Unfriend You

unfriend-you

 

Unfriend You

Author
pearlshafirablue

| Choi Junhong/ Zelo [B.A.P], Lee Hayi/ Hi [YG’s Soloist] |
AU, Fluff, Friendship, Romance
Ficlet (800w+), General

“This story is belongs to me—no matter what. All of the characters are God’s and themselves’s. They didn’t gave me any permission to use their name in my story. Once fiction, it’ll be forever fiction. I don’t make money for this.”

Summary
Lee Hayi tidak pernah menyadari betapa berharganya Choi Junhong di dalam hidup gadis itu.

A/N
Ini fic yang udah lama aku buat dan kurevisi ulang. You’ll find this at here.

Thanks a lot to LILA who make this amazing poster!

-o0o-

“Jangan ganggu aku, Junhong!” Hayi meremas wajah Junhong yang daritadi mengemis padanya. Junhong spontan mundur dan langsung menggosok-gosok bekas tapakan telapak tangan Hayi dengan kesal.

Aish, ayolah! Kenapa kau jadi menyebalkan begini, sih?!” Sungut lelaki bermarga Choi tersebut.

“Siapa yang kau bilang menyebalkan?! Pergi ke toilet dan pandangi cermin lama-lama! Biar kau tahu siapa yang menyebalkan.” Protes Hayi tak kalah ketus. Jemari gadis itu terus menari di atas keyboard laptop keluaran Cina yang berdiri kokoh di hadapannya. Tugas dari Ahn Seongsaenim jelas membuat gadis kelahiran Bucheon itu nyaris gila. Dan kegilaannya benar-benar sudah tidak bisa ditoleransi ketika sahabatnya sekaligus teman sekelasnya sejak masa kanak-kanak mulai meminta yang aneh-aneh.

“Hayi! Kali ini saja! Aula jaraknya hanya dua lantai dari kelas!” Junhong kembali merengek. Padahal lelaki itu memiliki puluhan teman dan ratusan penggemar seantero sekolah, tapi entah kenapa ia selalu memaksa Hayi untuk melakukan ini-itu.

Hayi bergeming. Pandangannya tetap fokus pada layar laptop yang kini menampilkan sederetan angka dengan latar belakang hitam.

Menyadari bahwa perkataannya tidak digubris, tanpa banyak berpikir Junhong menutup laptop Hayi dengan keras hingga terdengar sebuah dentuman kecil. Hayi terkesiap. Ia melebarkan matanya dan langsung menatap Junhong dengan tajam.

Ya! Apa maksudmu?! Kau tahu apa yang barusan kau lakukan?!” Pekik Hayi seraya bangkit dari duduknya. Ia melotot ke arah Junhong yang tengah duduk di atas meja yang terletak tepat di depan meja Hayi.

“Kubilang, temani aku ke aula.” Tuntut Junhong tanpa ekspresi. Ia menyilangkan kakinya yang dibalut seragam sekolah dan kembali menatap lantai.

“Dasar tukang paksa!” Ketus Hayi kesal. Lagi-lagi melemparkan sebuah death glare ke arah Junhong. “Kau tahu Choi Junhong? Selama lima tahun ini aku berusaha sabar untuk menghadapi kekasaran dan keegoisanmu padaku. Aku nyaris gila setiap kali kau menuntutku untuk melakukan ini dan itu. Apa kau pikir aku ini boneka pesuruhmu? Apa karena kau sudah menyelamatkanku dari kecelakaan tempo hari berarti kau bisa terus menyuruh-nyuruhku?”

Keadaan kelas sunyi senyap saat itu. Tidak ada satupun anak yang bersuara saat Hayi mulai mengeluarkan unak-unaknya. Termasuk Junhong. Lelaki yang sudah jadi sahabat Hayi selama lima tahun itu hanya dapat bungkam dan menatap Hayi tidak percaya.

“Apa yang kalian lihat?!” Manik mata Hayi kini berotasi ke arah segerombol anak yang tengah menatapnya dalam diam. Kelima anak yang merupakan teman sekelas Hayi itu buru-buru menoleh ke arah yang lain saat iris hazel-nya mulai menilik mereka satu per satu.

“Ha-Hayi a-aku tidak percaya dengan apa yang barusan kau ucapkan. De-dengar, aku—”

“Jika kau mencariku untuk menyudahi persahabatan kita, aku ada di taman belakang sekolah. Mengerjakan tugas yang baru saja kau hancurkan.” Desis Hayi kasar sembari merapikan barang-barangnya yang tercecer di atas meja.

Gadis itu berjalan melewati meja guru dan saat jemari-jemari putihnya mulai menyentuh kenop pintu, sebuah suara membuyarkan konsentrasinya,

“Aku tidak mau sulit-sulit untuk mencarimu ke taman, kita sudahi di sini saja.” Vokal khas milik Junhong mengisi relung telinga Hayi secara mendadak. Setiap kata yang diucapkan lelaki itu barusan tidak hanya menusuk pendengarannya, hatinya pun terasa disembilu. Hayi mematung sesaat. Dan saat menyadari bahwa tidak ada yang terjadi setelahnya, ia kembali melanjutkan langkah dan sosoknya kemudian hilang menyusul suara debam pintu yang ditutup keras.

-o0o-

Seorang gadis bersurai hitam terlihat tengah berjalan menyusuri lorong Sekolah Hannyang. Gadis tersebut nampak sibuk dengan pikirannya. Berkali-kali ia mengejapkan mata dan kemudian membukanya lagi dengan setetes cairan bening di ekor matanya.

“Junhong, kau bodoh!” Dan kali ini gadis itu bergumam. Ia mengusap wajahnya yang nampak kuyu. Bila ada manusia lain yang melihatnya dengan keadaan sedemikian rupa, ia berasumsi akan dianggap tidak waras.

Lee Hayi tidak pernah menyadari bahwa beginilah rasanya kehilangan sahabat yang telah bersamanya selama bertahun-tahun. Ia tidak menyadari bahwa kehilangan orang yang telah mengisi hari-harinya dengan paksaan dan tuntutan bisa memberikan efek samping yang begitu besar di hati kecilnya.

Junhong memang tukang paksa. Ia juga bodoh dan tidak punya sopan santun. Tapi meskipun begitu, Junhonglah yang telah menyelamatkan Hayi dari kecelakaan beberapa tahun silam yang berhasil merenggut nyawa kedua orang tuanya. Hayi besar bersama Junhong. Dirawat oleh keluarga Junhong. Dan kini ia tidak tahu harus tinggal dimana jika Junhong benar-benar ‘menyudahinya’.

Junhong yang telah menemaninya dan memberinya semangat di masa keterpurukan Hayi karena kehilangan kedua orang tuanya. Junhong pula yang mengemis kepada keluarganya agar mau merawat Hayi. Ia berhasil tumbuh hingga sebesar ini juga karena Choi Junhong.

Dan hanya karena masalah kecil yang kesannya childish sekali semuanya kandas begitu saja?

Hayi menghentikan langkahnya saat sebuah aroma aneh menyambangi indera penciumannya. Ia menoleh sesaat. Dan mendapati pintu aula Sekolah Hannyang sedikit terbuka. Hayi yakin bebauan harum yang kini tengah membius dirinya berasal dari dalam ruangan besar tersebut.

Bukankah tadi Junhong memintaku untuk menemaninya ke aula? Hayi terpekur sesaat. Rasa penasaran sudah membuncah di hatinya. Tanpa banyak basa-basi gadis itu melangkahkan kakinya ke dalam aula.

Gadis itu kembali terperanjat.

Sweet Alyssum.

Puluhan bunga berbatang pendek tersebut menyebar di segala penjuru aula. Dugaannya benar, aroma harum yang kini tengah menyengat indera penciumannya adalah aroma Alyssum. Ia menghirup baunya banyak-banyak. Sweet Alyssum adalah bunga kesukaan gadis bermarga Lee tersebut.

Hayi mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. Aula Hannyang telah disulap menjadi taman Alyssum yang sangat indah. Dan tanpa ia sadari sebuah lengkungan kecil terbentuk di bibir tipisnya.

Semua ini perbuatan Junhong.

Hayi menapaki karpet merah yang telah digelar hingga membentuk sebuah rute menuju ke tengah-tengah ruangan. Pandangannya kemudian menangkap sebuah meja bundar yang dilapisi taplak putih bercorak merah. Sebuah kertas berwarna sama teronggok tepat di tengah-tengah permukaan meja. Hayi nyaris menyentuhnya sampai sebuah suara berat menginterupsi kegiatannya.

“Halo.”

Hayi otomatis menoleh ke arah sumber suara. Didapatinya Junhong sedang berdiri tepat di tribun di depannya. Pandangan lelaki itu terpaku pada kedua iris hazel Hayi.

Ya! Apa yang kau lakukan disitu?!” Seru Hayi. “Cepat turun dan jelaskan semua ini.” Ucapnya sambil tersenyum.

“Bukankah tadi aku sudah menyudahi persahabatan kita?” Junhong tidak menggubris perkataan Hayi. Sekonyong-konyong air muka Hayi berubah. Senyumannya hilang seketika.

“A-aku—”

“Itu kulakukan karena aku tidak ingin kita hanya bersahabat.” Lagi-lagi perkataan Junhong membuat hati Hayi berdegup tak keruan. Gadis itu menelan air liurnya banyak-banyak—berusaha mencerna keadaan.

“A-apa maksu—”

“Jawab pertanyaan yang ada di dalam kertas itu.” Junhong kembali menginterupsi perkataan Hayi. Jarinya menunjuk sesuatu di hadapan Hayi. Pandangan gadis itu mengikuti arah tunjukan Junhong. Kertas putih tadi.

Perlahan jemari Hayi menggapai kertas tersebut. Aroma Alyssum kembali memberikan sensasi di hidungnya. Hayi membuka lipatan pada kertas itu. Dan manik matanya menangkap sederet tulisan di tengah-tengah kertas.

            Would you be my girlfriend?
a. Yes
b. A
c. B

Ya! Dasar tukang paksa!”

.the end.

P.S
Akhirnya fic ini bisa kurevisi ulang:’3 maklumlah bahasa dulu alay dan zadul banget. DAN FYI AJA SIH INI FIC JUNYI(?) PERTAMAKU :3 Maaf kalo fluff-nya gak ngena. Saya tidak ahli dengan yang satu ini. #sip
DON’T FORGET TO DROP A COMMENT!

Advertisements

39 thoughts on “Unfriend You

  1. iseng-iseng baca fict ini aja sih soalnya tertarik sama cast-nya yang enggak mainstream/? xD dan cast-nya kebetulan 2 bias aku xD fict-nya lucu >.< bahasanya simple tapi greget banget xD nice~~ keep writing ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s