceritanya panjang. Ayo masuk.” Icha menarik tanganku masuk ke dalam rumahku. Apa-apaan anak ini? Akhirnya setelah masuk ke dalam kamarku dan berdiri di depan meja riasku ia membuka kresek besar tadi. “Sekarang kamu cuci muka dan bersiap-siap. Aku sudah memilihkan banyak dress untukmu.” Mataku menyipit sebelah. Apa yang dia katakan tadi? “Kau tahu? Tadi Kyuhyun mengirimiku direct message di twitter. Aku nyaris mati saat itu. Hingga akhirnya ia menjelaskan padaku apa yang telah terjadi. Ia menyuruhku datang ke rumahmu dan mempersiapkanmu untuk bertemu Yesung. Kau sangat bahagia, Fira? Begitu juga dengan aku. Kyuhyun mengenalku! Dia nge-follow aku di twitter! Aku bener-bener berterimakasih padamu. Karena kau aku bisa kenal dengan Kyuhyun. Thanks, Fir.” Ucapnya sambil memilih-milih dress yang ada di kresek tadi dan mengepaskannya dengan tubuhku. Aku bengong. Tidak percaya dengan apa yang barusan aku dengar.

“Ja-jadi… jadi Kyuhyun tau nomor telponku dari kamu juga?” Tanyaku masih belum percaya. Icha mengangguk mantap. Tapi, ada satu pertanyaan lagi yang harus dijawab. Darimana dia tau Icha adalah temenku? Kyuhyun itu tampaknya seorang cenayang. Yesung harus berhati-hati dengannya.

“Yep. Aku jelas nggak bisa nolak waktu dia minta nomormu. Dia menelponmu?” Kali ini Icha membuka sebuah dress berwarna Sapphire Blue yang menarik perhatianku.

“I-iya.” Ucapku masih memandangi dress itu. “Bisakah aku menggunakan itu? Modelnya bagus banget.” Pintaku. Icha melihat dress itu sepintas dan langsung mengangguk-ngangguk.

“Ya. Buruan ganti!” Icha langsung mendorongku ke kamar mandi tanpa ba bi bu lagi.

***

-YESUNG POV-

Aku memandang langit biru kota Jakarta yang dipenuhi dengan bintang dari dalam van. Aku menoleh ke samping. Ryeowook tertidur di bahuku. Wajahnya sangat polos dan innocent. Mengingatkanku pada yeoja itu.

“Ya! Yesung, kau tau dimana Kyuhyun?” Tanya Teuk hyung. Aku menyerngitkan dahi. Kyuhyun?

“Molla. Mungkin dia di van belakang.” Jawabku cuek. Aku sedang malas membahas Kyuhyun.

“Ani. Dia tidak ada di van belakang. Barusan Sungmin menelponku menanyakan keberadaannya. Kemana bocah itu?” Teuk hyung tampak khawatir. Aku tetap bersikap cuek. Meskipun dalam hati aku sangat mencemaskan dongsaengku itu. “Hubungi dia, Yesung. Daritadi aku menelponnya tapi sibuk.”

“Memangnya apa bedanya jika hyung yang telpon?” Cibirku, menggeser kepala Ryeowook dari bahuku.

“Yah, siapa tahu saja kau lebih beruntung.” Ucapnya singkat dan kembali menghadap jalan di depannya. Aku mengeluarkan ponselku. Menekan angka 3 dan langsung tersambung ke ponsel Kyuhyun. Yes, tersambung.

“Yeoboseo?” Suara Kyuhyun yang terdengar tanpa dosa itu langsung membuat amarahku meledak.

“Yeoboseo? Kau masih dapat mengatakan yeoboseo sesantai itu? Dimana kau Cho Kyuhyun! Jangan membuat masalah!” Semburku. Ryeowook langsung terbangun mendengar seruanku.

“Aku sudah berangkat ke bandara lebih dari setengah jam yang lalu. Ada hal penting yang harus ku urus. Lebih baik kau cepat sampai karena ada hal yang harus kau kerjakan.” Ucapnya dengan nada TANPA penyesalan. Namja ini memang selalu berhasil membuatku kesal.

“Hal apa? Jangan bercanda, Kyuhyun. Aku sedang tidak mood.” Jawabku ketus. Sejak kepulanganku tadi sore dia sama sekali tidak mengucapkan mian dan sekarang menyuruhku berbuat sesuatu? Jangan harap, Cho Kyuhyun.

“Diam, hyung. Kau harus melakukan ini demi kebahagiaanmu. Kau ingin bahagia, ne?” Apa-apaan sih bocah ini?

“Haengbok? Ne. Tentu saja. Tapi…”

“Annyeong, hyung. Kutunggu kau.” Tuut-tuut. Dia mematikan telpon begitu saja. Aish! Apa maksud namja ini menyuruhku tanpa sopan santun seperti itu?

“Waeyo, hyung? Ada apa dengan Kyuhyun?” Tanya Ryeowook. Aku menggeleng.

“Ani. Hanya masalah keras kepalanya itu.”

“Dimana dia?” Kali ini Teuk hyung yang bertanya.

“Dia sudah di bandara sejak setengah jam yang lalu. Katanya ada urusan yang harus dia kerjakan. Dan sekarang dia menyuruhku buru-buru datang ke bandara untuk mengerjakan sesuatu. Aish, pabo sekali anak itu.” Gerutuku. Teuk hyung dan Ryeowook tersenyum melihat tingkahku yang dibuat penasaran setengah mati oleh dongsaengku itu.

***

Van yang aku tumpangi berhenti di lapangan parkir Soekarno-Hatta International Airport. Nama yang cukup unik untuk sebuah bandar udara. Kuhirup udara malam yang sangat sejuk. Ya, sejuk. Tidak dingin seperti di Seoul.

Prince Manager, Ryeowook dan Leeteuk sudah berjalan di depanku. Aku masih memandangi mobil-mobil dan pohon-pohon yang ada di lapangan parkir itu satu per satu. Tanpa sadar aku sudah ketinggalan jauh dengan mereka. Aku merasa ada sesuatu yang menarik tanganku.

“Kyuhyun?” Aku langsung terkejut melihat Kyuhyun menarikku ke belakang pohon. Yang jelas sudah tidak bisa dicapai pandangan orang. Apa yang mau dilakukan bocah ini?

“Diam, hyung.” Kyuhyun menaruh telunjuknya di depan bibir sambil menoleh kanan-kiri takut-takut ada yang mengetahui keberadaan mereka.

“Apa-apaan kamu, Kyu?” Aku melipat kedua tanganku di depan dada. “Hal apa yang harus aku kerjakan? Dan kenapa kamu bilang ini menyangkut kebahagiaanku?”

“Karena ini tentang Shafira-ssi, hyung.” Sambarnya. Tubuhku langsung membatu. Jantungku berdegup kencang. “Malam ini, lebih tepatnya sekarang juga, datanglah ke restoran di depan hotel yang kita inapi semalam. Masuk dan bilang kepada resepsionisnya kalau hyung mengambil pesanan atas nama Kyuhyun. Pokoknya masuk saja dan duduk di tempat yang sudah disediain. Jangan kemana-mana sebelum hyung bertemu dengan Shafira-ssi.” Mataku membesar. Aku tidak salah dengar kan?

“Mwo? Apa maksudmu, Kyu?”

“Jangan berpura-pura tidak mengerti, hyung. Kau ingin kan bertemu dengan Shafira-ssi untuk yang terakhir kalinya? Aku sengaja mengatur pertemuan ini untukmu, hyung. Aku sudah tidak mau melihatmu sedih.” Kini suara Kyuhyun melembut. Kupandang wajah dongsaeng evilku ini. Wajahnya begitu… PABO!

“Kau sudah tidak waras, ya Kyu? Jam 12-an pesawat kita sudah akan lepas landas! Ini sudah jam 11 kurang! Aku tidak akan mungkin sempat bertemu dengannya! Sudahlah, Kyu… aku sudah menyerah mengejarnya. Dia tidak membalas cintaku, Kyu…” Aku membuang muka. Takut sampai aku menangis dan Kyu melihatnya. Aku yakin dia akan memotretku dan langsung menyebarkannya di weibo dan twitter.

“Hyung! Jangan bilang seperti itu. Masih ada waktu! Aku akan memanipulasi keberadaanmu jika member lain atau Prince Manager bertanya. Cepatlah, hyung! Waktunya tidak lama! Kejarlah yeojamu, hyung!” Kyuhyun menggoyang-goyangkan pundakku. Aku tidak yakin dengan hal ini. Otakku tidak setuju tapi hatiku berkata sebaliknya. Dan tubuhku memilih untuk mengikuti kata hatiku.

“Baiklah, Kyu. Aku akan mengejarnya. Mana mobil yang akan kutumpangi?” Tanyaku sambil menoleh kanan-kiri mencari mobil Kyu. Kyu mengeluarkan smirk-nya.

“Kau pikir aku siapa, hyung? Bisa dengan mudahnya menyiapkan mobil seperti itu. Carilah taksi!” Serunya sambil menodong kumpulan taksi di ujung lapangan parkir. Aku sudah meragukan rencana anak ini daritadi.
“Hhh… ne, Kyu.” Aku buru-buru berlari dari pepohonan itu dan merapatkan topiku.

“Hwaiting, hyung!” Kyuhyung mengangkat tangannya.

“Ne, gomawo.” Balasku. “Tapi ada satu pertanyaan lagi, Kyu. Ke-kenapa kau melakukan ini… untukku?” Tanyaku. Senyum Kyu mengembang.

“Because…” Dia menggantungkan kalimatnya. “Because you naughty-naughty, hyung!” Ucapnya sambil menyeringai evil.

Sudah kuduga tidak ada gunanya berbicara romantis dengan anak ini.

***

Untuk kali ini kuakui persiapan yang Kyuhyun lakukan tidak ada duanya. Restoran yang kudatangi ini adalah sebuah restoran khas Indonesia bintang 5 dengan design interior yang sangat mewah. Meskipun mewah, restoran ini tidak meninggalkan adat dan budaya Indonesia karena di setiap detailnya selalu ada barang-barang berbau Indonesia. Pelayan yeojanya saja mengenakan baju Indonesia yang namanya… apa? Oya, kebaya. Dan yang namja mengenakan setelan batik seperti yang dibeli Eunhyuk waktu itu.

Yang lebih mengejutkanku saat aku memasuki ruangan yang telah dipesan Kyuhyun. Ruangan yang sangat besar dengan tempat makan lesehan khas Indonesia yang dipermak semewah mungkin. Aku hanya bisa melongo dan melongo melihat setiap detail ruangan itu.

Aku pun duduk di tikar itu masih mengagumi ruangan ini. Benar-benar daebak. Mengalahkan ruangan yang ditata Donghae saat mengikuti acara WGM dengan Eun Seo. Aku janji akan mencium Kyuhyun sepulang ini.
Kreekk… pintu dibuka. Jantungku kembali berpacu untuk yang kesekian kalinya.

***

-SHAFIRA POV-

Semua ini bener-bener rempong! Kupikir cukup memakai dress santai berwarna biru tadi persiapanku sudah selesai. Ternyata Icha menuntutku untuk berdandan lebih! Sialan. Meskipun aku nggak tomboi-tomboi banget, tapi aku sudah paling nggak suka kalo disuruh berdandan. Icha dengan gaya tukang makeover-nya itu menjejali mukaku dengan segala peralatan make up yang ia bawa. Wajahku dipoles dengan berbagai macam cairan antah berantah yang menutupi seluruh kulit wajahku. Tetapi, harus kuakui. Hasilnya memang tidak buruk-buruk banget sih. Aku sudah tampak seperti Miss Indonesia meskipun versi yang kecebur got.

Akhirnya, dengan bermodalkan 20 ribu Icha mengajakku naik taksi ke restoran yang dipersiapkan Kyuhyun itu. Aku sudah menolak dan lebih memilih naik angkot tapi dia bersikeras mengajakku naik taksi karena angin di angkot bakalan merusak rambutku. Akupun iya-iya aja karena untuk saat ini dialah Mrs-know-about-everything.

Dan aku langsung terpukau saat baru menginjakkan kaki di depan restoran itu. Tak kusangka restoran yang telah dipersiapkan Kyuhyun adalah restoran khas Indonesia bintang 5 yang sangat mewah. Berapa juta uang yang dia habiskan untuk menyewa tempat ini? Mungkin uang yang kuterima dari dua kali memenangkan olimpiade Biologi tetap tidak akan mampu melunasinya.

Dadaku kembali berdegup. Aku benar-benar deg-degan saat ini. Apalagi saat sang pelayan menuntunku ke sebuah ruangan yang lebih mewah. Aku membuka pintunya dengan ragu dan kulihat seorang cowok dengan celana jins dan kemeja santai menatapku pelan-pelan.

Apa-apaan dia? Pakaianku sudah terlihat modis seperti model tapi kenapa yang ia kenakan malah seperti gembel? Ini pasti hanya akal-akalan Icha saja supaya aku mau di dandani. Sial.

***

-YESUNG POV-

Aku mengerjap-ngerjapkan mata beberapa kali. Aku tidak percaya bahwa yeoja di hadapanku ini adalah Shafira yang selama ini ku kenal. Dia… dia terlihat sangat cantik malam ini!

Aku tidak bisa berhenti menatapnya mulai dari bawah sampai atas. Setiap lekuk tubuhnya selalu membuatku terpesona. Tapi sialnya saat mataku mencapai wajahnya kulihat bibirnya menekuk kebawah.

“Wa-waeyo?” Tanyaku gugup plus malu.

“Kenapa dandananmu seperti gembel, sih? Kau tidak tau akan bertemu siapa malam ini?” Ucapnya ketus. Yeoja ini memang tidak pernah bisa menempatkan diri dalam sikon.

“Mwo? Disaat seperti ini kau masih membicarakan hal itu? Aish!” Aku berjalan mendekatinya dan langsung menggandeng tangannya. “Duduklah. Kau tampak cantik malam ini.” Pujiku. Kudengar tidak ada balasan. Pasti sekarang wajahnya memerah karena malu. Sudahlah, tidak ada yang bisa bertahan dengan gombalannya Yesung, si namja tampan.

“Mwo? Apa yang kau katakana tadi?” Kudengar bentakannya dari belakang. Aku menoleh. Wajahnya persis seperti eommaku saat aku tidak memakan masakannya. “Jadi menurutmu aku cantik saat memakain make-up ya? Huh, kau tidak berbeda dengan namja lainnya.” Gerutunya. Aku menepuk jidat. Apakah dia tidak pernah berpikir realistis? Dia selalu menangkis semua perkataan yang kuajukan. Tidakkah dia mengerti bahwa maksudku memujinya cantik dalam arti yang sesungguhnya? Aish!

“Terserah kau lah. Aku tidak akan memujimu lagi.” Ucapku sambil duduk dihadapannya.

“Ya!” Dia tampak sibuk berkutat dengan gaunnya. “Kalau tahu duduk lesehan gini, kenapa aku make gaun segala? Aish! Icha itu…”

“Shut up!” Aku menggebrak meja. Ia langsung menatapku. “Bisakah kau berhenti mengeluhkan hal-hal yang tidak penting? Tujuanmu ke sini adalah untuk bertemu denganku. Makan dan mengobrol denganku. Bukan untuk hal yang lain.” Ujarku melembut. Kugenggam tangannya. Dan tak lama, sebuah senyuman manis terukir di bibirnya.

***

-SHAFIRA POV-

Aku tidak menyangka mala mini akan menjadi malam terindah dalam hidupku. Tidak seperti pasangan-pasangan biasa yang jika makan malam akan cipika-cipiki lalu tertawa terbahak-bahak seperti orang kesetanan dan bermesra-bermesraan di depan umum. Aku dan Yesung malah mengisi makan malam ini dengan beradu mulut sampai akhirnya kami tertawa mendengar ucapan kami sendiri.

Sungguh, dia tidak seperti cowok lain yang mengutamakan kemesraan dalam berhubungan. Dia malah tidak menyentuhku, maksimal hanya tanganku lah. Dia menanyai kabarku saat dia tidak bersamaku. Bayangkan saja, itu hanya 5 jam! Dan tentu saja kujawab dengan satu kata. Tidur.

Aku bertanya bagaimana dia bisa kabur dari rombongan dan dia menjawab bahwa semua ini semua karena Kyuhyun. Oh, aku ingin sekali melihat tampang anak titisan iblis itu. Sifatnya labil sekali, kadang evil, usil dan harus kuakui malam ini dia baik sekali. Dia memperhatikan secara rinci dalam mempersiapkan acara malam ini.

Dia juga bercerita tentang dongsaeng yang menemukannya di depan mall saat itu meskipun jujur aku tidak bertanya. Namanya Ryeowook. Pertamakali aku mendengarnya terdengar seperti brewok atau semacamnya. Langsung terbesit di kepalaku bahwa ia adalah cowok dengan jenggot dan kumis dimana-mana. Yesung langsung membantah presepsiku itu dan berkata bahwa Ryeowook bertampang imut dan polos. Aku juga ingin bertemu dengannya.

Kami berbincang sampai restoran sudah mau tutup hingga akhirnya Yesung memutuskan untuk mengajakku berjalan-jalan di sekeliling kota Jakarta.

“Hei, menurutmu kisah cinta kita ini pantas nggak sih dijadiin novel?” Tanyanya tiba-tiba saat aku mengakhiri perbincangan mengenai Icha dan Tata.

“Ne. Pantas dong! Jarang ada pasangan seperti kita tau.” Jawabku sambil tertawa.

“Kira-kira judulnya apa ya yang pas? Apa… cintaku bersemi di Super Show, cintaku bersemi di Jakarta… atau apa ya?”

“Ya! Norak sekali judul-judul pilihanmu itu!” Komentarku sambil memukul pundaknya. Dia tertawa renyah.

“Oh, aku tau, judul yang bagus. Kisah Cinta Antara Yeoja Pabo dan Namja Tampan? Gimana? Bagus kan?” Aku mencubit lengannya kali ini. Dia meringis kesakitan.

“Aku tidak sudi kisah ini dijadikan novel kalau judulnya seperti itu.” Ucapku kesal. “Gimana kalau Ada Cinta Antara Namja Cengeng Yang Tidak Tahu Sopan Santun dengan Yeoja Yang Kece, Cantik, Pintar dan Cool-nya Tidak Ketulungan?” Usulku dan kali ini dia mencubit pipiku.

“Tidak ada yang mau baca jika judulnya saja sudah satu paragraf.” Komennya. Aku terkekeh. “Tampaknya tidak ada judul yang pantes ya?”

“Hmm… ne. Cerita kita ini memang nggak bisa dikasih judul. Tidak ada judul yang selevel.” Ujarku sambil nyengir.

“Kalau gitu… judul cerita ini…” Dia tampak berpikir. “Aha! Kisah Tak Berjudul!”

Aku menyerngitkan dahi? Tapi… oke juga. Jarang ada cerita yang judulnya adalah cerita yang tak berjudul (?) Oke, aku mulai bingung sendiri dengan perkataanku.

“Hahaha, tumben otakmu jalan.” Ujarku sambil memukul kepalanya.

“Ya! Shafira-ah! Andwae! Apakah kamu tidak tau berapa jauhnya jarak umur kita?” Serunya sebal.

“Ne. Aku tau. Dasar ahjussi!” Ejekku sambil menjulurkan lidah.

“Ya! Shafira-ah! Jaga kesopananmu, yeoja pabo!” Dia mengejarku yang sudah berlari mendahuluinya.
Dan kurasa, kejar-kejaranku dengan dia ini mengakhiri Kisah Tak Berjudul kami. Kuharap Kisah Tak Berjudul ini bisa terus berjalan hingga usiaku menginjak tua nanti. Aku berharap Yesung lah yang ditakdirkan untuk bersamaku hingga nanti.

THE END
P.S.
Terimakasih sebanyak-banyaknya buat kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita tidak pentingku ini. Kuharap cerita ini dapat menghibur kalian. Mengenai informasi saat Super Show 4 day 1 itu Author minta maaf jika banyak yang tidak sesuai fakta. Soalnya author tidak nonton SS4INA day 1… day 2… dan day 3 (?) Intinya Author tidak menonton SS4INA. Soal length cerita ini, author minta maaf karena terlalu panjang. Malah awalnya author ingin membuat cerita ini One Shoot yang totalnya sebanyak 63 halaman Ms. Word. Tapi author tau diri pasti readers akan bete membacanya. So, jadilah cerita ini. Terimakasih sebesar-besarnya. Salam, Istri Sahnya Yesung [Digebukin CLOUDS].

Advertisements

4 thoughts on “Kisah Tak Berjudul | Part 3 | END

  1. firaaaaaa! ;3
    maaf ya cuman bisa ngomen di part ini doang, padahal aku juga baca part 1 sama 2 hwhw TT^TT
    well, aku suka bingits ama ceritanya firrrrrr!!!><
    aku lebih doyan cerita indo-korea kek beginian, soalnya feelnya lebih dapet! apalagi tokoh kamu yang awalnya ga-mau-tahu-tentang-super-junior malah di sukain sama salah satu member di sonoh hixs.
    aku ga rela fir ;< bisa ga tokoh shafiranya di ganti jadi anin? /PLAKPLAKPLAK
    AYO SEQUEL! penasaran gimana nasib fira-yesung beberapa tahun kemudian;3
    SEQUEL SEQUEL SEQUELLLLLL!!

    eh btw, itu endingnya mereka uda pacaran belom sih? terus kok ga ada adegan tata lagi? tata belom tau kalo yeye suka fira ya?

    • HALOOOOOO
      Waah ini kan fic lama kenapa bisa sampai ke sini- /g
      GA BISA ITU TETEP SHAFIRA GABISA DI GANTI SIAPA2 D:sequel?? o.o waah udah lama aku ga nyentuh genre ini lagi xD

      yaah belum sih hahaha pokoknya kamu pasti tau kan lanjutannya :b

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s