[Drabble] Missed Person

missed person

Missed Person

written by pearlshafirablue

Main Casts: You, and INFINITE’s Sungyeol | Minor Casts: none
Angst, AU, Romance
Drabble (500w+), General

Lee Sungyeol is belongs to God and himself. He didn’t give me any permission to use his name on my story. Once fiction, it’ll be forever fiction. I don’t make money for this.”

{Ada kalanya cinta mirip dengan komunikasi yang terhubung dalam telepon. Ada panggilan masuk, panggilan keluar. Dan kadang. ada juga panggilan tak terjawab}

Missed Person © Pearlshafirablue

Awan berarak, menemani matahari di siang yang berangin ini. Langit tak cerah, tak mendung pula. Hanya terlihat senyuman tipis dari si Raja Siang.

Aku duduk tenang di atas ayunan yang terus berdecit, meratapi tanah-tanah kecokelatan di bawah kakiku. Menghiraukan cicitan burung gereja yang terdengar seperti mengusirku.

Aku tidak lupa—terkecuali jika kepalaku terantuk batu keras dan mengalami amnesia permanen—sebuah hal yang membawaku pergi ke sini. Sendiri, hampa.

Decitan besi tua yang sudah beroksidasi terus menyambangi indera pendengaranku, membuatku semakin merasa kosong.

Kalau tidak salah, sekitar satu jam yang lalu, kali terakhir aku menatap mata kelabunya. Alisnya di sisir rapi, wajahnya dipoles bedak, dan tubuhnya dibalut kemeja putih formal lengkap dengan jas hitam dan dasi kupu-kupu. Aku tidak pernah melihat dia tersenyum seindah itu, ketika sebuah tangan putih bak porselen menyampir di lengannya—saling bertautan.

Aku sendiri tak begitu ingat, kali pertama mataku bertemu tatap dengan matanya. Kalau tidak salah sekitar 5 tahun yang lalu, di sini. Di tempat ini.

Hei, apa yang kau lakukan di sini? Terlalu larut untuk seorang gadis berkeliaran di tempat sesepi ini.”

“Ya! Apa kau tidak mendengarkanku?

“Oh, maaf, Tuan. Tadi kau bicara apa?”

“Astaga, kau sedang mendengarkan musik ternyata.”

“Err… iya. Ada apa ya?”

“Wah! Apa itu musik klasik? Kau penggemar musik klasik?”

Aku masih ingat kalimat-kalimat sok kenalmu pada saat itu. kau duduk di sebelahku, tak menggubris kenyataan bahwa tempat duduk ayunan itu terlalu kecil untuk kita berdua. Aku baru sadar saat itu, ketika memandangi senyum dan tatapan teduhmu saat mendengarkan lagu Mozart dari iPodku.

Aku menyukaimu.

Sekali lagi aku tak ingat, sejak kapan kita menjadi dekat. Siapa yang menyangka bahwa kita ada dalam fakultas yang sama, teknik lingkungan. Dengan hobi dan kesukaan yang sama pula, menyanyi dan mendengarkan musik klasik.

Waktu terus bergulir, membiarkanku terus terlena dengan pesonamu. Sudah nyaris 3 tahun, sampai aku ingat bahwa kita berdua sama-sama akan lulus. Menjadi seseorang yang akan banyak berguna untuk orang lain.

Yang aku ingat, saat itu kau mengambil S2 di luar negeri—aku tidak ingin ingat di mana. Dan saat itu kau berjanji padaku. Kita akan bersama nanti.

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan selanjutnya. Kujalani keseharianku tanpamu. Awalnya terasa berbeda, tapi aku tak bisa melulu mengandalkanmu. Aku akhirnya terbiasa sendiri.

Aku tidak mengerti, waktu terasa berjalan lebih cepat saat itu. Kau kembali. Tapi tidak dengan jawaban atas janji yang pernah kau selipkan di hatiku. Dengan orang lain.

“Aku akan menikah!”

“Apa…?”

“Ini undangan pernikahanku. Maaf baru mengabarimu seminggu sebelum pernikahanku. Sungguh, aku benar-benar tak ada waktu saat di Berlin.”

Aku tetap tidak mengerti. Apa yang sebenarnya terjadi?

Yang aku tahu sekarang kau sudah mengikat janji suci dengan orang lain—jelas bukan diriku. Aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri saat bibir ranummu bertautan dengan bibir gadis bernama Eunji itu di depan altar, di depan ratusan manusia yang tengah menangis haru untukmu.

Aku ingat. Ingat dengan jelas saat mulutku mengeluarkan kata selamat untuk kalian berdua. Aku sangat mengingatnya.

Dan aku juga ingat saat bedakku luntur, dialiri air mata kebahagiaan—entahlah.

Kau tidak pernah mengungkapkan kata cinta kepadaku. Tak pernah menawariku untuk menjadi bagian dari hidupmu. Apa mungkin aku saja yang merasa bahwa kau memberiku harapan? Oh, tentu saja tidak. Kau sama sekali tidak salah. Aku saja yang terlalu banyak bermimpi.

Ada kalanya cinta mirip dengan komunikasi yang terhubung dalam telepon. Ada panggilan masuk, panggilan keluar. Dan kadang ada juga panggilan tak terjawab.

Mungkin aku salah satu dari panggilan tak terjawab itu.

Yang jelas, awan tetap harus beranjak. Matahari tetap harus terbit. Angin harus tetap berembus. Karena, di antara gumpalan-gumpalan debu dan gas di atas sana, terselip sebuah jawaban, atas penantianku.

fin.

Advertisements

10 thoughts on “[Drabble] Missed Person

  1. Missed Called.
    Panggilan tak terjawab.
    Cinta tak terbalas. Meskipun nyesek tetep aja ya, kisah cinta macem ini banyak juga yang ngegandrungin. Termasuk aku.
    Aduhhhhh Ilaaaaaaaaaaaaaaaa kasian banget itu kasiaaaaan huhu ;w;

  2. Haiii~~ lagi blogwalking dan tertarik dengan komunikasi-lewat-telepon yang cukup ampuh untuk menyayat hati *cielah*

    Uhm, ini drabble jadi pasti singkat yah. Tapi sumpah ini ngena banget </3 dan suka banget lihat psoternya, si sungyeol ganteng hihihi :mrgreen:

  3. Aaakkk, sedih banget :’) nyesek baca ff dengan alur cinta yang nggak kebalas kayak gini. Penggambaran suasananya bikin aku ngerasain apa yang dirasain oc itu. Kereen kaa 😀 two thumbs up!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s