[Special for Tao’s Birthday] Revenge in A Birthday

revenge-in-a-birthday

 

[Special for Tao’s Birthday] Revenge In A Birthday || Written by pearlshafirablue || Staring by Huang Zi Tao [EXO-M] – Secret Girl [GG] || With Kris Wu [EXO-M] – Seo Joohyun [GG] as cameo(s) || slight!Mystery – slight!Thriller – Phsyco || PG-15 || Oneshot ||

Disclaimer
Special for Huang Zi Tao’s Birthday. As usual, the characters belong to God and themselves. Once fiction, it’ll be forever fiction. I don’t make money for this.

A/N
Disaat yang lainnya membuat cerita fluff untuk ulang tahun Tao aku malah membuat cerita gak jelas ini. At least, happy birthday Huang Zi Tao!

-o0o-

            “Tao, kau mabuk!” Kris mendorong tubuh Tao yang nyaris menubruknya. Tao hanya tersenyum pervert dengan wajah yang masih memerah.

“Kau juga, ge.” Gumamnya—seraya meneguk satu botol vermouth—lagi.

“Tapi tidak separah kau!” Balas Kris sambil mengucek matanya.

Jam di diskotek itu sudah menunjukkan pukul 01.20 AM. Artinya, sudah satu jam lewat tengah malam. Kendati lonceng gereja sudah berdentang berkali-berkali—yang menandakan waktunya warga Seoul kembali ke rumah masing-masing, tetapi kegiatan di salah satu diskotek di pinggiran kota Seoul itu nampaknya masih terus berjalan.

Hari ini tidak seperti hari-hari lainnya. Biasanya, diskotek itu tutup tepat pada pukul 01.00 AM. Tetapi hari ini, kendati sudah lewat 20 menit, musik tetap melantun keras disana. Seolah-olah tidak ada yang bisa menghentikannya.

Ya, tentu saja. Hari ini seorang anak pejabat kaya perusahaan terbesar di Cina menyewa diskotek itu selama 2 hari penuh. Hal apalagi yang membuatnya menyewa diskotek terkemuka di Seoul itu selain karena ulang tahunnya?

“Tao, thanks for tonight!” Segerombolan gadis mendekati Tao dan Kris yang kini tepar di atas sofa merah di sudut diskotek. Tao yang melihat itu menunjukan senyum miringnya lagi. “Maaf ya, kami pulang duluan. Sudah tengah malam.” Ucap salah satu gadis—Im Yoona.

“Ahahahaha! Thanks girls for coming!” Balas Tao dengan suara serak. Alkohol benar-benar memenuhi dirinya sekarang.

Im Yoona dan teman-temannya beranjak meninggalkan Tao yang setengah sadar itu. Tao mengedarkan pandangannya ke sekeliling diskotek. Masih banyak pemuda-pemudi yang berdiri di lantai dansa—untuk benar-benar berdansa dengan lain jenis atau hanya sekedar menonton.

Tetapi mata Tao menangkap sesosok bayangan yang begitu asing di matanya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya berkali-kali. Berusaha mengenali siluet hitam itu.

Setelah kesadarannya perlahan pulih, ia bisa melihat jelas siapa yang berdiri di sana.

Seorang gadis anggun nan seksi menatap ke arahnya. Dengan balutan dark dress yang hanya menutupi sampai bagian pahanya, ia benar-benar terlihat bersinar saat itu. Gaun tersebut juga mengekspos punggung eksotisnya—menambah nilai plus di mata Tao.

Tao menyeringai melihatnya. Ia mengangkat telunjuknya—dan menariknya, seolah-olah memanggil gadis itu untuk mendekatinya.

Gadis yang dimaksud tadi tersenyum ke arah Tao. Kaki jenjangnya mulai melangkah mendekati sofa yang kini di duduki Tao.

“Memanggilku?” Desisan gadis itu benar-benar meracuni Tao. Suara seksinya membuat Tao lupa daratan. Ia memandang wajah gadis itu dalam diam. Benar-benar mahkluk Tuhan yang sempurna, gumamnya dalam hati.

“Apa aku mengenalmu? Kenapa kau bisa berada di pestaku?” Tanya Tao perlahan. Ia mengelus pergelangan atas lengan seksi gadis itu. Dan kelihatannya yang bersangkutan tidak terusik sama sekali.

“Mungkin kau lupa. Kau sedang mabuk, sweetheart.” Gadis itu kembali bergumam. Hal itu jelas membuat Tao semakin tertarik akan pesonanya.

Tao menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali. Berusaha membuat kesadarannya kembali. Ia benar-benar ingin mengingat siapa gadis yang kini berada di depannya. Sumpah, ia benar-benar lupa!

“Kau ingin melakukan sesuatu bersamaku malam ini?” Desis Tao lembut. Ia menyampirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik gadis itu.

Gadis itu bergelung perlahan di pelukan Tao. Bau alkohol langsung menusuk hidungnya. Ia menarik dasi hitam yang Tao kenakan. Menatapnya dengan intens.

“Apa yang mau kau lakukan memangnya?” Tanya gadis itu—berusaha mendapatkan perhatian Tao lebih jauh.

“Sesuatu…” Tao bergumam. Nafas gadis itu benar-benar menembus kulitnya sekarang. “… yang tidak akan pernah kau lupakan selamanya.” Lanjutnya dengan seringai di bibir.

Kris yang melihat kejadian di depannya itu mendekat ke arah Tao. Ia menyenggol rusuk Tao sekuat tenaga. “Eum… Tao, kau tidak lupa pada Seohyun kan—”

“Seohyun? Siapa itu?” Potong Tao disusul dengan seringaian. Kris hanya tersenyum pahit dan memaki-maki Tao dalam hatinya. Padahal ia yakin baru kemarin Tao bersumpah akan jadi kekasih yang baik untuk Seohyun. Bahkan ia meminta Kris untuk mengingatkannya apabila ada seorang gadis yang menggodanya.

Dan kebetulan sekali Seohyun tidak hadir di pesta ulang tahun Tao hari ini. Seohyun memang bukan anak berandalan, yang bisa pergi keluyuran sesukanya. Ia hanyalah seorang nerd yang berhasil memikat hati Tao dengan jalan pikirannya. Ya, Tao memang suka dengan wanita yang memiliki jalan pikiran panjang.

Tapi meskipun begitu, Tao adalah cassanova kelas kakap di kampusnya. Tidak ada yang bisa menandingi ke-flamboyanan-nya itu. Termasuk Luhan dan Kim Jongin—2 orang lelaki tampan yang juga menjadi saingan Tao untuk mendapatkan Seohyun.

“Tao.” Terdengar suara Kris memecah keheningan. Ia tidak melepaskan pandangannya dari layar ponsel di depannya.

Tao melepas bibirnya yang baru beberapa detik menghisap bibir gadis tadi, ia menoleh ke arah Kris. “Ada apa? Bukan saat yang tepat untuk menggangguku, ge.” Gumamnya.

“Ini penting.” Ucap Kris, seraya beralih ke arah Tao. “Kurasa pestamu ini sudah berlebihan. Rekanku di luar berkata beberapa mobil polisi sedang menuju kemari. Mereka tampaknya menyangka bahwa kita sedang pesta narkoba disini. Lebih baik kau pulang sekarang. Aku akan mengurus hal ini.” Jelas Kris—sembari beranjak meninggalkan Tao dan gadis tadi.

Tao yang 75% kesadarannya sudah pulih, langsung membuka matanya lebar-lebar. Berusaha mencerna perkataan gege-nya barusan. Kemudian ia mengambil ponsel dan jasnya, bergegas untuk pergi.

“Maaf, baby. Kurasa tidak hari ini. Kita akan bertemu lagi nanti.” Tao meninggalkan sebuah kecupan selamat malam pada gadis yang baru dikenalnya tadi. Ia beranjak pergi dari diskotek itu.

-o0o-

            Benar saja. Dua orang pria berseragam polisi masuk ke dalam diskotek yang masih penuh akan massa itu. Kris menghadang mereka berdua sebelum terjadi keributan disana.

“Selamat malam, pak polisi.” Sapanya sambil tersenyum. Ia menoleh ke belakang—memastikan bahwa Tao sudah pergi dari tempat itu. “Ada yang bisa saya bantu?”

Kedua polisi itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling diskotek. Polisi yang berambut coklat terlihat sanga resah. Ada sesuatu yang aneh, pikir Kris.

“Selamat malam, Tuan.” Polisi yang bertubuh gemuk membalas perkataan Kris. Ia tampak lebih tenang dibanding polisi di sampingnya. “Tampaknya kami harus menggeledah tempat ini. Apa kau pemilik tempat ini?”

Kris menggeleng pelan. “Bukan, saya teman penyelenggara pesta yang diadakan disini.” Jawabnya, “dan soal menggeledah, saya berani sumpah tidak ada yang berbahaya disini. Kami tidak sedang mengadakan pesta narkoba, apalagi pesta seks.” Lanjut Kris sambil tersenyum. “Ini hanya sebuah pesta ulangtahun.”

“Pesta seks? Narkoba?” Polisi gemuk tadi menautkan kedua alisnya—heran. “Kami datang kesini bukan untuk kedua hal itu.”

Sekarang Kris yang terlihat heran. Tidak mungkin laporan kaki tangannya salah. “Lantas, apa yang membuat Anda datang kemari?”

“Ada sesuatu.” Jawab polisi yang satunya. Matanya menatap Kris tajam. “Kami mendapat laporan bahwa seorang pembunuh sedang berkeliaran disini.”

Kris tercengang. Pembunuh? Seingatnya Tao tidak memiliki teman yang seorang pembunuh. Ia meneguk salivanya banyak-banyak. “Pe-pembunuh? Apa tidak salah? Tidak mungkin sahabat saya mengundang pembunuh ke pesta ulang tahunnya.” Jawab Kris ragu.

“Entahlah.” Polisi yang gemuk kembali bersuara. “Orang kami menyatakan bahwa ada seorang pembunuh yang sedang berkeliaran disini. Ia telah membunuh dokter bedah dan operasi plastik yang bekerja di rumah sakit Seoul. Kini orang itu masih buron.”

Kris kembali terkejut. Seorang pembunuh dokter berada di pestanya Huang Zi Tao?

“Oiya, kami mempunyai wajah sketsa pembunuh itu. Kami punya 2 foto, satu wajahnya sebelum di operasi dan satunya sudah di operasi.” Polisi itu merogoh tas yang melingkar di pinggangnya. Kris menunggu dengan penasaran. Ia benar-benar tidak habis pikir kalau Tao mengundang pembunuh ke pesta ulang tahunnya. Karena tidak ada yang bisa memasuki diskotek ini sekarang kecuali orang yang memegang undangan resmi dari Tao.

“Ini orangnya. Mungkin sedikit meragukan—karena wajahnya tidak pantas di sebut pembunuh. Tapi benar-benar ini orangnya.”

Tubuh Kris membeku. Matanya membesar dua kali lipat. Buku-buku jarinya mengeras seiring dengan matanya menjelajah kedua foto di tangan polisi tersebut.

Ia mengenalnya. Benar-benar mengenalnya.

Bahkan, ia tidak hanya mengenal 1 wajah.

Ia mengenal dua-duanya.

-o0o-

            Tao menatap ponselnya dengan heran.

Kini, ia sedang berbaring di tempat tidurnya yang king size di salah satu rumah mewah daerah Gangnam. Kesadarannya sudah benar-benar pulih. Tidak ada lagi alkohol yang bersisa di bibir maupun mulutnya.

Hati-hati. Ada sesuatu yang terjadi disini.”

Itulah isi pesan singkat yang dikirimi Kris beberapa menit yang lalu. Tao sudah membalasnya, tapi belum mendapatkan respon balik dari yang Kris. Ia menyerngit heran, hal apa yang membuatnya menyuruhku berhati-hati? Pikirnya.

Rumah Tao berada di pusat kota. Di tengah-tengah komplek elit Gangnam. Hampir 5 satpam berdiri di depan rumahnya. Berjaga-jaga siapa tahu ada orang asing yang tak diundang masuk.

Tidak ada alasan bagi Kris untuk meminta Tao berhati-hati. Tidak ada yang perlu ia khawatirkan. Seharusnya ia tahu itu.

Dan sekarang kepala Tao dipenuhi oleh wajah gadis tadi. Ia menerawang ke atas.

“Mungkin kau lupa. Kau sedang mabuk, sweetheart.”

Jika memang begitu kenapa sampai sekarang Tao belum bisa mengingat siapa gadis itu? Apa salah satu dari mantannya? Salah satu dari temannya di Cina? Salah satu dari anak rekan kerja ayahnya?

Tao benar-benar tidak bisa mengingatnya.

Yang bisa ia kenali dari gadis itu hanya suaranya yang tadi sempat berhasil meracuninya. Ya. Ia benar-benar mengenali suara itu. Hanya saja tidak bisa mengingat kapan terakhir kali ia mendengar suara tersebut.

Drrt… drrt…

Ponsel Tao bergetar. Dengan sumrigah ia mengambilnya. Ia penasaran dengan apa maksud pesan Kris tadi.

Tetapi ternyata getaran itu bukan karena sebuah pesan baru masuk. Melainkan sebuah telepon. Seseorang menghubunginya selarut ini.

Dan itu Seohyun.

Ye-yeoboseyo?” Suara Tao sedikit bergetar. Ia heran kenapa Seohyun bisa meneleponnya selarut ini.

Tao, dengarkan aku.” Suara Seohyun terdengar getir.

“Ada apa, chagi? Dan, kenapa kau belum tidur?” Tanya Tao heran. Ia membetulkan posisi tidurnya.

Tao, tidak ada waktu basa-basi.” Kini suara Seohyun terdengar tegas. “Barusan aku dapat telepon dari Kris. Ia bilang, ada sebuah kasus—”

“Benarkah? Kau mendapatkan telepon dari Kris? Apa yang ia katakan? Kenapa ia tidak menghubungiku?” Sembur Tao.

Tao, dengarkan aku!” Bentak Seohyun. Tao terdiam. Gadis ini tidak pernah membentaknya sebelumnya. “Tao, kau ingat dengan mantan kekasihmu yang paling terakhir?”

Gotcha. Pertanyaan yang sangat dihindari oleh Tao. Ia paling tidak ingat kalau sudah ditanyai mantan terakhir.

“Eum… kau tahu Seohyun, sebelum berpacaran denganmu, aku adalah seseorang yang—ya… kau tau? Memiliki banyak pacar. Aku sedikit tidak ingat kalau—”

Baiklah, biar kuingatkan.” Terdengar suara lembaran-lembaran buku dibuka. Tao yakin Seohyun sedang berada di kamarnya di depan sebuah buku sekarang. “Nama wanita itu, Lee Sunkyu. Seorang wanita dengan tinggi standar yang memiliki paras seperti pria. Hidungnya mancung dan kulitnya putih. Rambutnya blonde—yang terakhir terlihat. Ia hanya seorang gadis miskin yang tinggal di pinggiran kota Seoul. Ibu dan ayahnya bekerja sebagai penjual sayur di pasar. Dan setelah putus denganmu, ia tidak terlihat lagi di sekolah. Tidak banyak informasi yang bisa aku dapat. Yang jelas, ibu dan ayahnya sudah meninggal sekarang.”

Tao memutar otak. Lee Sunkyu? Ya, ia mengingatnya. Wanita polos yang ia pacari hanya karena tubuhnya yang begitu menggoda. Tao mengingat-ngingat kapan terakhir ia bertemu dengannya.

Oya. Di hotel itu.

“Eum, Seohyun, aku boleh bertanya?” Tao menggosok-gosok rambutnya frustasi. “Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal ini? Dan menjelaskan hal ini? Apa yang terjadi? Apa yang dikatakan Kris sampai membuatmu terjaga selarut ini dan mencari informasi tentang Lee Sunkyu?”

Tao, ini agak susah dijelaskan. Sebenarnya—

PRRAAANNGG!!!!

Terdengar bunyi kaca pecah yang begitu memekakkan telinga. Tao bangkit tanpa mempedulikan suara Seohyun yang terus memanggilnya di telepon.

“Se-Seohyun, ada keributan di lantai bawah. Nanti kau kutelpon lagi.” Ucap Tao singkat. Ia langsung beranjak pergi keluar kamar tanpa menunggu jawaban dari Seohyun.

Tao! Tao! Jangan pergi! Tao! Bisa saja dia—piip… piip… piip…

-o0o-

            Suara kaca pecah itu membawa Tao ke ruang tamu keluarganya.

Tao perlu mengerjap-ngerjapkan matanya berkali-kali.

Ruangan itu, kini berantakan sekali. Persis seperti tempat kejadian perkara sebuah pembunuhan. Tao berjengit melihat ribuan potongan kaca pecah yang mengelilingi tempatnya berdiri sekarang. Dan yang lebih aneh, tidak ada orang disana—tentu saja selain dirinya.

Kemana ahjumma? Apa ia tidak mendengar suara kaca pecah ini?

Ia perlu mengandalkan nalurinya untuk berjalan di lantai itu. Karena, selain pecahan-pecahan kaca itu mampu untuk melukai kakinya, ruangan itu saat ini begitu gelap gulita. Hanya sedikit cahaya remang-remang yang berasal dari dewi malam di luar sana.

“Aw!” Tao mengerang kesakitan. Sebuah potongan kaca yang luput dari penglihatannya berhasil memaksa masuk ke dalam epidermis kulit jari kaki Tao. Ia berjalan sambil menahan sakit ke salah satu sofa di sana.

Tao menaruh kedua kakinya di atas meja tamu. Berusaha meminimalisasi rasa sakit dari jarinya.

“Baiklah. Tidak ada siapa-siapa disini. Aku harus mencari ahjumma untuk membersihkan tempat ini.” Tao berbicara pada dirinya sendiri. Ia berusaha keras untuk berdiri—menahan rasa sakit yang menusuk jemari kakinya.

Tao berjalan ke arah pintu depan dengan gontai. Ia perlu mengangkat kaki kanannya untuk meraih tempat itu tanpa kesakitan. Kemudian ia berbelok di lorong luar rumahnya—ke arah dorm pembantu dan pekerja di rumah itu.

Tao menghentikan langkahnya di persimpangan koridor. Ia membungkuk sebentar.

Setumpuk hadiah berjejer rapi di sana.

“Waw.” Tao tersenyum melihatnya. Ia menghentikan langkahnya sejenak dan mulai membuka satu per satu hadiah.

Ia baru ingat kalau sebelum dirinya masuk ke kamar tadi, Riyoung ahjumma mengatakan bahwa ada sepaket hadiah di koridor pembantu.

Pasti dari teman-teman di Kanada, gumam Tao riang. Sejenak ia melupakan rasa sakit di jempol kakinya.

Setelah ia membuka nyaris seluruh hadiah, matanya menangkap siluet sebuah kotak yang tampak asing. Kotak itu terbungkus kertas hitam pekat. Tidak ada satupun tulisan di atasnya—sekalipun hanya sekedar nama pengirim.

Tao mengamati kotak itu dari jauh. Ada sesuatu yang membuatnya yakin bahwa itu bukan sekedar hadiah biasa.

Perlahan, Tao merobek bungkusan kado tersebut. Hanya sebuah bekas kotak sepatu yang labelnya sudah dilepas. Ia membuka tutup kotak tersebut dan melihat sebuah boneka disana.

“Hei, ini hanya boneka pand—”

Tao tercengang.

Ia mengangkat boneka tersebut dari tempatnya. Dengan susah payah, ia meneguk salivanya.

Jika itu hanya boneka panda biasa, responnya tidak mungkin seperti ini.

Tapi tentu saja, tubuh boneka itu penuh dengan luka gores.

Tao memeriksa boneka tersebut dengan lebih teliti. Berharap menemukan tulisan april mop atau semacamnya.

Boneka tersebut nyaris hancur. Bulunya memang masih halus—tapi penampilan boneka tersebut jelas sudah tidak layak. Ribuan goresan menghiasi setiap senti tubuhnya. Tampaknya sebuah benda tajam telah mencabik-cabik boneka malang tersebut.

“A-apa yang…” Tao tidak mampu berkata. Dirinya masih syok dengan apa yang ada di hadapannya sekarang.

“Apa kau pernah ingat janjiku?”

Tubuh Tao langsung kejang. Ia buru-buru membalikkan badannya ke arah sumber suara barusan. Tubuhnya membeku.

“Selamat malam, Huang Zi Tao.” Seorang gadis berdiri di hadapan Tao dengan pakaian kulit—ketat serba hitam. Rambutnya yang panjang sepunggung itu ia biarkan tergerai—tertiup angin malam.

Tao perlahan-lahan berdiri. Matanya tidak lepas dari tubuh gadis itu. “K-kau?” Tao menyengitkan kedua alisnya. Kepalanya bak dipukul palu godam 10kg. Bagaimana mungkin gadis yang ia goda di diskotek tadi sekarang berdiri disini?

“Kau mengingatku?” Tanya gadis itu, masih dengan eskpresi datar. “Baguslah. Kupikir kau tidak akan mengingatku lagi.” Lanjutnya—seraya berjalan ke arah Tao.

Tao mundur beberapa langkah.

“Hei, ada apa?” Gadis itu menautkan kedua alisnya heran. “Aku hanya ingin mengambil ini.” Gadis itu merebut paksa boneka pan da yang berada di pelukan Tao.

Ya!” Tao berseru. “Kau siapa sebenarnya? Kenapa kau bisa berada di rumahku?” Tanya Tao sinis.

Gadis itu tersenyum simpul ke arah Tao. “Kau munafik sekali. Padahal baru sejam yang lalu kau menggodaku—bahkan menciumku.” Gadis itu membelai kepala boneka panda yang baru direbutnya dari Tao. “Dan sekarang, kau berbicara sekasar itu padaku?”

“Hei!” Tao mulai membentak. Ia muak dengan tingkah aneh gadis di depannya ini. “Aku tidak mengenalmu! Bagaimana caramu masuk kesini? Dan bagaimana kau bisa ada di pestaku tadi? Jangan banyak bicara! Jawab saja pertanyaanku!”

Gadis itu kembali memamerkan sederetan gigi putihnya. Ia berjalan pelan mengelilingi Tao. “Tadi kau bilang, kau tidak ingat denganku?”

“Lebih tepatnya, tidak mengenalmu.” Sambar Tao.

“Kalau begitu perkenalkan,” gadis itu berhenti melangkah ketika dirinya berhadapan dengan tubuh tinggi Tao. Ia mengulurkan tangannya. “Namaku Kwon Yuri.”

Tao melemparkan tatapannya ke arah lain. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada—tidak berniat membalas uluran tangan gadis benarma Yuri tersebut.

Yuri hanya mendengus sambil menarik kembali tangannya. “Dan, garis-bawahi ini.” Yuri berjalan memunggungi Tao. “Dulu, aku sempat menjadi gadis culun bernama…” Yuri menggantungkan kalimatnya. Tao menunggunnya melanjutkan.

“Bernama Lee Sunkyu.”

Deg.

“Terkejut?” Yuri—atau bisa disebut Sunkyu—tersenyum penuh kemenangan ke arah Tao yang tidak berkutik sama sekali dari tempatnya.

Ia kembali berjalan mengelilingi Tao.

“S-Sunkyu?” Suara Tao terdengar bergetar.

“Ya, Tao?” Yuri menyahut saat Tao menyebut namanya. Ia tersenyum saat wajah Tao berubah menjadi ketakutan. “Mungkin kau bertanya-tanya kenapa aku bisa sampai kemari.”

Tao tidak menjawab.

Yuri melanjutkan, “satpam dan pembantumu ternyata bodoh. Tidak ada yang tangguh sama sekali. Mereka mudah sekali untuk kuperdaya.”

“Sunkyu, kau membunuh mereka?” Tao mengangkat kepalanya. Tatapannya kini beralih ke arah manic mata Yuri yang berwarna merah pekat. Meskipun itu hanya contact lens, tapi tetap saja memberi kesan tersendiri di hati Tao.

“Kau tetap frontal seperti dulu, Tao.” Desis Yuri. “Kalau kau tahu aku membunuh mereka,” Yuri kembali menggantungkan kalimat. “Berarti kau tahu apa maksudku datang kesini, bertemu denganmu?”

Tubuh Tao kembali diam tak berkutik.

Tentu saja. Tentu saja ia tahu apa yang akan Yuri—atau Sunkyu—lakukan kepadanya.

Hening.

“Sebelumnnya…” Suara Tao memecah keheningan. “Bisa kau jelaskan, kenapa kau akan membunuhku?”

Yuri berbalik ke arah Tao dengan cepat. Matanya menampakkan kemarahan yang amat besar. “Apa kau gila?! Kau minta aku menjelaskannya?!” Suara gadis itu memantul di sekeliling dinding koridor. Ia terlihat sangat marah sekarang. “Tapi, baiklah. Aku akan dengan sabar menjelaskannya padamu.”

“—aku tidak tahu kenapa aku bisa menjadi orang yang sangat bodoh. Menerimamu untuk menjadi kekasihku. Padahal Taeyeon dan seluruh sahabat-sahabatku berkata bahwa kau adalah orang yang sangat berbahaya.”

“—tapi aku tidak percaya dengan mereka. Aku tetap mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Hingga akhirnya, aku jatuh ke sebuah lubang. Lubang gelap yang tidak berujung. Kau juga ada disana, tapi alih-alih menolongku, melihatku saja mungkin tidak.” Suara Yuri semakin lama menjelma menjadi sebuah isakan. Ia melanjutkan, “kau mungkin tidak ingat—dihitung dari banyaknya gadis yang sudah tidur bersamamu selama 5 tahun ini. Kau mungkin tidak ingat. Aku ada di antara gadis-gadis bodoh itu.”

“—malam itu, kita berdua ada di pesta Park Chanyeol. Kau dan aku sama-sama mabuk. Kita berdua sama-sama tidak sadar. Hingga akhirnya, di hotel itu, kau merenggut apa yang seharusnya tidak kau miliki. Catat, dariku.”

Pikiran Tao menerawang jauh. Ke kejadian 4 tahun yang lalu. Kejadian dimana ia masih resmi sebagai kekasih dari Lee Sunkyu—wanita di depannya. Ia tidak habis pikir, gadis ini kembali datang. Menemuinya. Untuk membunuhnya. “Tetapi… kau tidak apa-apa kan? Tidak ada yang terjadi kan?”

Wajah Yuri kembali memerah. “Apa kau bilang?! Kau bilang aku tidak apa-apa?!” Suara Yuri bergetar di lorong yang sepi itu. Ia mendekat ke arah Tao. “Aku hamil, Tao! Aku hamil!”

JDEERR!!!

Seolah mengerti suasana hati Yuri, petir mulai menyambar. Disusul dengan suara berat tetesan hujan.

“Kau… hamil?” Tao tidak percaya. Ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. “Tapi… kau tidak bilang!”

“Apa gunanya aku bilang?! Apa kau akan peduli?!” Bentak Yuri keras. Ia kembali melanjutkan ceritanya, “dan setelah aku menyadari ada yang berubah dengan tubuhku, aku langsung memberitahu kedua orangtuaku. Hingga akhirnya, mereka mendengarnya sendiri dari dokter. Kalau aku hamil.”

“Tidak banyak yang bisa kuingat saat itu. Penyakit jantung ayahku kambuh setelah mendengarnya. Beliau meninggal saat itu juga. Ibuku menjadi gila karena anak perawannya hamil dan suaminya meninggalkannya di usia yang masih belia. Dan ia meninggal setahun yang lalu—overdosis obat-obatan.”

“Kau tahu sesuatu, Huang Zi Tao? INI SEMUA KARENA DIRIMU! Jika kau tidak lahir di dunia ini, mungkin ini semua tidak akan terjadi!” Suara Yuri kembali menggema. Tao menatapnya dalam diam. “Setelah itu aku memutuskan untuk menjadi orang yang berbeda. Aku mencari dokter bedah plastik paling terkemuka di Seoul dan mulai untuk merubah keadaanku pelan-pelan. Aku juga berusaha keras untuk mengubur janin yang ada di perutku saat itu. Janin malang.”

“—karena aku baru sadar bahwa aku tidak punya sepeserpun uang untuk membayar operasiku, aku terpaksa membunuh sang dokter. Dan sejak saat itu, aku jadi punya hobi baru.”

Membunuh.” Sekonyong-konyong Yuri berbalik dan menjilat sebuah benda berkilat yang entah bagaimana bisa ada di tangannya. Tao yang menyadari itu langsung mundur ke belakang. Tubuhnya terbentur dinding koridor.

“Sunkyu, dengar. Ka-kau tidak perlu melakukan hal ini. Andai saja kau bilang waktu itu—”

“Terus apa, Zi Tao?” Yuri mengunci tubuh Tao dalam genggamannya. “Apa kau akan bertanggungjawab? Apa kau akan menghidupi bayimu itu?” Yuri menatap Tao intens. Matanya menjelajahi tiap lekuk wajah Tao. “Jawabannya tidak! Kau tidak akan sepeduli itu!”

Tao memandang manik mata Yuri dengan lirih. Ia tidak pernah menyangka bahwa sifat cassanova-nya, akan berakhir menjadi seperti ini.

Ia tidak tahu ia telah menghamili seorang gadis. Membunuh kedua orangtua gadis itu. Ia tidak pernah tahu.

Tao bukanlah seorang lelaki yang tidak bertanggungjawab. Apalagi dalam hal besar seperti ini. Ia tahu, meskipun dirinya sering mempermainkan wanita, sering berfoya-foya, tapi hal itu tidak dimaksudkan untuk membuat hidup seseorang hancur. Ia hanya melakukannya untuk kesenangan semata.

Tidak untuk membuat ibu seorang gadis menjadi gila.

Tidak untuk itu.

“Baiklah.” Tao menunduk. “Lakukan apa yang seharusnya kau lakukan. Aku… siap.” Ujar Tao getir. Tubuhnya melemas sekarang. Mungkin memang ia pantas mendapatkan ini.

“Dengan senang hati, Huang Zi Tao.” Yuri mengangkat pisaunya tinggi-tinggi. Bermaksud untuk membuat lubang besar di jantung Tao.

Tao menutup matanya perlahan. Ini akhir hidupnya. Bahkan ia belum minta maaf kepada Kris, Seohyun, dan kedua orangtuanya.

Ironis.

“Berhenti disana! Jangan bergerak!”

Tao membuka matanya dengan paksa setelah mendengar suara tersebut. Ia menaruh lengannya di depan wajahnya. Lampu-lampu menyala begitu terang—menyilaukan.

“Tao!” Terdengar jeritan seorang gadis dari balik lampu-lampu itu. Seo Joohyun.

Dan di sebelahnya, berdiri seorang lelaki tinggi yang hanya bisa tersenyum melihat Tao. Kris Wu.

“Kwon Yuri! Anda sudah tertangkap! Lemparkan semua senjata Anda dan angkat tangan!” Terdengar seruan berat seorang lelaki dari balik sebuah lampu. Polisi gemuk tadi.

Yuri dengan kaget mengangkat tangannya. Pisau tadi sudah tergeletak di atas lantai. Dengan perlahan, Tao keluar dari kuncian tubuh Yuri. Ia berlari dengan lega ke arah Kris dan Seohyun.

“Tao!” Mereka berdua serempak memeluk tubuh itu.

Singkat cerita, akhirnya Yuri berhasil ditangkap oleh polisi. Kini, petugas forensik sedang membenahi hadiah-hadiah dan keping-keping kaca pecah—ulah Yuri juga—untuk diperiksa lebih lanjut.

“Hei, Huang Zi Tao.” Terdengar suara Yuri kembali memanggil nama Tao. Polisi yang berjaga di sampingnya langsung siap-siap—takut kalau ada sesuatu yang terjadi dengan tawanannya.

Tao berjalan ke arah Yuri dengan santai—diikuti Seohyun dan Kris di sampingnya. Ia melihat ke arah kedua pergelangan tangan Yuri yang diborgol. Semuanya aman. “Ada yang bisa kubantu?”

Yuri hanya memasang senyuman sinis di bibirnya. Kemudian tatapannya beralih ke arah petugas-petugas forensik yang lalu lalang di koridor. “Boneka panda yang cantik itu… hadiah dariku. Tolong disimpan baik-baik. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang bisa mengantarkanku kepada ibu dan ayahku.”

Tao hanya mengangguk. Selang beberapa menit kemudian, Yuri digiring ke kantor polisi.

Suasana rumah Tao kembali seperti semula.

“Hei, Tao.” Kris melemparkan sebotol softdrink ke arah Tao yang masih memikirkan sesuatu. “Ada apa denganmu? Kami berdua baru saja menyelamatkan nyawamu dan kau tampak tidak bahagia.”

Tao menoleh ke arah Kris. Kepalanya masih dipenuhi dengan sesuatu. “Ada yang kupikirkan.”

“Apa itu?” Sahut Seohyun sambil menggigit potato chips-nya.

“Aku juga tidak yakin.” Tao menggosok-gosok rambutnya bingung. “Perkataan Yuri yang terakhir.”

“Boneka panda yang cantik itu… hadiah dariku. Tolong disimpan baik-baik. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang bisa mengantarkanku kepada ibu dan ayahku.”

            Apa maksudnya? Tao menggigit bibir bawahnya.

“Satpam dan pembantumu ternyata bodoh. Tidak ada yang tangguh sama sekali.”

            Perkataan-perkataan Yuri kini menghantui benaknya. Ada sesuatu yang mengganjal di otaknya.

“Aku lebih pintar dari yang kau pikirkan.”

“Apa kau masih ingat janjiku?”

            Tubuh Tao menegang. Ia menyadari sesuatu.

“Kris!” Ia menggoyang-goyangkan bahu Kris dengan panik. “Petugas forensik masih berada disini kan?”

Dengan gugup, Kris mengangguk. “Y-ya. Mereka masih di koridor. Membereskan apa yang telah Yuri lakukan. Mayat pembantu dan satpam-satpam-mu belum ditemukan. Ada apa?”

Rahang Tao mengeras. Ia menggertakkan giginya.

Tanpa menjawab pertanyaan Kris, Tao langsung melesat ke arah koridor. Ia sudah tidak peduli dengan alas kaki. Yang terpenting sekarang adalah, boneka itu.

“Maaf, Tuan. Anda tidak diperbolehkan masuk tanpa sepatu dan sarung tangan.” Tiba-tiba seorang polisi mendekatinya. Ia menahan tubuh Tao yang mendesak masuk.

“Ini penting, pak! Ini tentang Kwon Yuri!” Bentak Tao.

“Anda bisa menjelaskannya nanti di kantor, Tuan. Lebih baik sekarang—”

“Tidak bisa!” Tao menerobos masuk ke dalam koridor dorm pembantu. Tubuhnya terus berlari seiring dengan matanya yang mencari-cari benda mungil tersebut.

Aha! Itu dia! Tao berlari ke arah seorang petugas forensik bertubuh cungkring yang memegang plastik berisi boneka panda tersebut.

Tetapi, terlambat.

JDUAAAAARRRRRRRR!!!!!!!!!

-o0o-

BREAKING NEWS

Seoul (2/5) – Sebuah rumah mewah di daerah Gangnam-gu tadi malam baru saja menjelma menjadi abu. Rumah besar milik presiden direktur dari perusahaan Huang Madison Hill Corporation itu meledak, setelah terjadi aksi pembunuhan dan pembantaian yang dilakukan oleh pembunuh kawakan yang tadi malam sempat ditangkap—tapi buron kembali.

Untungnya, rumah-rumah disekitarnya tidak terkena dampak yang terlalu besar. Tetapi, nyaris seluruh penghuni rumah tersebut—ditambah dengan petugas polisi yang sedang membenahi tempat tersebut—menjadi korban dalam peristiwa naas ini.

Dikabarkan bahwa ada 3 korban penting dalam peristiwa ini.

Huang Zi Tao (20), anak dari presiden direktur Huang Madison Hill Corporation—yang nyaris menjadi korban pembunuhan si pelaku.

Kris Wu (23), pemilik hotel Seoul in Paradise yang juga merupakan kerabat baik Huang Zi Tao.

Seo Joohyun (22), anak dari pemilik Myungheedong Café, yang juga merupakan kekasih dari Huang Zi Tao.

            Seorang gadis dengan perlahan melipat koran tersebut. Jari-jari lentiknya mengelus gelas porselen di hadapannya—yang kemudian ia isi dengan teh manis panas.

Tubuhnya beranjak bangun dari sofa yang tadi di dudukinya saat merasa bahwa tehnya sudah habis tak bersisa.

Ia merapatkan jas dan kacamata hitamnya. Tidak ingin ada seorangpun yang mengenalinya disini.

Gadis tersebut berjalan keluar dari kafe tersebut. Ia menghirup udara musim semi Seoul yang begitu melegakan.

Bukankah ini akhir yang menarik, Zi Tao? Akhirnya kau pergi dengan tidak sopannya—mendahuluiku menemui ibu dan ayahku. Aku tidak sebodoh itu. Aku sudah tahu kalau polisi pasti akan datang. Aku tahu kalau Kris Wu dan Seo Joohyun adalah orang-orang yang cerdas. Beruntung sekali kau dikelilingi orang-orang sepintar itu.

            Dan soal hadiah… apa kau menyukainya? Aku sudah pernah berjanji kan akan memberikanmu sebuah boneka panda yang berbeda dari boneka panda lainnya di toko? Yah, meskipun itu hanya janji 5 tahun yang lalu.

            Selamat jalan, Huang Zi Tao. Hidupmu akan lebih baik disana.

Gadis itu tersenyum. “Happy birthday, Huang Zi Tao.

-o0o-

THE END

 

 

P.S
Okesip, plis jangan marahin saya._.Saya tau ceritanya jadi aneh dan maksa banget>< Maklumlah, saya membuat cerita ini hanya dalam waktu 2 jam #plak
Dan entah kenapa saya menghadiahi Akang panda kita dengan cerita phsyco begini._. #digebukintao
Dan setelah membuat Kyungsoo jadi psikopat, membuat Baekhyun jadi player, disini saya membuat Yuri yang seksi nan bohay itu (atau Sunny ya?) jadi pembunuh cerdas berdarah dingin #gubrak
Maaf banget atas ceritanya. Saya tahu maksa. Saya hanya berusaha membuat sesuatu untuk dipersembahkan kepada Huang Zi Tao.Happy birthdya, gege! Semoga hari ulang tahunmu tidak seperti cerita abal di atas ya!
NEED COMMENT. OR JUST CLICK ‘LIKE’ BUTTON.

Advertisements

26 thoughts on “[Special for Tao’s Birthday] Revenge in A Birthday

  1. Aku sukaaaa banget. Apalagi ada Sunnynya meski jadi Yuri sih. Yang kupertanyakan cuma tinggi badan Sunny aja #apaini. Pokoknya ceita ini daebak banget! Secara, aku suka banget thriller dan psycho, huahahahahahahaha

  2. Wohooo~~ Bagus.. bagus.. Daku mungkin juga bakal lebih milih menghadiahi bias FF ngenes daripada FF yang kiyut-kiyut #JDORRR

    Aku suka karakter Tao di sini.. Narasimu juga bagus, gak bikin bosen 😀

    Udah segini lagi aja ya, daku gatau mau ngomong apa XDD Lanjutkan nulis FF Psycho~~ Hoho~ #BUAGH

  3. Wuh ini pertama kalinya saya baca ff kamu :”) kece euy 😀
    ini beberapa typo :
    1. “Selamat malam, pak polisi.” — it’s better to using “Selamat malam, Pak.” Pak Polisi itu sedikit bahasa yang terlalu nggak umum dikatakan oleh orang yang ketemu orang yang emang jelas-jelas udah polisi *nah loh* XD
    2. coklat terlihat sanga resah. — sangat
    3. Ia telah membunuh dokter bedah dan operasi plastik — nggak perlu ‘dan’ kok, dokter bedah operasi plastik itu memang ada. bisa berarti dia khusus operasi plastik bisa berarti dia adalah dokter bedah dan operasi plastik.
    4. Kini, ia sedang berbaring di tempat tidurnya yang king size — better kalau “Kini, ia sedang berbaring di tempat tidur king size-nya” supaya lebih efektif 🙂
    5. sudah membalasnya, tapi belum mendapatkan respon balik dari yang Kris. — Dari yang kris?
    6. boneka pan da — boneka panda
    7. “Sebelumnnya…” — “Sebelumnya…”
    8. “kau mungkin tidak ingat — setelah ‘,’ jika yang digunakan adalah kata ganti orang seperti ‘aku / kau / kami / kita / kalian’ harus huruf besar jadi itu ‘Kau’
    9. suaminya meninggalkannya di usia yang masih belia — ini ambigu XD suaminya itu bisa berarti untuk Sunny bisa berarti untuk ibunya. Kalau untuk Sunny Tao kan bukan suaminya, dan kalau untuk ibunya kata ‘usia belia’ nggak match.-. mengesankan ibunya itu masih anak-anak. mungkin di ‘usia muda’ bisa 😀

    keep writing yah 😀
    keren banget loh ceritanya :”)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s