Perhaps Forever

perhaps forever

Perhaps Forever

Author
pearlshafirablue

| Lee Sunkyu/ Sunny (GG), Kim Joonmyun/ Suho (EXO-K) |
Angst, Romance
Vignette, Teen

“All of the characters belong to God and themselves. They didn’t gave me any permission to use their name in my story. Once fiction, it’ll be forever fiction. I don’t make money for this.”

Summary
Kesalahpahaman membuat hubungan Lee Sunkyu dan Kim Joonmyun mungkin terjalin selamanya.

A/N
Warning! Fic curhat!

2013 © Perhaps Forever

-o0o-

Kau bodoh ya, Lee Sunkyu?

.

.

.

Pagi hari telah tiba. Sinar matahari mulai menerobos masuk melalui tirai-tirai tipis berwarna ungu yang mengelilingi dinding kamar Sunkyu. Gadis itu mengedipkan matanya. Berusaha menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk ke dalam pupil gadis berambut cokelat muda tersebut.

Perlahan, tubuh mungil itu bangkit. Ia mulai mengangkat kedua tangannya, berusaha untuk meregangkan otot-otot tubuhnya yang mulai kaku karena sudah 8 jam tidak bergerak dari tempat tidurnya yang dilapisi seprai merah.

Gadis bersurai cokelat muda itu kemudian berjalan ke arah sebuah pintu kayu yang berjarak tidak jauh dari tempat tidurnya. Ia mengambil handuk, dan perlahan sosoknya menghilang di balik pintu kayu yang tak lain adalah pintu kamar mandi.

Tak sampai setengah jam, gadis itu sudah berada di pantry dengan sebuah celana pendek dan kaus baseball putih bergaris merah terpatri di tubuhnya. Jemari-jemari kecilnya mengaduk secangkir teh hijau.

Semuanya berlangsung wajar. Kegiatan yang ia lakukan saat ini tidak jauh berbeda dengan aktivitas hariannya setiap pagi. Mandi, membuat sarapan, berangkat kuliah… semuanya terasa sama. Ia juga sudah biasa membuat teh hijau dengan campuran sari lemon, dan mengaduknya menggunakan kayu manis.

Hanya saja bedanya, kali ini ia hanya membuat satu cangkir.

Angin semilir meniup anak-anak rambut Sunkyu hingga ia harus berkali-kali menyibaknya agar tidak menghalangi indera penglihatannya bekerja. Gadis itu kini tengah menikmati teh hijau di teras belakang rumahnya, menunggu hingga jam kuliahnya tiba. Sunkyu adalah satu-satunya penghuni rumah besar bercat putih tersebut. Orang tua dan seluruh keluarga besarnya menetap di Jeju, termasuk Lee Eunkyu dan Lee Jinkyu—dua kakak perempuan Sunkyu.

Sedangkan Sunkyu memutuskan untuk merantau ke Seoul, berusaha keras untuk mendapatkan gelar sarjana di jantung Negara Korea Selatan tersebut.

“Pagi, Danshin[1]!”

Tiba-tiba sebuah suara yang sangat memuakkan memaksa masuk ke dalam relung telinga Lee Sunkyu. Gadis itu menoleh ke belakang, dan mendapati sesosok pria berkulit putih berbalut kemeja garis biru tipis tengah memamerkan sederetan gigi yang sewarna dengan kulitnya. Sebenarnya tanpa menolehpun Sunkyu tahu siapa pemilik suara itu.

“Apa yang kau lakukan di sini, Joonmyun?” Dumal Sunkyu ketika pria itu—Joonmyun—duduk di kursi kosong di hadapannya tanpa izin.

“Kenapa kau jadi galak seperti ini, sih?” Joonmyun mencubit pipi tembam Sunkyu hingga gadis itu mengerang kesakitan.

“Tentu saja karena kau sebentar lagi akan meninggalkanku.” Sunkyu mengerucutkan bibirnya sementara wajahnya mulai mengatur ekspresi seimut mungkin.

“Aku sudah kebal dengan aegyo-mu itu, Choi Danshin.” Kekeh Joonmyun pelan. Iris hazel-nya kemudian menelusuri permukaan meja kayu di depannya, “Loh? Mana teh hijauku?!”

“Oh? Kau masih mau mau teh buatanku?” Sunkyu menyeruput teh hijaunya seraya mengerling ke arah Joonmyun dengan ekspresi datar.

Joonmyun memicingkan matanya, “Apa maksudmu?”

“Ah tidak. Lupakan.” Sunkyu buru-buru menggeleng. Ia meletakkan cangkirnya di atas tatakan berwarna senada dan kemudian memutar pandangannya ke arah hamparan rumput gajah yang tertanam di halaman belakang rumah gadis itu.

Kedua manik mata Joonmyun mengikuti arah pandangan Sunkyu. Perlahan senyap menyelimuti keduanya.

“Apakah akan ada yang berbeda bila nanti aku pergi menikah, Sunkyu?” Tiba-tiba suara lembut Joonmyun memecah kesunyian.

Sunkyu melirik sebentar ke arah pria itu dengan ekor matanya, perlahan gadis itu menyahut, “Tentu saja! Semuanya akan jadi terasa berbeda, Joonmyun. Kau akan menjadi suami dan ayah sekaligus, kau sudah tidak bisa main-main lagi. Kau memikul tanggung jawab yang besar.”

“Aish, bukan itu maksudku,” protes Joonmyun seraya menoleh ke arah Sunkyu yang lantas menautkan kedua alis coklat ranumnya. “Apakah mungkin… akan ada yang berubah di antara kita?”

Sunkyu terkesiap. Gadis itu bergeming di tempat. Pikirannya kembali dipenuhi oleh hal-hal yang belakangan ini selalu menghantui dirinya. Memori-memori lama yang selalu terpatri dengan jelas di benaknya kembali terputar bagai film hitam putih. Joonmyun adalah sahabat sehidup-sematinya sejak taman kanak-kanak. Mereka sudah 8 tahun bertetangga, 8 tahun menjadi teman sekelas, dan 8 tahun pula merajut persahabatan yang sampai detik ini tetap bertahan.

Setiap Sunkyu bermasalah dengan Luhan—mantan kekasihnya—pastilah Joonmyun selalu ada di sisinya. Alih-alih memberi solusi, lelaki itu malah lebih sering tertawa mendengarkan cerita konyol mengenai gadis itu dan pria berkewarganeraan Cina tersebut. Tapi tetap saja, senyum dan tawa Joonmyun seolah bisa mengobati segala penat di hatinya.

Sunkyu dan Joonmyun memiliki tempat spesial yang amat sangat rahasia di sekitar rumah mereka (meskipun sebenarnya nyaris seluruh penghuni kompleks tahu), mereka sering sekali bersembunyi di sana bila sedang main petak-umpat dengan anak-anak kompleks lainnya. Mereka berdua juga tidak jarang menyiram kebun bersama, yang malah berakhir dengan perang-perangan air—membuat masing-masing orang tua mereka marah besar. Sunkyu dan Joonmyun juga seringkali belajar bersama, meskipun yang ada Joonmyun malah menyetel Xbox milik Sunkyu dan memainkannya hingga mereka mendapat nilai C keesokan harinya.

Sunkyu dan Joonmyun seolah tidak dapat dipisahkan. Kendati mereka seringkali menghadapi perselisihan dan pertikaian, tidak ada satupun yang bisa menggoyahkan persahabatan yang sudah mereka pilin sekian lama. Termasuk kekasih mereka sendiri.

Tetapi nyatanya, sebuah lamaran berhasil membuat mereka terbelah menjadi dua entah untuk berapa lama. Joonmyun memutuskan untuk menikah, dengan seorang gadis yang merupakan hoobae mereka di universitas bernama Bang Min Ah. Sialnya, Joonmyun dan Min Ah memutuskan untuk menetap dan melanjutkan kehidupan mereka di Busan, jauh dari Seoul—juga dari Sunkyu.

Ya! Kenapa kau bertanya seperti itu sih? Cengeng sekali!” Sunkyu meninju lengan atas Joonmyun. Mereka berdua terkekeh sebentar, dan sejurus kemudian keheningan kembali mengisi ruang kosong di antara mereka.

“Hei, bukankah seharusnya hari ini kau fitting baju?” Sunkyu kembali bersuara. Dan siapapun yang berada mendengar pertanyaannya barusan pasti tahu bahwa suara gadis itu sedikit tercekat dan terdengar serak.

“Ah, itu tidak terlalu penting.” Gumam Joonmyun membuang napas. “Danshin, apa kau yakin akan baik-baik saja di sini tanpa aku?”

“Apa menurutmu aku selemah itu?” Sahut Sunkyu ketus. “Kau hanyalah sahabatku, Joonmyun-ah. Eh, bukan ‘hanya sahabat’ sih, melainkan sahabat yang benar-benar sahabat. Aduh, aku jadi bingung dengan ucapanku sendiri. Kau sih!” Sunkyu kembali meninju lengan Joonmyun dengan kaku. Kemudian bibirnya membentuk senyuman tipis. “Percayalah, seorang Lee Sunkyu yang cantik dan tidak pendek akan selalu baik-baik saja tanpa Kim Joonmyun yang jelek, bau dan cengeng. Karena selama ini Lee Sunkyu dan Kim Joonmyun bersahabat. Lee Sunkyu sangat menyayangi Kim Joonmyun—meskipun Sunkyu tahu bahwa hal ini sangat memalukan untuk diakui, tapi memang begitulah kenyataannya. Sunkyu juga tahu bahwa Kim Joonmyun sangat mengagumi dirinya yang sangat cantik dan—”

Ya! Kenapa ucapanmu jadi ngelantur?!” Protes Joonmyun ditengah-tengah khotbah Sunkyu. Sunkyu hanya terkikik dan kembali melanjutkan perkataannya.

“Sunkyu dan Joonmyun bersahabat. Dan selamanya akan tetap jadi sahabat. Sekalipun Sunkyu menikah dengan lelaki paling tampan di dunia, tetapi Sunkyu tetap sahabat Joonmyun. Perasaan Sunkyu tidak akan pernah bisa berubah. Sunkyu tidak akan melupakan Joonmyun. Meskipun Joonmyun jelek dan bau, tapi Sunkyu bersumpah untuk tidak akan pernah menggantikan Joonmyun di sisinya. Karena sekali lagi, Sunkyu dan Joonmyun bersahabat. Selamanya.”

Angin musim semi kembali menerbangkan helai-helai rambut cokelat muda Sunkyu. Gadis itu melebarkan senyumnya, berusaha meyakinkan Joonmyun yang tengah menatapnya tanpa ekspresi. Gadis itu menarik ketiga jarinya, membuat sebuah V-Sign di tangan kanannya.

“Begitukah?” Suara Joonmyun terdengar sangat lirih. Sunkyu terperanjat. Gadis itu tak melepaskan pandangannya dari wajah Joonmyun yang semakin lama semakin terlihat pucat.

Beberapa detik kemudian Joonmyun bangkit. Terdengar suara derit yang sedikit menyakitkan ketika kursi di dorong ke belakang. Joonmyun melangkah keluar dari pekarangan belakang rumah Sunkyu, sebelum dirinya menginjak tangga terbawah, kepalanya perlahan menoleh, “Sudah kuduga. Selama ini kau hanya menganggapku sebagai sahabat ya? Ah, mungkin kau tidak pernah tahu rasanya, Sunkyu. Menyukai seorang gadis yang selalu berada di dekat kita selama 4 tahun lebih. Menyukai gadis yang sangat menyebalkan dan cerewet. Menyukai gadis yang bahkan dengan polosnya mencurahkan isi hati mengenai kekasihnya di depanku.”

Sunkyu mematung. Pernyataan Joonmyun menusuk gendang telinga Sunkyu. Darahnya berdesir keras. Sementara otaknya berusaha keras untuk mencerna keadaan.

“Kau tidak tahu rasanya ketika aku harus terpaksa tertawa mendengarkan pertengkaran konyolmu dengan Luhan. Kau juga tidak tahu ‘kan rasanya melihatmu menangis malam itu karena Luhan. Apa kau pikir aku benar-benar tertawa saat itu? Mengejekmu cry baby dan terus mengataimu selama seminggu lebih. Aku hanya berusaha, berusaha membuatmu mengerti bahwa di dunia ini ada seorang pria yang tidak akan pernah membuatmu menangis.” Joonmyun mengulum senyum kecut. Perlahan pria itu berjalan menapaki rumput gajah pekarangan rumah Sunkyu dan berjalan menuju teras belakang rumahnya—yang hanya terpaut 10 meter dari rumah Sunkyu.

“Dan, oh! Jangan lupa hadiri pernikahanku besok, ya!”

Sunkyu mengangguk lemah mendengar ucapan terakhir Joonmyun. Gadis itu terus memandangi punggung Joonmyun yang semakin lama semakin mengecil dan pada akhirnya tertelan jarak.

Apa setelah ini kita akan baik-baik saja, Joonmyun?

Joonmyun salah. Jika ia mengira hanya ia pihak yang tersakiti, maka ia benar-benar sudah salah besar. Apakah ia tidak pernah menyadari semuanya? Menyadari bahwa Sunkyu selalu memandangi pria itu dari jendela kamarnya? Menyadari bahwa Sunkyu mengarang skenario hubungannya dengan Luhan agar ia bisa menyadari perasaan Joonmyun sebenarnya?

Sunkyu berharap Joonmyun mengelus rambut dan mengucapkan kata-kata manis kepadanya ketika ia berusaha keras untuk menangis agar mendapatkan perhatian pria itu. Ia berharap bahwa Joonmyun menghajar Luhan hingga babak belur dan mendekap gadis itu erat dan berkata kepadanya bahwa tidak ada pria yang bisa menyakitinya lagi. Ia berharap bahwa Joonmyun sayang padanya. Sayang bukan hanya sebagai sahabat. Lebih dari itu.

Sunkyu tidak pernah tahu bahwa Joonmyun punya perasaan yang sama dengannya. Percayalah, ia tidak pernah sadar. Joonmyun selalu sama. Selalu usil, menyebalkan dan… perhatian.

Kenapa Joonmyun tidak pernah mengakuinya?

Kenapa Joonmyun memilih untuk mencari gadis lain ketimbang mengatakannya terlebih dulu dan menunggu jawaban dari Sunkyu?

Joonmyun lagi-lagi salah. Ia salah jika ia bersumpah tidak akan pernah membuat Sunkyu menangis. Lihatlah sekarang. Genangan air menumpuk di kelopak mata Sunkyu.

Semuanya sudah terlanjur terjadi. Sunkyu tidak bisa merubah apapun. Termasuk persahabatannya dengan Joonmyun. Tidak sedikitpun.

Karena sejak dulu atau mungkin sampai selamanya,

.

.

.

Sunkyu dan Joonmyun adalah sahabat.

.the end.

P.S
Fic gagal. Tumben banget aku pengen bikin angst padahal sama sekali gak berbakat di genre ini 😦 Diksinya aja sederhana banget dan bahasanya gak keru2an-_- maklum aku lagi pengen curhat(?) emang aslinya bukan anak galau jadi gak terlalu jago bikin fic angst. DON’T FORGET TO DROP YOUR COMMENT!^^

Advertisements

11 thoughts on “Perhaps Forever

  1. Suka benget endingnya, Aku lebih suka ending yang berjalan mulus dan masuk akal gini dari pada tiba2 sahabat mempelai pria datang dan mengungkapkan cintanya di depan altar dan membatalkan pernikahan. Kenyataan kan g kyk gtu. Malah yg ini keren banget! Sesuai dan wajar! Daebak!

  2. Aaaaaa bete, kenapa gak jadian aja sih..
    Huhu ketika dapet feel nya tau tau udah end aja, bikin ff SunMyun lagi ya thor keke

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s