I Knew You Were Trouble

i-knew-you-were-trouble

Title                 :           I Knew You Were Trouble

Author            :           pearlshafirablue® – @shaaaaaf98

Cast(s)                 :           Kim Hyoyeon [SNSD] – Lee Hyukjae [SJ]

Other Cast(s) :           Kwon Yuri [SNSD]

Rating             :           PG-17

Genre(s)         :           Romance – Phsyco

Type/Length  :          SongFic – Vignette

Disclaimer      :           Inspirated by Taylor Swift’s Video Clip; I Knew You’re Trouble©

pearlshafirablue®

            Seorang gadis berambut pirang melangkah dengan gontai di tengah-tengah lorong salah satu Hotel mewah di kawasan kota Seoul. Lorong kamar yang berada di lantai teratas itu begitu sunyi, tidak ada satupun suara kecuali suara ketukan sepatu gadis itu.

Tampak sebuah benda berkilat di genggaman gadis itu. Benda berkilat yang terlihat sangat runcing dan berbahaya.

Wajah gadis itu terlihat begitu kalut. Bibirnya membentuk lekukan ke atas. Matanya yang dikelilingi oleh lingkaran hitam itu tampak sayu—tapi tetap memancarkan aura kejam. Aura dendam.

Mendadak ingatan-ingatan tentang-nya dulu terputar kembali di benak gadis tadi—Kim Hyoyeon.

Ia ingat sekali saat pertamakali bertemu dengan Lee Hyukjae—lelaki paling mempesona di Universitas Kyunghee. Mereka bertemu di sebuah klab malam, saat Kwon Yuri—sahabatnya yang tergolong berandalan dan suka keluyuran itu—memaksanya untuk menemani dia bekerja di suatu diskotek.

pearlshafirablue®

            “Hai.” Seorang lelaki mendekati Hyoyeon yang tengah kebingungan di depan meja bartender saat Yuri mulai bekerja sebagai DJ. Ia terlihat sangat mencolok di tempat itu. Dengan blus putih berenda dan rok kotak-kotak selutut. Hyoyeon memang bukanlah tipe remaja yang gaul dan bermalam di diskotek setiap malam minggu.

            Hyoyeon menatap lelaki yang tengah meneguk sebuah minuman berwarna biru—yang ia tidak ketahui—dengan seksama. Ia mengenalnya. Bagaimana mungkin tidak? Kini di depannya berdiri Lee Hyukjae! Lelaki paling terkenal di kampusnya!

            “Ada apa?” Lee Hyukjae menatap Hyoyeon dengan seringai khas di bibirnya. Hyoyeon cukup terkesima dengan seringai—yang lebih ia anggap sebagai senyuman itu.

            “Ah, tidak.” Ujar Hyoyeon pelan. Jelas sekali suaranya termakan suara musik di tempat itu.

            “Mau minum?” Hyukjae menyodorkan gelasnya tadi ke arah Hyoyeon. Hyoyeon terlihat segan dan mundur selangkah. “Oh, baiklah aku akan ambilkan yang baru.”

            Belum sempat Hyoyeon menolak, secangkir cairan biru sudah ada di depan matanya. Hyoyeon menatap Hyukjae sebentar.

            “Ini aman kok. Tidak terlalu banyak kandungan alkoholnya. Lagipula buat apa kau ke sini kalau tidak minum?” Rayuan Hyukjae tampak meyakinkan. Seringainya lagi-lagi membuat Hyoyeon terpesona.

            Hyoyeon meneguk minuman itu.

            Dan sejak saat itu, hidup Hyoyeon berubah.

pearlshafirablue®

            Hyoyeon berusaha agar tidak mengingat hal itu lagi. Tapi apa daya, semuanya tampak jelas di kepalanya.

Sebelum bertemu Hyukjae di diskotek itu, Hyoyeon adalah gadis kutu buku yang selalu menduduki peringkat 1 di sekolahnya. Ia juga berhasil masuk di Universitas Kyunghee tanpa melewati tes terlebih dahulu karena pihak universitas tahu seberapa cerdasnya gadis bernama Kim Hyoyeon ini.

Tapi semuanya berubah.

Semuanya berubah tepat saat itu, tepat ketika Hyukjae masuk ke dalam kehidupannya.

pearlshafirablue®

            “Nah, coba dari dulu kau berdandan seperti ini. Kan lebih seksi dan cantik.” Hyukjae tampak tersenyum ketika melihat Hyoyeon keluar dari rumahnya.

            Hyoyeon hanya tersenyum tipis melihat Hyukjae. Ia tampak tidak nyaman dengan apa yang ia pakai. Sehelai baju crop-tee yang pendeknya hanya di atas pusar dipadu dengan skinny jeans yang pendeknya selutut dengan banyak robekan di setiap sisinya.

Tapi, jika itu permintaan Hyukjae, ia tidak akan menolak.

“Kita mau kemana memangnya?” Tanya Hyoyeon sambil menyampirkan helai-helai rambut yang menutupi wajahnya. Kini mereka sudah ada di atas motor Harley Davidson milik Hyukjae.

“Ke tempat yang tidak pernah kamu datangi sebelumnya, honey.” Jawaban Hyukjae langsung membuat Hyoyeon terbang ke langit ke-tujuh.

pearlshafirablue®

            Bodoh. Hyoyeon bergumam kepada dirinya sendiri.

Kini, ia sudah berhenti di depan sebuah pintu. Di atas pintu tersebut terdapat 4 digit angka. 1205.

Dan di sebelah plat angka itu terdapat sebuah simbol, sebuah gambar rokok yang dilingkari oleh lingkaran merah dan ada garis yang melewati rokok tersebut.

Hyoyeon tersenyum miris.

Ia pernah ada hubungan dengan gambar itu. Ya, bersama Hyukjae.

pearlshafirablue®

            “Cobalah ini.” Hyukjae memberikan sesuatu berbentuk tabung kepada Hyoyeon. Hyoyeon melihatnya dengan seksama. Mendadak ia terkejut.

            “Ro-rokok?!” Hyoyeon terhenyak. Ia memandang jijik benda itu. Tidak pernah terpikirkan sekalipun ia akan menyentuh benda perusak itu.

            Hyukjae tersenyum ke arah yeojachingu-nya itu. Ia mencium bibir Hyoyeon sekilas dan menyalakan rokok tersebut. “Perhatikan ini.” Ucapnya.

            Hyukjae menaruh batang rokok itu di atas bibirnya. Ia menghirupnya, dan beberapa detik kemudian asap kelabu mengepul di bawah hidungnya. Hyoyeon menelan ludah.

            “Kau… mau aku mencoba itu?” Tanya Hyoyeon ragu. Hyukjae mengangguk mantap. “Tapi… rokok bisa membuat paru-paru kita rusak, Hyukjae-ya.”

            Hyukjae tertawa mendengar perkataan Hyoyeon. Betapa polos yeojachingu-nya ini. “Ayolah, chagi. Hanya sekali. Isap sedikit saja. Persetan dengan perkataan orang-orang yang mengatakan bahwa rokok membuat kecanduan. Aku berani jamin rokok ini tidak terlalu berefek.”

            Termakan kata-kata kekasih tersayangnya itu, Hyoyeon-pun akhirnya mencoba.

            Hanya dalam waktu 2 jam, Hyoyeon sudah menjadi pecandu rokok berat.

pearlshafirablue®

            PERSETAN DENGAN PERKATAANMU, LEE HYUKJAE! Hyoyeon menggeram dalam hati. Tangan kirinya—yang tidak memegang apa-apa—meninju dinding di sebelahnya dengan keras. Bilur-bilur merah menghiasi buku-buku jarinya.

Hyoyeon memasukkan sebuah kartu ke dalam lubang kunci—yang kuncinya adalah sebuah kartu. Hotel bintang 5 di pusak kota Seoul ini memang sudah menggunakan peralatan canggih.

Perlahan, tapi pasti, Hyoyeon membuka pintu tersebut. Tidak ada bunyi derit.

Tentu saja, ini hotel bintang 5.

Kegelapan langsung menyambut Hyoyeon. Kamar itu begitu gelap. Tidak ada satupun cahaya.

Tiba-tiba kenangan mengenai kegelapan terputar kembali di otaknya.

pearlshafirablue®

            “Sayang, kau terlalu mabuk.” Hyukjae memapah Hyoyeon yang kini dalam keadaan yang parah. Hidungnya memerah dan matanya sayu. Tampaknya tulang-tulangnya juga tidak bisa menopang tubuhnya dengan baik.

            “Maafkan aku, yeobo. Aku bukan peminum yang baik.” Desah Hyoyeon lemah. Ia membersihkan sisa-sisa Vodka yang ia minum tadi.

            Mereka baru saja kembali dari pesta yang dibuat oleh salah satu teman Hyukjae. Pesta tersebut sangat meriah, diadakan di Pub Hotel bintang 5 di Seoul dan masing-masing undangan diberi satu reservasi kamar gratis. Tentu saja, Hyukjae dan Hyoyeon tidak akan mau menyia-nyiakan kesempatan itu.

            “Nah, ini dia kamar kita.” Hyukjae tersenyum lebar. Ia mengeluarkan kartu—yang tidak lain adalah kunci kamar—dan memasukkannya di lubang kunci.

            “Hah?” Perlahan-lahan kesadaran Hyoyeon kembali. “Apakah kamar gratisnya hanya satu?” Tanyanya pada Hyukjae.

            Hyukjae menyeringai. Ia mencium Hyoyeon dalam. Dan Hyoyeon tidak bisa menolak ciuman panas itu.

            Mereka berhenti saat pintu terbuka. Hyoyeon masih menatap Hyukjae dengan mata yang setengah menutup—meminta penjelasan.

            Hyukjae tersenyum. “Ya, chagi. Donghae hanya menyediakan satu kamar untuk satu undangan. Sejak awal kan sebenarnya hanya aku yang diundang. Tapi, karena kau yeoja-ku, kau harus ikut bersamaku.” Hyukjae mengecup pipi Hyoyeon.

            “Ooh…” Hyoyeon bergumam.

            Mereka berdua masuk ke dalam kamar tersebut. Lorong kamar tersebut perlahan-lahan menggelap saat Hyukjae menutup pintu kamar.

            “Gelap sekali, Hyukjae.” Ucap Hyoyeon disela-sela cegukannya.

            “Nanti akan ada lampu kecil ketika kita memasuki kamar.” Jawab Hyukjae sekenanya. Hyoyeon mengangguk-ngangguk mengerti.

            Perkataan Hyukjae memang benar. Ketika mereka memasuki kamar tidur terdapat 2 lampu kecil di kanan-kiri tempat tidur. Meskipun cahayanya samar.

            Mendadak makanan-makanan di perut Hyoyeon memaksa untuk keluar. Perutnya mual. Dia benar-benar tidak bisa minum-minuman ber-alkohol terlalu banyak. Tapi Hyukjae memaksanya.

            Dan tidak ada satupun perintah Hyukjae yang bisa ia tolak.

            “Hoeek!” Hyoyeon akhirnya mengeluarkan seluruh isi perutnya di baju milik Hyukjae. Ia terbatuk-batuk sebentar dan langsung ambruk di tempat tidur. “Ma-maaf, Hyukjae.”

            Hyukjae yang awalnya syok langsung tersenyum ke arah Hyoyeon. Semakin lama, senyumannya terlihat seperti seringai. “Ah, bukan masalah besar, honey. Aku akan membersihkan diri dan mengambil air untukmu dulu ya.”

            Hyoyeon mengangguk. Dan perlahan-lahan, kesadarannya menghilang.

pearlshafirablue®

            Hyoyeon terpaksa meraba-raba dinding karena ia tidak berhasil menemukan saklar lampu. Hingga akhirnya ia sampai di kamar tidur.

Hyoyeon terperangah.

Meskipun gelap, tetapi ia tetap bisa melihatnya.

Siluet 2 orang itu.

Bibir mereka saling bertautan. Dan tubuh mereka terbungkus oleh selimut putih tebal.

Dan tampaknya 2 orang itu belum menyadari kehadiran Hyoyeon.

Mendadak kejadian itu terputar lagi. Bayangan-bayangan kelam itu terus menghantui benaknya. Saat kesalahan terbesarnya terjadi.

pearlshafirablue®

            Hyoyeon merasakan ada sesuatu yang menyentuh bibirnya. Ia membuka mata.

            “Huft, untung kau sadar, sayang. Kupikir kau pingsan.” Suara Hyukjae terdengar cemas. Hyoyeon menatapnya.

            Di tangan Hyukjae terdapat sebuah handuk kecil berwarna putih yang tampak basah.

            “Oh, ini…” Hyukjae sadar Hyoyeon menatap handuk itu terus. “Tadi aku membersihkan bekas muntahan di mulutmu dengan handuk panas. Tidak apa-apa kan?”

            Perlahan-lahan, Hyoyeon bangun. Tubuhnya masih terbungkus bajunya yang ia kenakan sejak tadi sore. Kepalanya pening. Apalagi ruangan tempatnya berpijak sekarang tampak remang-remang.

            “Terimakasih, yeobo.” Desah Hyoyeon pelan. Matanya berhenti ketika melihat tubuh Hyukjae yang tidak terbalut apapun. “Kenapa kau melepas bajumu?”

            Hyukjae menaruh handuk panas tadi dan langsung duduk di samping Hyoyeon. “Oh, aku tidak bawa baju ganti. Tadi kan kau memuntahi bajuku.” Ujar Hyukjae.

            “Ah maaf!” Hyoyeon langsung terlihat panik. “Tidak apa-apa kan?”

            Hyukjae tersenyum. “Tentu saja. Toh aku juga yang memaksamu minum terlalu banyak.” Tutur Hyukjae. Ia menarik Hyoyeon ke atas kasur. “Kau mengantuk?”

            Hyoyeon tampak ragu. Ia sebenarnya tidak terlalu mengantuk. “Hmm… tidak juga.” Jawabnya polos. Hyukjae mendekatinya.

            “Apa tidak apa-apa jika aku menciummu?” Tanya Hyukjae.

            Hyoyeon menyerngit heran. Bukankah Hyukjae sudah sering menciumnya tanpa izin terlebih dahulu?

            “Tentu saja, Hyukjae. Kenapa kau bertanya seperti itu? Aku kan yeoja-mu.” Hyoyeon melingkarkan tangannya di leher Hyukjae.

            Samar, Hyoyeon melihat Hyukjae menyeringai. Tampak ada yang aneh.

            “Masalahnya,” Hyukjae mendorong Hyoyeon hingga punggung gadis itu membentur dinding. “Ini bukan ciuman biasa.”

            Bibir Hyukjae menyentuh bibir Hyoyeon dengan kasar. Tangannya memeluk erat punggung Hyoyeon. Hyoyeon membalas ciuman itu.

            Setelah nyaris semenit mereka berciuman, tangan Hyukjae menelusup ke dalam crop-tee Hyoyeon. Perlahan-lahan tangan kokohnya itu meraba-raba punggung gadis itu. Dan pada akhirnya, Hyukjae membuka kaitan pakaian dalam Hyoyeon.

            Dan pada saat itu juga, Hyoyeon memberikan apa yang seharusnya tidak ia berikan pada Hyukjae saat itu.

pearlshafirablue®

            “Aaarrghh!!” Hyoyeon mengerang keras mengingat kejadian itu. Betapa bodohnya dia saat itu. Termakan buaian manis seorang flamboyan seperti Hyukjae.

“Si-siapa disana?” Mendadak ada suara yang menyahuti erangan Hyoyeon. Hyoyeon tersenyum miring. Ia melangkah sekali hingga akhirnya menemukan saklar lampu.

CKLEK.

Lampu menyala.

2 siluet yang tadi dilihat Hyoyeon kini tampak jelas. Hyoyeon kembali menyeringai.

Cha-chagi?” Lelaki bertubuh kekar itu menatap Hyoyeon dengan takjub. Tubuhnya tidak terbalut apapun, hanya terbungkus selimut.

“Hyoyeon?” Seorang gadis di sebelah lelaki tadi juga ikut terkejut. Keadaan tubuhnya nyaris tidak berbeda dengan lelaki tadi. Hanya terbungkus sebuah bra berwarna krem.

“Halo.” Sapa Hyoyeon pilu. Ia menjilat benda berkilat di tangannya tadi. “Maaf mengganggu malam kalian. Wah, aku tidak menyangka tubuhmu seindah ini, Kwon Yuri.” Desis Hyoyeon tajam.

“Sayang, aku bisa menjelaskan ini.” Hyukjae menyigap selimut di dan langsung berdiri menghampiri Hyoyeon.

“Berhenti di sana!” Hyoyeon mengacungkan benda berkilat tadi—pisau—ke arah Hyukjae. Hyukjae membatu. “Apa lagi yang perlu kau jelaskan, Lee Hyukjae? Apa menurutmu daritadi aku tidak memperhatikan apa yang kalian berdua lakukan?!” Bentak Hyoyeon. Rahangnya mengeras. Buku-buku jarinya membentuk kepalan. “Dan apa menurutmu aku tidak melihat apa yang kalian lakukan di pesta tadi?!”

pearlshafirablue®

            Hyoyeon menoleh ke kanan dan kiri dengan linglung. Ia mencari kekasihnya, Hyukjae. Entah kenapa di tengah pesta tadi ia terpisah dengannya.

            “Jongin-ah!” Hyoyeon melambaikan tangannya saat bertemu Jongin—teman satu jurusannya di kampus.

            “Oh, hai, Hyoyeon.” Jongin mendekat. Ia tersenyum melihat Hyoyeon. “Ternyata kau datang juga ke pesta ini. Anyway, mana Hyukjae?”

            Hyoyeon mendesah. “Nah, baru saja aku ingin menanyakannya padamu.” Jawabnya. “Aku tadi terpisah dengannya.”

            “Waah…” Jongin tampak terkejut. “Aku tidak melihat dia daritadi. Tanya saja pada Donghae. Mungkin dia melihatnya.”

            “Hmm… baiklah. Terimakasih, Jongin.” Hyoyeon meninggalkan Jongin sambil melambai ke arahnya.

            Setelah beberapa menit mencari, akhirnya ia melihat Donghae. Dengan senyum yang terpasang di bibir, ia mendekat.

            “Dong—” Mendadak nafasnya tercekat. Ia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya tadi.

            Di sebelah Donghae, bisa ia lihat Hyukjae sedang berciuman panas dengan Yuri—sahabat baiknya.

pearlshafirablue®

            Hyoyeon menggeleng-gelengkan kepalanya—berusaha menghalau peristiwa tadi dari otaknya. Ia masih belum bisa menerima, bagaimana mungkin lelaki yang selalu ia turuti dan berkorban untuknya itu berciuman dengan gadis lain? Setelah apa yang selama ini mereka lakukan? Setelah ciuman-ciuman panas itu? Setelah kejadian di malam itu?

Hidup Hyoyeon berubah karena Hyukjae. Hidupnya menjadi sesat hanya karena cintanya pada Hyukjae.

Hyoyeon menggeram mengingat semua itu. Ingin rasanya ia membunuh 2 orang keparat yang telah menghancurkan hidupnya ini.

Dan ia benar-benar akan melakukannya.

“Hyoyeon, dengarkan aku. Aku dan Hyukjae tidak benar-benar—” Perkataan Yuri terputus. Bagaimana mungkin ia melanjutkan jika kini sebatang pisau bersarang di dadanya?

“YURI!” Hyukjae langsung berlari ke arah Yuri.

“Jangan mendekat!” Hyoyeon berteriak. Ia menodongkan pisaunya ke arah Hyukjae. Lagi-lagi Hyukjae membatu. “Gadis ini tidak pantas hidup!” Tambahnya sambil mencabut pisau tadi dari tubuh Yuri yang sudah tidak bernyawa.

“Hyoyeon, aku mohon jangan macam-macam.” Kini suara Hyukjae terdengar takut. Ia mundur beberapa langkah. Sebaliknya, Hyoyeon mendekatinya.

“Kau…” Hyoyeon kini mulai menangis. “Kau telah menghancurkan hidupku, Hyukjae! Kau membuatku jadi pemabuk! Jadi perokok! Dan jadi pelacur seperti ini!” Pekik Hyoyeon. Air mata mulai membentuk anak-anak sungai di pipinya. “Aku melakukan itu semua karena aku cinta padamu! Dan ini balasanmu?!” Suara Hyoyeon terdengar memilukan.

“A-aku…” Hyukjae berusaha merangkai kata-kata. “Aku khilaf, Hyo. Aku sangat mencintaimu. Tadi aku dipengaruhi minuman. Aku benar-benar tergoda dengan Yuri. Aku minta maaf Hyoyeon. Aku minta maaf. Di dunia ini hanya kaulah yang kucintai.”

Hyoyeon membatu untuk beberapa saat. Ia memandang Hyukjae, mencari kebohongan di wajahnya.

Sekarang, ia tahu apa yang harus ia lakukan.

Hyoyeon bergerak mendekati Hyukjae. Hyukjae tersenyum lega saat melihat Hyoyeon menjatuhkan pisaunya. Hyoyeon menubruk tubuh Hyukjae hingga membentur dinding.

“Aku tidak menyangka, kau akan memaafkanku.” Desah Hyukjae sambil mencium Hyoyeon.

Mendadak, Hyoyeon mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Ia melepaskan ciuman Hyukjae.

“Siapa bilang?”

Hyoyeon menusukkan pisau lipat tersebut tepat di jantung Hyukjae. Hyukjae sudah tidak bergerak. Mulut dan matanya masih terbuka, tapi sudah jelas bahwa jantungnya sudah tidak berdetak.

Hyoyeon tersenyum miring. Ia berdiri dari tubuh Hyukjae dan melangkah keluar kamar.

            Hyoyeon menatap perutnya dengan lirih. Ia mengelusnya.

Maaf, sayang. Mungkin ini yang terbaik.

Dan hanya dalam beberapa detik, pisau lipat tadi sudah bersarang di dada dan perutnya.

pearlshafirablue®

She knew that he was a trouble.

And now, she dissolve the trouble.

THE END

 

P.S

Halo, readers. Mau klarifikasi dulu.

Saya membuat FF ini semata-mata hanya untuk kesenangan. Tidak ada maksud lain. Termasuk menjelek-jelekkan artis yang bersangkutan.

Hyukjae, Hyoyeon dan Yuri di sini bukanlah mereka yang sebenarnya.

Saya tidak bermaksud menistakan mereka.

Thank you.

 

Advertisements

19 thoughts on “I Knew You Were Trouble

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s