[Special for Kangin’s Birthday!] TEA

NB: Sudah pernah di-post di SJFF.

Title                 :           Tea

Author            :           pearlshafirablue®

Main Cast(s)   :           Kim Youngwoon – Oh Hyena [OC]

Cameo(s)        :           Park Jungsoo – Park Kangshin [OC]

Genre              :           Family – Tragedy

Rating             :           G

Length            :           Oneshot – 9 Pages [2.605 words]

A/N                 :
Happy birthday, uri-Kanginnie! Wish you a very happy birthday! I mad this just for you, raccoon-ah!

pearlshafirablue®

Boseong, South Korea, 16 January 2013 09.42 AM

“Park Kangin! Berhenti di tempatmu sekarang!” Kakek-kakek tua bawel itu terus saja memanggil namaku dengan suaranya yang serak. Sudah mau mati tetap saja banyak tingkah.

“Apa?! Apa lagi yang mau kau lakukan padaku?! Kau mau menyuruhku apa lagi, eoh?! Belum cukup selama ini kau hancurkan hidupku?! Dan kuberitahu sekali lagi, namaku bukan Park Kangin, namaku Kim Youngwoon!” Bentakku kasar. Lelaki tua bodoh itu tampak terhenyak. Ia mundur beberapa langkah sambil memegangi dadanya. Ketika tubuhnya kehilangan keseimbangan, anaknya yang lebih bodoh itu datang dan memeganginya.

Ya! Park Kangin! Apa yang kau lakukan barusan?! Kau lupa ayah kita ini memiliki penyakit jantung?! Jangan sekali lagi kau berbicara kasar pada ayah!”

Aku hanya tersenyum miring sambil memandangi kedua anak-ayah itu. “Jungsoo-ya, berhentilah bersikap konyol. Dia sudah bau tanah! Sebentar lagi akan mati juga!”

“PARK KANGIN!” Si bodoh Jungsoo itu mendekat dan menarik kerah bajuku. Tapi aku tahu, dia tidak akan berani.

“Apa?! Apa yang mau kau lakukan?!” Ucapku ketus. Mata Jungsoo bergerak liar menelusuri setiap lekuk wajahku yang masih membentuk eskpresi sinis.

Jungsoo menurunkan tangannya. Dengan gerakan angkuh kubersihkan tempat-tempat yang tadi disentuhnya. Dan tanpa mengucapkan apapun aku berbalik. Meninggalkan mereka menuju pintu depan.

“Park Kangin…” Terdengar suara Jungsoo yang bergetar memanggil namaku.

Aku berhenti. Tanpa menoleh, kusahut panggilannya. “Namaku Kim Youngwoon.” Ucapku lugas. Aku tidak rela nama asliku—Kim Youngwoon—diubah menjadi nama konyol seperti itu. Ahjussi tua itu tidak bakat memberikan nama.

“Tidak bisakah kau merubah sikapmu itu? Kenapa kau berubah dari seorang anak yang baik dan sopan menjadi seseorang yang menyeramkan seperti ini? Kenapa, Kangin-ah? Kenapa? Tidak bisakah kau memaafkan ayah dan aku? Tidak bisakah kau bersikap sopan kepada kami?” Lanjut Jungsoo—seolah tidak mendengar ucapanku tadi.

Aku mengepalkan tangan. Rahangku mengeras. Kenapa sih, Jungsoo harus menanyakan hal ini lagi? Dia tahu jawabannya kan? Apakah selama 2 tahun ini alasan yang kuberikan belum cukup jelas?

Dongsaengah, aku—”

“Aku bukan dongsaeng-mu!” Pekikku keras. Kini, suaraku yang terdengar bergetar. “Apakah kau tidak bisa menerima kenyataan, Park Jungsoo?! Aku bukan dongsaeng-mu! Kau bukan kakakku dan dia bukan ayahku! Kau sendiri kan yang menyembunyikan hal ini dariku?! Dan setelah bertahun-tahun membuatku hidup dalam kebohongan yang memalukan kau masih berharap maaf dariku?!” Isakku. Sial, aku tidak boleh menangis. Aku sudah berjanji tidak akan menangis lagi sejak 2 tahun yang lalu.

Hening.

Ya, hening panjang mengisi kekosongan diantara aku dan kedua orang asing itu. Aku kembali berjalan. Tidak peduli apapun yang menantiku di luar sana yang penting aku tidak berada disini lagi. Tempat dimana aku harus mengingat semuanya.

“Kim Youngwoon…”

Aku berhenti. Pertamakalinya kakak—maksudku orang asing itu menyebutkan nama asliku. Kutunggu dia melanjutkan perkataannya.

“Apa kau tidak ingat ini sudah tanggal enam belas? Besok hari ulangtahunmu.”

Aku terdiam. Tidak bisa berkata apa-apa. Berbagai ingatan mengenai ulang tahunku beberapa tahun silam terputar jelas di otakku.

Aku tidak menjawab, malah membuka pintu kayu tua yang berderit itu dan menutupnya dengan kasar.

Ulang tahun? Bahkan aku saja tidak tahu kapan tepatnya aku lahir.

pearlshafirablue®

            Aku memandangi butir-butir air sungai yang menciprat kemana-mana saat aku melemparkan sebuah batu ke dalamnya. Terdengar riuh dari desa di seberang sana, dimana para petani akan memanen teh mereka hari ini. Kurasa masyarakat Desa Timur Boseong hari ini akan berpesta.

Kluntung-kluntung

Aku menoleh ketika melihat sebutir apel bergulir ke arahku. Kuraih apel itu dan kupandangi beberapa saat.

“Hm, jwesonghabnida?”

Aku melempar apel merah itu ke sungai saat mendengar suara tersebut. Aku terkejut. Dengan panik kuraih apel yang mulai terbawa arus sungai menuju hilir sungai. Tetapi tak sampai semenit apel itu sudah termakan oleh aliran sungai.

“A-aah!” Erangku saat melihat apel itu sudah tidak dapat kuraih. Aku buru-buru menoleh ke arah sumber suara tadi. “A-apa itu milikmu?” Ucapku takut.

Seorang wanita tinggi semampai dengan badan proporsional itu mengangguk. Di wajahnya tampak tersirat kekecewaan.Dengan gugup aku berdiri dan membungkuk.

Jwesonghabnida, Agassi. Aku benar-benar tidak sengaja! Aku terkejut tadi.” Ujarku lirih. Aku mengangkat wajahku memandang wanita itu dengan ragu. Bisa kulihat beberapa coreng berwarna tanah menghiasi pipi mulusnya. Dia tersenyum.

“Ah, arasseo. Gwaenchana. Toh hanya sebutir.” Jawabnya ramah.

Aku tersenyum. Entahlah, aku kurang yakin, aku sudah lupa caranya tersenyum sejak 2 tahun yang lalu. Tapi kurasa aku tersenyum sekarang.

Aku menggeser arah pandanganku ke arah kanan. Bisa kulihat 2 baskom besar yang terbuat dari rotan tergeletak di belakang gadis itu. Baskom-baskom itu berisi penuh dengan buah-buahan.

“Sebagai gantinya…” Aku menatap mata kelabunya yang bersinar. “Bagaimana kalau kubantu kau membawa buah-buahan itu? Supaya tidak ada lagi buah yang jatuh.” Tawarku dengan ramah dan lembut. Sebentar, aku ramah? Tidak salah?

“Apa tidak merepotkan?” Tanyanya membulatkan mata. Kyeopta. “Agak berat, loh.” Ucapnya polos.

Aku tersenyum geli memandangnya. “Apa kau meledekku, Agassi? Jika kau saja bisa mana mungkin aku tidak bisa.” Candaku. Gadis itu langsung terlihat panik.

“A-ah… bu-bukan itu maksudku. A-aku cuma—”

Ya, aku hanya bercanda.” Potongku sambil berjalan ke arah tumpukan buah tersebut. “Ini mau dibawa kemana?”

Gadis itu terlihat sedikit bingung. Kurasa ia masih merasa bersalah atas ucapannya tadi. Sungguh, gadis yang polos. “Eung… aku mau membawanya ke lumbung di sana.” Aku mengikuti arah telunjuknya. “Di sana orangtuaku sudah menungguku.”

Aku terhenyak mendengar perkataannya. Aku berhenti sebentar. Kutatap sepatuku yang warnanya mulai menghilang. Orangtua?

“Ada apa?” Mendadak lamunanku buyar saat mendengar suara kecilnya menembus telingaku. Aku menoleh ke arahnya.

“Ah, aniya.” Jawabku sekenanya. Dia hanya manggut-manggut. “Oiya, kita belum berkenalan daritadi,” aku mengulurkan sebelah tanganku yang menganggur.

“Oh!” Dia menaruh baskom buah-buahan tadi di atas jembatan dan membalas uluran tanganku. “Oh Hyena.” Jawabnya riang. Aku tersenyum

“Park Ka—” Aku tidak melanjutkan. Kupukul kepalaku sekali. “Kim Youngwoon. Senang berkenalan denganmu, Hyena-ssi.”

Hyena memandang heran, tapi ia langsung membalas senyumanku. “Ne, aku juga, Youngwoon-ssi.”

Kami berdua berjalan dengan santai menuju lumbung. Hyena banyak bercerita mengenai kehidupannya. Dan… topik yang selalu kuhindari, orangtua. Tapi kubiarkan gadis ini bercerita lebih banyak. Melihatnya tersenyum membuatku melupakan masalah orangtua itu.

“Jadi…” Aku membetulkan posisi tanganku. “Ayahmu seorang petani?”

Hyena mengangguk. “Ne! Petani teh! Hari ini ayahku sibuk sekali mengurusi panen besar-besaran Boesang. Malam ini kami akan membuat perjamuan di rumah dan mengundang petani-petani lain. Datanglah ke rumahku, bersama ayahmu juga tidak apa-apa!” Ajaknya riang. Aku tersenyum kecut. Ayah? Sejak kapan ya aku punya ayah?

“Oiya, kau belum bercerita apa-apa!” Serunya tiba-tiba. Bibirnya mengerucut dan itu benar-benar membuatku geli. “Ceritalah sedikit mengenai keseharianmu.” Desaknya. Aku berusaha menanggapi denga berpura-pura berpikir.

“Entahlah, Hyena. Aku tidak tahu apa yang harus kuceritakan.” Jawabku jujur. Aku tidak mungkin menceritakan kebohongan kepada Hyena.

Hyena tampak tidak setuju. “Ya! Masa sama sekali tidak ada hal yang bisa kau ceritakan? Soal orangtuamu mungkin? Soal keluargamu?”

Aku berusaha tegar mendengar pertanyaannya. Hyena tidak harus mendengar kisah suram kehidupaku. “Oh, orangtua?” Aku berusaha menanggapinya dengan ceria. “Hmm… aku tinggal bersama ayah dan seorang kakak di rumah.”

“Oya?” Hyena tampak tertarik. “Ibumu kemana? Siapa nama kakakmu? Apa pekerjaan ayahmu?” Hyena tampak tidak sabar. Andaikan dia tahu yang sebenarnya…

“Hmm…” Aku menerawang ke atas. “Ibuku sudah meninggal sejak aku masih kecil. Sedangkan ayahku—Park Kangshin—kini sudah pensiun. Dulu dia bekerja sebagai guru di salah satu sekolah menengah di kota. Sedangkan kakakku… namanya Park Jungsoo. Sekarang dia membantu ayahku mendirikan toko di depan rumah.” Jawabku.

“Wah, aku turut berduka cita mendengar soal ibumu.” Mendadak air muka Hyena berubah. “Pasti… kau tahu benar ya rasanya kehilangan ibu?”

Aku memandang Hyena yang kini menunduk ke bawah dengan wajah sendu. Kehilangan ibu? Melihatnya saja tidak pernah!

Tapi kurasa ada sesuatu yang aneh dengan Hyena.

“Hyena?” Aku mendekatkan kepalaku ke arahnya. “Kau tidak apa-apa?”

Hyena menoleh ke arahku dengan senyuman tipis. “Youngwoon-ah, apa kau bisa menjaga rahasia?”

Aku menyerngitkan dahi heran. Rahasia? “Rahasia apa?” Tanyaku. Mendadak aku tersadar sesuatu. “Ibumu… belum meninggal kan?”

Hyena terkejut mendengar pertanyaanku. Aku mendadak panik. Aku takut aku salah bicara.

“Yah…” Hyena menghela nafas. “Begitulah.”

Sekarang aku yang terkejut. Bukankah barusan dia bercerita tentang orangtuanya?

“Ibuku meninggal ketika aku berumur tiga belas tahun. Benar-benar hari yang paling ingin kulupakan.” Ucapnya lirih. Dia menoleh ke arahku. “Kau tahu? Dulu keluargaku adalah keluarga yang sangat harmonis. Aku, ayahku, ibuku, kakakku… semuanya bahagia. Meskipun aku tahu aku bukanlah anak kandung ibu, tapi aku tetap bahagia.” Aku terkejut. “Ya, aku memang bukan anak kandung. Ibuku mengungkapkan kebenaran ini ketika aku berumur sepuluh tahun. Aku sedikit syok mendengarnya, tapi aku sangat bersyukur kepada Tuhan, karena ia mengirimkan malaikat sebaik ibu dan ayah ke dalam kehidupanku yang kosong ini…”

Aku menunduk mendengar ucapannya. Bisa kulihat dari sudut mataku sebutir air mata jatuh membasahi pipinya. Tapi senyum di wajahnya tetap tidak bergeming.

“Dan ketika ibuku meninggal karena sakit, ayahku menjadi gila. Dia stress dan terpaksa dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa. Tak lama setelah kematian ibu, akhirnya ayah juga meninggal.” Tuturnya. Dia menghapus air mata dengan lengan bajunya. “Dan karena ayah meninggal, kakakku berubah. Ia menjadi pemabuk dan suka berjudi. Ia membuat harta yang ditinggalkan ayah menjadi habis. Hingga akhirnya dia menghamili seorang wanita, dan hingga sekarang dia di penjara. Aku tidak pernah melihatnya lagi.”

Aku memandang Hyena dengan tatapan sendu plus takjub. Bagaimana mungkin gadis berumur 13 tahun bisa menghadapi begitu banyaknya rintangan hidup? Bagaimana mungkin dia mengetahui kebenaran bahwa dia bukan anak kandung dengan sebegitu ikhlasnya?

Aku menelan ludah.

“Setelah kematian kakakku, aku terpaksa pindah dari Seoul ke sini. Karena disini ada beberapa kerabat jauh ayahku yang siap untuk mengurusiku.” Dia tersenyum. Sebentar. Dia masih bisa tersenyum?! “Paman dan bibiku yang mengurusku disini tidak seperti kedua orangtuaku dahulu. Mereka kejam dan suka memerintah. Mereka juga terkadang menindasku. Tapi aku tidak peduli. Aku tetap menyayangi mereka. Mereka yang kusebut orangtua tadi. Aku selalu menganggap mereka sebagai orangtuaku. Tidak peduli bahwa mereka tidak pernah sudi menjadikanku anak mereka. Karena aku benar-benar ingin memiliki orangtua. Aku membutuhkan sosok ayah dan ibu. Aku benar-benar tidak peduli dengan karakter mereka berdua, yang penting aku punya ayah dan ibu.” Kini suara Hyena sudah terdengar seperti isakan.

Aku memandangnya dengan sedih. Betapa berat hidupnya selama ini. Betapa banyak cobaan yang diberikan Tuhan kepadanya.

Mendadak aku merasa malu. Bagaimana mungkin aku—yang masih punya orangtua dan seorang kakak bisa sekeji ini? Bagaimana mungkin aku menyia-nyiakan mereka? Bahkan aku berpikir tidak ingin memiliki mereka! Padahal Hyena sangat membutuhkan kasih sayang orangtua, tapi aku malah membuang dan menginjak-injaknya!

“Tapi aku selalu mengingat perkataan ibuku,” mendadak Hyena bersuara lagi. Sekarang tidak terlalu terdengar serak. “Jalani hidup ini seperti teh. Duduk diam di dalam kotak kemasan dan menunggu seseorang mengambilnya. Biarkan satu per satu orang yang kau sayang diambil dari kotak teh dan ketika tersisa kau sendiri, pasti akan menyedihkan. Aku tahu. Tapi tunggulah. Karena ketika kau diambil, dan seseorang menaruhmu dalam segelas air panas dan gula, semuanya akan terasa indah. Ketika manis gula bercampur dalam dirimu. Ketika kehangatan air menjalari dirimu… itu rasanya sangat nikmat. Disitulah puncak kebahagiaanmu. Karena Tuhan tahu apa yang harus dilakukan-Nya kepada umatnya. Tuhan hanya meminta kita untuk menunggu, dan melakukan apa yang harus dilakukan. Mungkin orang-orang yang kau sayangi bahagia duluan, tapi itu lebih baik dibanding kau yang harus mendahului mereka. Cukup menunggu dan semuanya akan baik-baik saja.”

Dada Hyena naik ketika aku memeluknya seketika. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku secara refleks memeluknya. Aku langsung menaruh baskom buahku di tanah, melepas baskom di tangannya dan memeluknya. Kutahan air mataku yang sudah bergenang di pelupuk. Gadis ini… gadis yang benar-benar hebat. Betapa inginnya aku menjadi sepertinya.

“Young-Youngwoon? Gwaenchana?” Suara Hyena terdengar takut. Aku melepaskan pelukannya dengan perlahan. Aku tersenyum.

“Tidak apa-apa.” Ucapku lirih. “Aku hanya benar-benar kagum kepadamu. Ingin sekali aku menjadi sepertimu.” Lanjutku. Pipi Hyena merona merah. Menambah nilai plus di wajahnya.

“Terimakasih.” Jawabnya. “Aku hanya belajar dari apa yang ibuku ajarkan.” Ucapnya.

Kami berdua kembali berjalan. Lumbung hanya berjarak sekitar 20 meter dari tempat kami berdiri sekarang. Tiba-tiba suara Hyena kembali terdengar.

“Youngwoon.” Panggilnya.

Aku menoleh, “ya, Hyena? Ada apa?”

“Daritadi ada yang kupikirkan.” Ucapnya. Aku menatapnya tapi mata gadis itu masih lurus ke depan. “Ayahmu Park Kangshin, kakakmu Park Jungsoo. Dua-duanya bermarga Park. Tapi kenapa namamu Kim Youngwoon?”

pearlshafirablue®

Boseong, South Korea, 16 January 2013 11.35 PM

BRRAAK!!!

Aku membanting pintu kayu tua dengan kasar. Aku mengedarkan pandangan ke arah ruang tamu rumahku yang kecil ini. Tidak ada siapa-siapa.

Aku berlari menuju kamar kakakku. Kubuka paksa pintunya yang terselot itu. Disini juga tidak ada apa-apa.

Kali ini aku berjalan ke arah kamar ayahku—berjalan, bukan berlari. Aku membukanya perlahan, tidak memaksa seperti ketika aku membuka pintu depan dan pintu kamar Jungsoo.

Krrieeet…

Pintu bergeser dengan pelan. Bunyi derit itu menandakan bahwa pintu ini sudah berumur dan rapuh. Kamar ayahku sangat gelap. Kurasa sudah beberapa jam lampunya tidak dinyalakan.

Aku berjalan masuk mencari saklar lampu. Ini sudah jam 11 malam, wajar saja kalau kamar ini sangat gelap. Apalagi jika lampunya padam.

Aku baru saja pulang dari rumah ‘orangtua’ Hyena. Mereka berdua memaksaku untuk ikut perjamuan ketika tahu bahwa Hyena dekat denganku. Kurasa orangtua Hyena tidak seburuk yang kubayangkan. Tapi memang benar, mereka terlihat kasar dan suka menindas. Terbukti ketika Hyena dimarahi habis-habisan hanya karena sebuah apel jatuh.

Cklek

Aku menekan saklar lampu. Dan mendadak mataku membesar.

Kamar ini… sudah disihir menjadi auditorium ulang tahun yang sangat indah.

Aku mengedarkan pandanganku. Balon warna-warni dimana-mana. Ada banyak pita di sekeliling ruangan. Bahkan seprai lusuh milik ayahku dihias dengan sedemikian rupa. Dan tepat di tengah ruangan bisa kulihat ada secarik amplop putih yang sudah menguning.

Aku sudah menceritakan semuanya kepada Hyena—ketika ia menanyakan soal marga itu. Aku menceritakan asal mula hidupku. Dan kenapa aku menggunakan nama Kim Youngwoon—nama buatan orangtua kandungku—bukannya Park Kangin. Termasuk perlakukan kasarku kepada ayah dan kakak. Dan Hyena marah besar saat mendengarnya. Dia menyuruhku segera meminta maaf dan berubah sebelum semuanya terlambat. Tapi sialnya aku terlambat pulang gara-gara kedua orangtua Hyena yang menyebalkan itu.

Dan kurasa, aku benar-benar terlambat sekarang.

Kubuka amplop itu. Di dalamnya terdapat secarik kertas berwarna sama. Tulisan hangeul yang berantakan memenuhi bagian depan kertas itu.

Dengar, anakku.

Ayah tau, ayah salah. Dan ayah juga tahu bahwa ayah mungkin sudah tidak pantas kau maafkan. Betapa kejinya ayahmu ini, membiarkan kau hidup dalam keterpurukan selama 27 tahun ini.

Tapi yang harus kau tahu, ayah benar-benar menyayangimu. Hati ayah berdegup keras saat melihatmu tergeletak begitu saja di tengah jalan. Hati ayah menggerakkan tubuh ayah untuk mengambilmu, memelukmu dan memasukkanmu ke dalam kehangatan keluarga ini.

Ayah tidak tahu, apalagi usaha yang harus ayah lakukan agar kau kembali seperti dulu. Kembali menjadi seorang Park Kangin yang baik hati dan ceria.

Ayah sudah menunggu ulangtahunmu yang ke-28 ini. Ayah ingin menjadikan ulangtahunmu kali ini menjadi ulangtahun yang takkan terlupakan. Seperti ulangtahun-ulangtahunmu dahulu. Sebelum kejadian 2 tahun yang lalu.

Tapi ayah gagal. Ayah malah membuatmu pergi dan ayah tahu kau tidak akan kembali ke rumah ini.

Tetapi, jika kau membaca surat ini, kau perlu tahu, Kangin-ah, bahwa ayah sangat mencintaimu.

Kembalilah. Tidak apa-apa jika kau ingin membenci ayah. Tapi tolong, maafkan kakakmu yang tidak ada hubungannya dengan semua ini.

Happy Birthday, Park Kangin. Wish you a better life.

“Ka-Kangin?”

Aku menoleh. Seorang lelaki dengan pakaian serba hitam berdiri di depan pintu dan menatapku dengan takjub.

Hyung?” Aku terisak. Jungsoo hyung tampak terkejut melihatku. “A… ayah?”

Jungsoo hyung menggeleng perlahan. “Beliau… pergi.”

Aku langsung menghambur ke arah hyung. Kukeluarkan air mataku yang tidak pernah bisa kukeluarkan sebelumnya di dada bidang hyung. Aku benar-benar bodoh! Aku benar-benar jahat!

Jungsoo hyung melepaskan pelukanku. Ia menatapku. “Ayah terkena serangan jantung saat kau pergi.” Ucapnya lirih. Terlihat sekali bahwa ia habis menangis—matanya sembab. “Barusan saja hyung dan para tetangga membakar jasadnya. Beliau… beliau menitipkan salam untukmu.”

Aku kembali terisak. “Hyung, maafkan aku…” Ucapku di sela-sela tangisku.

“Tidak apa-apa, Kangin-ah. Syukurlah kau sudah sadar.” Jungsoo hyung membelai rambutku. Aku benar-benar tidak bisa melepaskan pelukan hangat ini.

TENG TENG!

Terdengar lonceng dari jam kukuk di ruangtamu. Menandakan bahwa ini tepat tengah malam.

Jungsoo hyung melepaskan pelukannya. Ia menatapku sambil tersenyum.

Happy Birthday… Kangin-ah.

pearlshafirablue®

The End

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s